Koleksi Gambar Bokep Import @ ramon84.org
ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Once Upon A Winter in Beijing

Saat itu, bulan Januari 2000 di
Beijing, suasana tahun baru
masih terlihat mewarnai kota
berpenduduk 12 juta orang itu.
Selama liburan musim dingin itu
banyak teman-teman dekatku
termasuk roomate-ku yang
pulang. Aku tidak pulang karena
waktu libur musim panas 6
bulan sebelumnya aku baru
pulang, sekalian menghemat
biaya, apalagi saat itu rupiah
sedang terpuruk.
Aku mengisi waktu luang selama
sebulan lebih itu dengan tour
ke kota-kota di selatan yang
cuacanya relatif lebih hangat
seperti Hongkong, Shenzhen,
dan Guangzhou. Sepulangnya ke
Beijing, liburanku ternyata
masih tersisa lebih dari
seminggu. Sisa hari yang sepi
dan membosankan itu kuisi
dengan main PS, nonton VCD,
dan jalan-jalan ke mall. Aku
sering berkhayal bagaimana
rasanya dingin-dingin gini ada
cewek cantik yang menemaniku.
Akhirnya pada suatu ketika
terwujud juga impianku. Suatu
hari aku sedang berjalan-jalan
di Xidan, salah satu pusat
perbelanjaan di sana (sebagai
info, harga barang di sini
sangat murah, asal pintar
menawar kita bisa
mendapatnya dengan setengah
harga). Lelah setelah berkeliling
dan belanja seharian, aku
memasuki restoran KFC untuk
mengisi perut.
Ketika aku sedang makan,
kudengar suara orang
berbicara dalam bahasa
"ndonesia, ternyata suara itu
berasal dari 2 gadis cantik
duduk tidak jauh di sampingku.
Yang satu tinggi langsing,
berambut panjang kemerahan,
bermata sipit, dan yang
satunya lagi berambut sebahu
lebih dikucir. Aku tadinya
bermaksud menyapa, namun
kutunda niatku setelah
kudengar mereka sedang
membicarakan diriku.
Dengan sikap pura-pura cuek,
kusimak percakapan mereka.
"Eh, Len, liat ngga cowok yang
sendirian disana tuh, ok juga
yah.." kata yang rambut
panjang.
"Gile lu, suaranya keras amat,
kalo dia denger gimana..?"
"Fang xin lah (tenanglah), biar
denger juga dia ngga ngerti
kok." (ternyata mereka tertipu
oleh wajah Chineseku yang mirip
orang sana, ditambah lagi
penampilanku waktu itu yang
mirip orang lokal).
"Hhmm.., lumayan juga sih,
rambutnya mirip Nicholas Tse,
gatal ya Rik, gara-gara udah
lama ngga ketemu si Edwin."
Aku berusaha menahan tawaku
dengan menutup mulut atau
melihat ke arah lain. Lalu aku
sengaja lewat di depan mereka
dan menyapa dengan ramah.
"Hai, anak "ndo juga nih..!"
Mereka kaget setengah mati
terutama yang berambut
panjang itu, wajahnya memerah
dan tertunduk malu, yang
rambutnya dikuncir melirik pada
temannya sambil tertawa kecil.
Singkatnya, perkenalan kami
berlanjut dan kuketahui yang
berambut panjang kemerahan
itu bernama Rika, umur 22
tahun, sebaya denganku dan
yang satunya bernama Sharlen,
umur 20 tahun. Mereka berdua
sudah setahun belajar bahasa
di sini. Senang sekali akhirnya
aku dapat ngobrol panjang
lebar dengan bahasa "ndonesia
lagi. Habis makan kami
berkeliling menikmati suasana
senja kota Beijing yang masih
diselimuti salju.
Walaupun baru kenal, namun
kami begitu cepat akrab,
mungkin karena faktor senasib
sepenanggungan di negeri lain.
Sifat Sharlen yang kalem dan
wajahnya yang imut seperti
Kyoko Fukada membuatku jatuh
hati padanya, aku berusaha
untuk lebih mengenalnya lebih
dalam. Tidak terasa waktu
cepat berlalu, sehingga
sekarang sudah hampir jam 9
malam. Taksi yang membawa
kami tanpa terasa pula sudah
mendekati apartemen mereka
di daerah Xueyuan Lu.
"Her, mau liat-liat tempat kita
ngga? Temenin tuh si Sharlen,
dia kan pengen punya pacar."
kata Rika sambil tertawa.
"Idihh, siapa yang mau, lu kali
Rik." balas Sharlen menyikut
temannya.
"Lain kali deh, takut kemalaman.
Tempat gua masih jauh sih."
jawabku berbasa basi.
"Aahh, takut amat sih malam
juga masih ada taksi kok, lagian
Beijing kan aman ngga kaya
"ndo." kata Rika.
"Iya Her, kita juga lagi suntuk
nih, banyak yang pulang sih."
sambung Sharlen.
Akhirnya aku memutuskan
mampir di tempat mereka dulu.
Sebelum ke apartemennya,
mereka membawaku mengitari
daerah sekitar yang merupakan
daerah kost dan sekolah
pelajar-pelajar mancanegara
itu. Udara menjadi hangat dan
tercium aroma khas kamar
cewek begitu kumasuki kamar
mereka yang tidak terlalu
besar namun tertata rapih
(beda dengan kamarku yang
mirip kapal pecah).
"Eh, lu orang ngobrol aja dulu,
gua mau berendam dulu yah."
kata Sharlen, lalu dia mengambil
handuk dan menuju ke kamar
mandi.
Sepeninggal Sharlen, aku dan
Rika ngobrol-ngobrol sambil
nonton TV. Rika orangnya agak
bawel dan kocak, kami
terhanyut dalam gelak tawa
obrolan kami, dari situ
kuketahui bahwa dia sudah
punya pacar di "ndonesia,
kukorek keterangan lebih
lengkap mengenai Sharlen,
thanks God ternyata Sharlen
belum ada yang punya, jadi
terbuka kesempatan bagiku
untuk mendapatkannya.
20 menit kemudian Sharlen
keluar dari kamar mandi dengan
memakai piyama ungu,
rambutnya kini terurai sampai
sebahu, wajahnya tetap
menawan walaupun tanpa
make-up.
"Rik, udah tuh, ngga mandi lu..?"
tanya Sharlen.
"Ok, gua mau berendam bath-
tub dulu nih, lu duaan pacaran
dulu gih..!" godanya sambil
ngeloyor ke kamar mandi.
Sementara Rika mandi, aku
melakukan pendekatan
terhadap Sharlen, ditemani
acara TV dan minum Red Wine
sebagai penghangat badan kami
ngobrol dengan penuh
keakraban.
Sharlen orangnya agak
pendiam, namun omongan kami
terasa cocok, kupancing dia
dengan kisah-kisah lucu agar
dia menampakkan senyumnya
yang indah. Ternyata Sharlen
orang yang tidak kuat minum,
beberapa gelas red wine
membuat wajahnya memerah
dan bicaranya mulai ngelantur.
Aku mengambil gelas dari
tangannya dan menyuruhnya
berhenti minum, kusarankan
agar dia tidur saja, namun
mendadak dia menjatuhkan
dirinya ke pelukanku.
Aku hendak membetulkan
posisinya, namun uupps.. secara
tidak sengaja aku malah
memegang payudaranya yang
terasa kenyal itu. Kutatap
wajahnya yang manis dengan
matanya yang sayu akibat
mabuk, bibirnya yang tipis dan
indah itu sungguh menggodaku.
Nafsuku mulai bangkit,
kuberanikan diri memeluknya
lebih erat, sesuai harapanku dia
balas memeluku. Kusandarkan
dia ke pinggir sofa, di dekat
telinganya kubisikkan kata-kata
romantis bahwa aku menaruh
hati padanya. Wajahnya makin
memerah mendengarnya,
dengan penuh perasaan
kukecup lembut keningnya.
Setelah kontak mata, sejenak
kutempelkan bibirku pada
bibirnya, sepertinya aku
mendapat respon positif
darinya. Dia melingkarkan
tangannya pada leherku dan
mulutnya membuka menyambut
lidahku untuk beradu. Kancing
atas piyamanya kubuka dan
kuselipkan tanganku ke dalam
piyamanya, karena dia tidak
memakai BH. Tanganku tidak
mendapat halangan untuk
menjelajahi payudaranya
dengan melakukan remasan dan
mempermainkan putingnya
hingga kurasakan puting mungil
kemerahan itu mengeras.
Kubuka semua kancing
piyamanya sehingga dapat
kulihat jelas kedua payudara
Sharlen yang putih montok
berukuran 34C. Aku
menindihnya sambil terus ber-
French Kiss, buah dadanya
kuraba-raba dan kugesekkan
kemaluanku yang menempel
tepat pada kemaluannya.
Tubuhnya menggelinjang dan
kurasakan napasnya yang mulai
tidak teratur. Sekarang kami
bertukar posisi menjadi aku di
bawah dan dia di atasku,
ditanggalkan piyamanya lalu
menaikkan sweatter dan
kaosku. Dijilatinya putingku
sementara tangannya mengelus
dada dan daerah
selangkanganku.
Sedang asyik-asyiknya
berciuman, tiba-tiba pintu
kamar mandi terbuka dan Rika
keluar dengan memakai gaun
tidur sambil menyisir rambutnya
yang agak basah. Dia
tercengang melihat
pemandangan di depannya,
begitu juga aku. Sharlen dalam
keadaan topless dengan
tanganku di atas payudaranya,
tidak ada alasan apapun untuk
mengelak.
Sharlen dengan nada mabuk
malah berkata, "Hai, Rik ngapain
kok bengong sih..?"
Setelah hilang rasa kagetnya,
Rika mulai tersenyum dan
mendekati kami.
"Eh, sepertinya lu lagi butuh
penghangat ya Len, gimana kalo
lu jadi penghangat kita berdua
Her..?"
Habis berkata, dia
menanggalkan dasternya dan
menyisakan sebuah celana
dalam merah muda.
Tubuh Rika tidak kalah indahnya
dari temannya, payudaranya
kencang berisi walaupun tidak
sebesar milik Sharlen
(berukuran 32B). Dia juga
memiliki sepasang paha jenjang
dan mulus. Aku memberikan
tempat di sebelah kiriku
padanya, jadi sekarang posisiku
sedang di antara dua gadis
cantik. Secara bergantian aku
mencium dan meraba-raba
tubuh mereka, mereka pun
tidak kalah agresifnya
membalas dengan melucuti satu
persatu pakaianku. Aku
melumat bibir Sharlen dan
tanganku menyusup ke balik
celana piyama dan CD-nya, di
sana kurasakan bulu-bulu halus
dan kemaluannya yang sudah
berlendir, bibir dan lidahku mulai
menjelajahi leher dan pipinya
yang halus lalu turun ke
payudaranya.
Sementara itu tanganku yang
satu lagi meremas-remas
payudara Rika yang sedang
merunduk dan membuka
resleting celanaku dan
mengeluarkan batangku yang
sudah tegang, dimainkannya
batangku dengan kocokan,
jilatan, serta kulumannya.
Setelah beberapa saat aku
ingin ganti dikaraoke Sharlen
dan merasakan tubuh Rika,
maka kuraih kepala Sharlen
mendekati penisku. Tanpa harus
kusuruh lagi benda itu sudah
dilahapnya dan menjadi
permainan lidahnya. Tidak
kusangka ternyata Sharlen
yang seperti gadis lugu itu
sangat ahli dalam hal ini
(belakangan kutahu dia pernah
petting dan oral sex bersama
mantan pacarnya dulu).
Di saat yang sama aku sedang
menikmati percumbuan dengan
Rika, tanganku bergerilya
menelusuri keindahan tubuhnya.
Sesampainya di bawah, kutarik
lepas CD minimnya, kulihat
kemaluannya yang masih rapat
dihiasi bulu kemaluan yang rapih
dan tidak terlalu lebat. Harum
tubuhnya menyebabkan
nafsuku makin membara,
tanganku memegangi kedua
payudaranya, kuhisap-hisap dan
kusentil-sentilkan putingnya
dengan lidahku. Tubuhnya
mengelinjang disertai desahan
merasakan kenikmatan yang
yang tiada tara.
Kemudian Rika berlutut di sofa
dan mendekatkan kemaluannya
padaku. Dengan penuh
perasaan kuciumi dan kujilati
kemaluannya itu, lidahku
membelah bibir kemaluannya
mencari-cari klistorisnya. Dia
mengerang sambil meremas
rambutku dikala kujilat dan
kusedot kemaluannya. Ketika
sedang enak-enaknya
menikmati vagina Rika,
mendadak kurasakan batangku
mau meledak dan tepat ketika
Sharlen sedang
mengeluarkannya dari mulut
dan mengocoknya,
menyemburlah maniku
membasahi wajah dan tangan
Sharlen. Dia menjilati sperma di
sekitar mulutnya, lalu bersama
Rika dia menjilati batangku
sampai bersih.
"Eh, mendingan pindah aja ke
ranjang kita yuk, di sini sempit
ngga enak..!" kata Rika memberi
usul.
Kubantu Rika menggeser kedua
ranjang di ruang itu hingga
menyatu agar medan tempur
menjadi lebih luas dan nyaman.
Lalu kugendong Sharlen menuju
ke ranjang yang sudah
disatukan itu, kubaringkan dia
di sebelah Rika yang sudah
menunggu sambil berbaring
menyamping. Begitu naik
ranjang, langsung kulucuti
celana piyama dan CD-nya,
sekarang seluruh keindahan
tubuh Sharlen tertampang jelas
di depanku, kemaluannya
dipenuhi bulu-bulu hitam lebat,
segaris luka jahitan (akibat
terkena pecahan kaca waktu
kecil) pada betis kirinya tidak
sedikit pun mengurangi
kemolekan tubuhnya.
Kedua paha jenjang Sharlen
kurenggangkan dan kuarahkan
batangku yang sudah licin oleh
ludah dan sisa maniku pada
liang kemaluan Sharlen.
"Pelan-pelan Her, dia masih
perawan loh..!" kata Rika.
Dengan perlahan aku
mendorong batangku memasuki
vaginanya. Ternyata benar
kata Rika, liang itu benar-benar
sempit walaupun sudah dibantu
ludah dan cairan kemaluan.
Untuk kedua kalinya kucoba lagi
mendobrak benteng
keperawanannya, kali ini jari-
jariku membuka bibir
kemaluannya, sementara
tanganku yang lain membimbing
batangku memasuki liang itu.
Nampaknya usahaku mulai
membuahkan hasil, sedikit demi
sedikit batangku mulai
tertanam dan kurasakan
jepitan yang kencang dari
dinding vaginanya. Sharlen
merintih menahan sakit sambil
mencengkram lengan Rika di
sebelahnya dan menggigiti bibir
bawahnya. Setelah masuk
setengahnya, langsung kutekan
dalam-dalam dan kurasakan
batangku membobol suatu
selaput, Sharlen pun menjerit
kesakitan seiring dengan
menetesnya sedikit darah dari
kemaluannya. Kupeluk dia untuk
menenangkannya, nampak air
mata menetes dari matanya.
Sambil kubiarkan batangku
menancap, aku bercumbuan
dengannya agar dia dapat
membiasakan diri dulu.
Aku menyeka air matanya yang
menetes lalu aku mulai
menggoyangnya pelan-pelan.
Tidak lama kemudian Shalen
nampak mulai terbiasa dan
menikmati permainanku, karena
itu aku semakin mempercepat
gerak maju-mundurku. Sharlen
terus mendesah sambil
menggigiti jarinya dan
meremas-remas sprei,
sementara di sebelah kami Rika
sedang menonton sambil
bermain dengan payudara dan
kemaluannya sendiri.
Setelah 25 menit kami berganti
gaya, kusuruh Rika tidur
telentang dan Sharlen
telungkup di atasnya dengan
posisi doggy. Kembali
kumasukkan batangku dan
menggenjotnya, tanganku
bergantian meremas-remas
pantat Sharlen dan mengobok-
obok vagina Rika. Payudara
Sharlen ikut berayun-ayun
seirama gerakan badannya dan
putingnya saling bersentilan
dengan puting Rika. Saking
horny-nya, mereka juga
berciuman dan bermain lidah,
adegan ini membuat suasana
bertambah hot dan gairahku
memuncak.
Beberapa saat kemudian tubuh
Sharlen mulai mengejang dan
menjerit, "Aaahh.. Her.. enakk..
aakkhh..!"
Akhirnya dia mencapai orgasme
pertamanya, cairan cintanya
menyelubungi batangku
sehingga terasa hangat dan
licin. Cairan itu mengalir deras
membasahi kemaluan kami.
Sungguh suatu kenikmatan
yang luar biasa, lebih nikmat
daripada ketika ML dengan
mantan pacarku dan teman
Korea-ku yang sudah pulang ke
negaranya.
Kemudian aku berbaring dan
memeluk Sharlen sambil melumat
bibirnya. Tanpa melepas ciuman
tangannya, diam-diam dia
meraih batangku dan diarahkan
ke vaginanya. Sharlen melepas
ciumannya lalu berjongkok di
atas batangku. Tangannya
membimbing batangku memasuki
liang vaginanya, kunikmati
setiap inci batangku memasuki
vaginanya dengan meremas
payudaranya sampai tertancap
seluruhnya.
Sebelum memulai dia tersenyum
dulu padaku dan menyeka
keringat di dahiku. Kumulai
ronde ini dengan menyentakkan
pinggulku ke atas yang
dibalasnya dengan gerakan naik
turun dan desah
kenikmatannya.
Rika menciumku dan berkata,
"Her, sekarang bayar dulu
hutanglu yah..!"
"Hutang? Hutang apaan..?"
tanyaku bingung.
"Ini loh, pekerjaan lu yang
belum beres tadi." jawabnya
sambil menaiki wajahku sehingga
kemaluannya hanya beberapa
cm dari wajahku.
Tanpa ngomong apa-apa lagi
langsung kulahap kemaluan Rika
yang sudah becek itu, lidahku
menari-nari mempermainkan
klistorisnya dan jari-jariku
bertugas mengobok-obok liang
vaginanya. Lidahku kukeraskan
agar dapat masuk sedalam
mungkin ke dalam vaginanya,
sehingga menyebabkan
goyangannya makin liar.
Tidak lama kemudian, "Aduh..
Rik.. Her.. gua.. keluar..!"
Sharlen menjerit pertanda
mencapai orgasme. Tubuhnya
menggelinjang sambil tangannya
meremas payudara Rika yang
berlutut di depan
membelakanginya. Dan tidak
urung Rika pun ikut menjerit
karena bersamaan dengan itu
dia juga mencapai klimaks, dan
kemudian aku menyusulnya
dengan menyemburkan
spermaku di dalam rahim
Sharlen. Kami bertiga orgasme
dalam waktu yang hampir
bersamaan, erangan
kenikmatan sahut menyahut
memenuhi kamar ini (untung
saja temboknya cukup tebal
untuk meredam keributan di
sini).
Rika menjambak rambutku dan
menjepit kepalaku dengan
kedua belah pahanya dengan
kencang, sehingga membuatku
gelagapan disamping akibat
semprotan cairan cintanya. Rika
rebah di sampingku, begitu juga
Sharlen, tubuh kami sudah
basah bermandikan keringat.
Saat kucabut kemaluanku,
kulihat benda itu sudah
berlumuran berbagai cairan baik
sperma, ludah, cairan cinta, dan
darah keperawanannya.
Aku lalu ke kamar mandi untuk
membersihkan kemaluanku.
Begitu keluar kudapati Rika
yang masih bugil sedang duduk
di sofa dan memegang gelas
berisi red wine.
"Rik, Sharlen gimana..?"
tanyaku.
"Udah teler tuh, lu temenin gua
minum aja sini." katanya.
Aku lalu melihat Sharlen sudah
tertidur pulas akibat kelelahan
dan mabuk. Dengan tissue kulap
keringat di dahinya dan
kemaluannya yang basah oleh
berbagai cairan. Lalu kuselimuti
dia sampai ke leher, setelah
mengecup bibirnya kutinggalkan
dia dan menghampiri Rika.
"Uuff.. capeknya, bagi minumnya
dong Rik..!" kataku sambil
menjatuhkan diri di sofa.
Dituangkannya segelas wine
untukku, kami lalu melakukan
EtoastE dan meminumnya sampai
habis.
"Gimana barusan, Sharlen hebat
ngga..?" tanyanya membuka
percakapan.
Aku hanya mengangguk karena
masih lelah.
"Walah.., jawabnya kok lemes
amat, udah ngga kukuh nih
ye..?" katanya.
"Lemes Rik, daritadi lu cuma
jilat-jilat aja sih makannya
masih seger."
"Ya udah, kalo gitu sini gua
bikin seger lagi deh..!" tawar
Rika.
Disuruhnya aku duduk
membelakangi, lalu dia pijat
pundak dan punggungku.
Pijatannya lumayan enak,
seterusnya tangannya maju ke
depan mengelus dadaku,
menempelkan dadanya di
punggungku. Dia melakukan
EThai MassageE dengan
menggesek-gesekkan dadanya
di punggungku, hal ini
menyebabkan gairahku mulai
bangkit kembali, terutama saat
tangannya mulai turun dari
dada menuju daerah
selangkangan, apalagi sesekali
dia menjilat leherku.
"Gimana, udah agak segar
belum..?" tanyanya dekat
telingaku.
Lama-lama batangku mulai
menggeliat kembali, dengan
tiba-tiba kubalikkan badanku,
lalu menerkamnya dengan buas
dan menindihnya. Secepat kilat
bibirku menyambar bibirnya
sebelum dia sempat
menyelesaikan kata-katanya.
"Eehh, ngapain ka.. eemhh..!"
Buah dadanya kugerayangi
sambil terus berciuman, dia pun
memelukku erat-erat dan
membalas permainan lidahku.
Setelah agak lama ber-French
Kiss, aku mengambil botol wine
yang isinya tinggal sedikit itu.
"Rik, wine-nya tinggal dikit buat
gua aja yah..?" kataku.
"Gile, gua sama Sharlen apa
belum cukup, masih kedinginan
juga lu..?"
"Hehehe.. bukan gitu Rik, tapi
wine ini bakal tambah enak
kalau dicampur.." aku tidak
menyelesaikan perkataanku.
"Hah, dicampur sama apa sih..?"
tanyanya tidak mengerti.
"Pernah dengar nggak kalau
arak bagus dan wanita cantik
adalah kenikmatan hidup..?"
kataku menyeringai.
"Eh, Her, lu jangan macem-
macem yah..!" katanya sambil
mundur sampai pinggir sofa.
"Sini Rik, gua jelasin
maksudnya..!" kutarik tubuhnya
lalu kutumpahkan wine itu mulai
dari leher hingga
selangkangannya.
"Oohh, gila lu Her.. jangan..
enngghh.." desahnya ketika
kujilati tubuhnya yang telah
mandi wine itu.
Lidahku bermain-main menjilati
kulit lehernya yang berlumuran
wine, setelah itu turun menuju
buah dadanya dimana
kurasakan kenikmatan Esambil
menyusu minum arakE mulutku
terus turun menjilati wine di
tubuhnya hingga kujilati
kemaluannya yang mengandung
Elove juice wineE itu.
Permainan lidahku pada
tubuhnya membuatnya ribut
mendesah. Sesudah menikmati
Ewine rasa RikaE (atau ERika
rasa wineE), kududukkan dia di
pangkuanku dengan posisi
membelakangi. Kubimbing
batangku memasuki vaginanya,
sedangkan tangannya
membukakan bibir vaginanya
seakan mempersilahkan milikku
untuk memasukinya. Sedikit
demi sedikit akhirnya, "Bleess.."
menancaplah seluruh batangku
pada lubang itu, tidak begitu
sulit menerobosnya karena dia
sudah tidak perawan.
Kami mulai memacu tubuh kami.
Sambil menggenjot tanganku
meremas-remas payudaranya
dan memainkan putingnya,
mulutku juga aktif menjilati
leher, tenguk, dan telinganya,
terkadang Rika menengokkan
wajahnya untuk berciuman.
Tangan kirinya kuangkat,
kepalaku menyelinap ke samping
dan menyapukan lidahku pada
daerah ketiaknya yang bebas
bulu.
"Aaahh.. eemhh.. gila Her..
aawww.. geli..!" desahnya sambil
meronta-ronta.
"Aakhh.. oohh hao shuang
(nikmat)..!" Rika mendesah
panjang dan menggoyangkan
pantatnya lebih kencang.
Tangan kami saling
menggenggam dengan erat, lalu
kurasakan batangku makin
hangat dan basah oleh cairan
cintanya, dia telah orgasme.
Rika berbaring di sofa untuk
beristirahat. Aku mendekatkan
batangku yang masih berdiri
tegak di dekat wajahnya.
Rupanya dia mengerti
maksudku, dan menggelengkan
kepala.
"Jangan Her, jangan sekarang.
Gua istirahat dulu..!" katanya
memelas.
Tanpa memperdulikannya,
kupegang kepalanya dan
kudekatkan mulutnya dengan
kepala penisku.
"Ayo dong Rik, cuma bersihin
doang kok..!" desakku.
"Ngga mau, pokoknya gua.
Hhmpphh..!" kata-katanya tidak
sempat diselesaikannya karena
keburu kujejali dengan penis.
Lama-kelamaan dia mulai
menikmati batangku, diemutnya
benda itu serta dijilati sampai
bersih dari sisa-sisa cairan
cinta. Agar tidak cepat-cepat
orgasme, kusuruh dia berhenti,
dia pun melepas batangku dari
mulutnya. Sekarang kuangkat
tubuh Rika dengan kedua
kakinya melingkari pinggangku.
Kembali kumasukkan batangku
ke dalam vaginanya, kusetubuhi
dia dalam posisi berdiri. Tubuhku
kusentak-sentakkan dengan
agak kasar sehingga
membuatnya menjerit-jerit dan
merem-melek tidak karuan.
Kedua buah dadanya yang ikut
tergoncang-goncang sesekali
kuhisap.
Setelah 15 menit dalam posisi
ini, aku mulai merasa berat oleh
tubuhnya karena tenagaku
selain dipakai untuk menggenjot
juga dipakai untuk menopang
tubuhnya, oleh karena itu kami
beralih ke ranjang. Kedua
kakinya dikaitkan ke bahuku,
aku terus menyodok-
nyodokkan penisku. Rika
terlihat sudah kewalahan,
rintihan yang keluar dari
mulutnya makin lama makin
lemas saja.
Beberapa menit kemudian
akhirnya dia mencapai
orgasmenya. Begitu kulepas
batangku dia langsung terkulai
lemas, lalu kukocok batangku
dekat wajahnya sampai
spermaku muncrat di wajahnya.
Dia sepertinya sudah terlalu
lelah sampai tidak menghiraukan
cairah putih kental yang
membasahi wajahnya serta
mengalir turun ke mulut dan
lehernya.
Aku pun roboh di sebelahnya,
kulihat Sharlen masih tertidur
pulas seolah-olah tidak terusik
oleh keributan kami tadi.
Sedangkan Rika terbaring lemas
dengan tubuh basah kuyup
keringatan, rambut panjangnya
pun sudah acak-acakan,
matanya menatap langit-langit
tanpa mengeluarkan suara apa
pun selain desah napasnya yang
sudah ngos-ngosan. Buah
dadanya naik turun mengikuti
napasnya.
Kemudian Rika memanggil
namaku dengan suara lemah,
"Her.."
"Kenapa Rik..?" jawabku sambil
menggenggam tangannya.
"Udah malam, lu tidur di sini aja
ya..!" tawarnya.
Aku pun menerima tawarannya,
karena badanku memang sudah
lemas setelah menggarap 2
gadis sekaligus dalam waktu
semalam, bisa-bisa menuruni
tanggapun tidak sanggup.
Setelah kutarik selimut
menutupi tubuhku dan Rika, aku
langsung terlelap dan aku juga
tidak tahu sudah jam berapa
saat itu karena alam mimpi
sudah begitu kuat menarik
diriku.
Keesokan paginya aku
terbangun sekitar pukul 09.00
pagi, Sharlen masih terlelap di
sebelahku tapi Rika sudah tidak
di sampingku lagi. Aku
merasakan kebelet ingin buang
air kecil gara-gara semalam
kebanyakan minum. Segera aku
menuju ke kamar mandi,
ternyata Rika sedang mandi
karena kudengar suara
percikan shower dari dalam.
Karena sudah terbiasa dengan
tubuh telanjang kami dan sudah
saling merasakan, makanya aku
cuek saja mengetuk pintu.
"Rik, boleh masuk ngga, gua
kebelet nih..!" kataku.
"O lu Her.., buka aja ngga
dikunci kok..!" sahutnya dari
dalam.
Kudapati Rika sedang
menyabuni tubuhnya di bawah
siraman shower, aku dengan
tenang menuju kloset dan
memenuhi panggilan alam.
"Cao an (pagi), Rik, rajin juga lu
dingin-dingin gini sering mandi."
kataku.
"Gara-gara lu sih Her, badan
gua jadi bau alkohol sama peju."
Sambil pipis aku memperhatikan
tubuh telanjangnya yang basah
oleh guyuran air dan sabun,
rambutnya penuh oleh busa
shampo. Tanpa sadar aku
terpana mengagumi keindahan
tubuhnya padahal air pipisku
sudah tidak keluar lagi. Rupanya
dia sadar sedang kupandangi
sehingga dia berinisiatif
menawarkan diri.
"Ke sini aja Her kalo mau mandi
bareng, emangnya gua gambar
bokep yang cuma bisa ditatap
aja..?"
Tentu saja aku tidak menolak
tawarannya.
Aku mendekatinya, dan dari
belakang kupeluk pinggangnya
yang ramping, tubuhku
kurapatkan dengan tubuhnya
sehingga batangku tertekan ke
pantatnya. Sambil meraba buah
dadanya yang sudah licin oleh
sabun aku mencium bibirnya,
tanganku yang satunya turun
mengelus-elus bagian
selangkangan menyebabkan
Rika mendesis nikmat.
"Mau coba main belakang..?"
tanyaku di dekat kupingnya, dia
hanya mengangguk pertanda
setuju.
Rika menyandarkan kedua
tangannya pada tembok dan
aku menekan-nekankan
batangku agar dapat masuk ke
dalam duburnya. Ternyata
lubang itu luar biasa sempit,
setelah mencobanya beberapa
kali aku baru berhasil
mendobraknya. Rika merintih-
rintih menahan sakit saat
kupaksakan batangku memasuki
duburnya. Aku mulai memaju-
mudurkan pantatku sambil
tanganku bergerilya di pelosok
tubuhnya, samar-samar rintihan
kesakitan Rika mulai berubah
menjadi rintihan nikmat,
pinggulnya pun kini bergoyang-
goyang membalas gerakanku.
Melalui cermin besar di sebelah
kami dapat kulihat adegan seks
kami di bawah siraman shower.
Akhirnya kami mencapai klimaks
bersama dan kukeluarkan
spermaku di punggungnya. Rika
membalikkan badannya dan
tersenyum, namun bukan ke
arahku, melainkan ke arah
Sharlen yang berdiri di ambang
pintu. Aku sempat kaget, aku
tidak tahu sejak kapan dia di
sana dan menonton adegan
kami.
Tanpa berkata apa-apa dia
juga tersenyum ke arah kami
dan berjalan mendekat, this is
not the end of the game, kami
siap memulai babak selanjutnya.
Demikian akhirnya kami mengisi
liburan yang tersisa dengan
pesta sex.
Sebulan kemudian aku resmi
jadian dengan Sharlen di
tempat yang cukup romantis,
yaitu Yihe Yuan (Summer
Palace), taman kerajaan yang
merupakan salah satu objek
wisata di Beijing. Bulan
Desember 2000 yang lalu aku
kembali ke tanah air dan
mendapat kerja. Sebulan
kemudian Sharlen dan Rika
menyusul karena situasi
"ndonesia sudah cukup kondusif.
Bulan Maret 2001, Rika menikah
dengan pacarnya dan sekarang
sedang mengandung anak
pertamanya. Hubunganku
dengan Sharlen banyak
mengalami pasang surut, namun
kami masih dapat mengatasi
perbedaan antara kami, bahkan
semakin dekat.
Untuk Rika, thanks ya, karena
kamu telah banyak membantu
menyatukan kami dan menjadi
sahabat yang baik, selamat
menempuh hidup baru yah.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net