Koleksi Gambar Bokep Import @ ramon84.org
ramon84.net
CERITA MAKCIAT
The Hottest LiveShow

Nama saya Erwin (23 tahun),
WNI keturunan yang tinggal di
Bandung dan kuliah ekonomi
manajemen di Universitas
Maranatha. Kuliahku agak
tersendat karena keranjingan
membantu orang tuaku
menjalankan usaha percetakan
keluarga kami, jadi SKS-nya
kuambil sedikit-sedikit biar tidak
semerawut. Dalam materi aku
sama sekali tidak ada masalah,
begitupun halnya dalam
pergaulan, statusku membuat
orang-orang mudah dekat
denganku, terutama wanita,
sudah beberapa kali aku gonta-
ganti pacar dan hampir semua
pernah ML denganku. Orang
tuaku sudah mempercayai
perusahaan ini sepenuhnya
padaku sehingga mereka bisa
menikmati hari tuanya dengan
santai dengan bepergian ke
luar negeri atau mengunjungi
sanak saudara lainnya. Aku
mempunyai seorang cici yang
sudah menikah dan ikut
suaminya, jadi sekarang aku
tinggal sendirian di rumah yang
megah ini mengurus bisnis
sekaligus kuliah.
Kejadian gila ini terjadi pada
bulan Agustus 2004 yang lalu.
Waktu itu aku baru putus
dengan pacarku, dalam
kesepian itu kalau sudah tidak
ada kerjaan aku menghibur
diriku dengan nonton bokep,
clubbing (tapi tidak sering
karena besoknya harus bangun
pagi-pagi, malu dong bos
kesiangan), ataupun main
internet berjam-jam. Suatu hari
aku membaca cerita-cerita
ceritaseru, disitu aku
menemukan hiburan yang
menggairahkan, aku sangat
terkesan dengan cerita-cerita
karya penulis wanita seperti Lily
Panther, Citra Andani, Dania,
Deknas, dll dimana wanita-
wanita itu terlibat dalam seks
liar, ternyata wanita jaman
sekarang tidak kalah berani
dari pria. Lalu aku sampai pada
cerita berjudul Kejutan Untuk
Teman-temanku yang
memberiku inspirasi
mengadakan acara gila ini.
Terbayang-bayang dalam
pikiranku dimana cewek putih
cantik, sexy, dan imut dikerjai
oleh cowok-cowok kasar, tua,
hitam, dan jelek yang statusnya
lebih rendah darinya, sungguh
suatu kekontrasan seks yang
menggairahkan.
Aku kemudian mulai memikirkan
rencana untuk mewujudkan
fantasi liarku, rencanaku
mencari cewek-cewek dari
kalangan teman-temanku untuk
diadu dengan buruh-buruh
bawahanku. Yang pertama
harus kulakukan adalah mencari
ceweknya dulu, karena cukup
sulit dan perlu lobi-lobi yang
jitu, kalau untuk prianya itu sih
nanti saja, kemungkinan
menolaknya pasti kecil, cuma
satu banding sepuluh. Besoknya
aku kuliah siang dan
membicarakan hal ini dengan
seorang teman wanita yang
pernah ML denganku, hasilnya
nol, ditolak mentah-mentah. Aku
jadi malu dan hampir
mengurungkan niatku, tapi
bintangku mulai bersinar di
waktu malam ketika ngedugem,
di sana aku bertemu Santi (22)
dan Sandra (22) yang juga
sefakultas denganku, mereka
akrab denganku maka aku
tanpa tendeng aling-aling
mengutarakan maksudku pada
mereka. Mulanya mereka
merasa risih dengan ideku, tapi
setelah susah payah kurayu-
rayu, akhirnya Santi bangkit
juga gairahnya membayangkan
hal itu, sedangkan Sandra,
meskipun masih ragu-ragu,
akhirnya mengiyakan juga
karena kudesak terus (duhO
kaya salesman aja nih !).
Setelah puas ngedugem, aku
mengantar Santi pulang
(Sandra naik mobil sendiri),
sambil menyetir Santi sempat
mengoralku sampai keluar dan
dihisapnya habis.
Berikutnya aku mencari
seorang lagi untuk lebih meriah,
kutelepon beberapa teman
yang pernah kencan denganku
dan mereka-mereka yang
bispak (bisa pakai). Dari tiga
orang yang kuhubungi akhirnya
ada juga yang setuju yaitu
Ivana (23), mahasiswi Sastra
Inggris yang pernah pacaran
singkat denganku, kebetulan
waktu itu dia baru putus
dengan pacarnya. PhewO
akhirnya jerih payahku dengan
menebalkan muka tidak sia-sia.
Kini tinggal mencari cowoknya,
aku keliling pabrikku untuk
menyeleksi kandidat yang pas,
lima orang saja kurasa cukup,
kalau terlalu banyak takutnya
berabe, bisa ada kasak-kusuk
ga enak. Sebentar saja aku
sudah mendapatkan lima
kandidat itu, pilihanku jatuh
pada : Pak Andang, seorang
buruh tua berumur lima puluhan
yang telah bekerja sejak usaha
kami masih kecil-kecilan, kurasa
pantas dia menerima hadiah ini
mengingat pengabdiannya,
meskipun berusia senja dan
sudah mulai beruban, tubuhnya
masih tetap fit karena terbiasa
kerja keras; Pak Usep, usianya
sebaya dengan Pak Andang,
sudah menduda, jadi kupikir
inilah saatnya sekali-sekali
memberi upah biologis padanya;
Mang Nurdin, berusia empat
puluhan, badannya kekar dan
berisi, inilah yang menjadi
pertimbanganku memilih dia;
Mang Obar, tiga puluhan,
tampangnya mirip tikus dengan
kumis tipis, kurus tinggi seperti
pohon kelapa; Endang, paling
muda dari kelimanya, baru dua
puluh tiga tahun, bekerja disini
baru setahun lebih, tapi rajin
dan kerjanya bagus, patut
mendapat hadiah ini.
Seusai jam kerja aku memanggil
mereka untuk bertemu secara
pribadi di kantorku. Awalnya
mereka bingung kok dipanggil
mendadak seperti ada salah
saja. Namun setelah aku
menjelaskan maksudku selama
beberapa menit, mereka hampir
terlompat, antara kaget dan
senang, seperti tidak percaya
apa yang baru kutawarkan.
Hah, serius nih tuan ? Pak
Andang dan Mang Obar
bertanya hampir bersamaan
Iya, siapa yang main-main,
pokoknya kalian tinggal datang
dan nge-jos, apa-apanya saya
yang atur, dan satu hal lagi
jangan sampai ada yang tau lagi
selain kita, atau tidak sama
sekali jawabku meyakinkan.
Seperti yang kuduga, tak
satupun dari mereka ragu atau
menolak, tidak sesulit mengajak
para ceweknya. Ya, sifat dasar
pria lah, siapa sih yang bisa
melewatkan kesempatan emas
gini lalu begitu saja, apalagi
kalau soal perempuan, bahkan
Raja Daud yang bijak itu saja
tidak bisa menghindar dari
godaan seksual, ya kan !
Sebenarnya menurut rencana
harusnya besok bisa mulai, tapi
karena Santi meng-SMS bilang
bahwa ada tugas kuliah yang
harus diselesaikan, terpaksa
acara ditunda besok lusa. Duh,
aku jadi agak bete, tidak sabar
menunggu hari esok, satu jam
jadi terasa setahun karena
sudah kebelet. Malamnya aku
sampai masturbasi saking
bergairahnya, tapi sisi positif
dari tertundanya acara ini aku
bisa mempersiapkan segalanya
lebih baik. Ketiga pembantu
wanitaku kubebastugaskan hari
itu, yang kebetulan sehari
sebelum hari kemerdekaan RI,
kusuruh saja mereka
berkunjung ke sanak
saudaranya atau kemana kek,
pokoknya tidak mengganggu
acara gilaku. Kupompa kasur
udaraku yang empuk (beli dari
Dr. TV, hehe..promosi nih
ceritanya ?) dan kuletakkan di
ruang tamu sebagai arena
pertarungan nanti.
Akhirnya sampai juga hari-H itu,
sekitar pukul dua siang aku
sudah membereskan segala
dokumen yang harus kutangani,
sisanya, pekerjaan kecil lainnya
kuserahkan pada staffku. Saat
itu sudah ada SMS masuk dari
Ivana yang mengatakan bahwa
dia sudah datang dan sedang
menunggu di depan kediamanku.
Pagi-pagi amat dia datang, baru
juga jam segini pikirku
Aku pun segera menuju ke
rumahku yang terletak di
samping pabrik, dibatasi dua
buah gerbang kayu. Aku
memasuki pekarangan rumahku,
disana Ivana sedang jongkok
mengelus-elus si Buster, kelinci
peliharaanku.
Hoi, Na, cepat amat kesininya,
kan gua bilang jam limaan
sesudah bubar kerja sapaku
Tanggung, kalo pulang, nanti
harus bolak-balik jauh lagi
jawabnya
Naik apa kesini ?
Tadi nebeng si Stephanie kan
dia di Lingkar Selatan sana
Hari itu Ivana terlihat cantik
sekali, kaos ketatnya tanpa
lengan dan celana panjang
sedengkulnya semua serba
putih, rambutnya yang panjang
diikat ekor kuda. Walaupun
pernah putus denganku akibat
ketidakcocokan sifat, namun
kami masih berteman baik,
bahkan terkadang kita
melakukan hubungan badan.
Secara fisik, dia termasuk
perfect, buah dadanya sedang
saja, standar cewek Asia,
tubuhnya langsing bak biola, dia
juga jago dancing dan piano.
Kuajak dia masuk ke rumah,
disana kami menonton DVD Troy
sambil ngobrol dan makan snack
menunggu waktu bubaran
pabrik. Ketika film lagi seru-
serunya, tiba-tiba intercom
berbunyi, ada urusan di pabrik
yang memintaku datang.
Gimana sih nih orang-orang,
masih butuh gua juga ! omelku
dalam hati
Lu nonton sendiri dulu, gua ada
perlu dulu nih, sori yah
Huh, ternyata cuma ada
dokumen yang perlu
kutandatangan, cuma itu saja,
itulah kenapa aku tidak
mengatur acaranya jam segini,
ya banyak gangguan seperti ini
loh. Aku memeriksa sejenak
kegiatan di pabrik, setelah
yakin tidak ada apa-apa lagi
aku pun kembali ke samping.
Waktu keluar dari sana, kulihat
Vios hitamnya Santi sudah ada
di halaman pabrik. Aku
menengok arlojiku, wahOsudah
mau jam setengah lima, ga
kerasa ya, cepat amat, berarti
sebentar lagi pesta gila-gilaan
ala Kaisar Caligula akan segera
dimulai heheheOaku jadi ngeres.
Lho, si Santi mana, tadi ada
mobilnya di depan ? tanyaku
pada Ivana karena tidak melihat
Santi di rumah
Tuh, lagi ke WC, masih lama ga
nih acaranya Win, gua udah
deg-degan nih ? tanyanya
Bentar lagi kok, jam lima baru
bubar, rileks aja Na, ga usah
tegang gitu, ntar juga enjoy
kataku
Yo, San darimana aja, you are
so hot today ! sapaku begitu
keluar dari kamar mandi
Waktu itu Santi memakai tank-
top merah yang talinya diikat
ke leher dan membiarkan
setengah punggungnya
terbuka. Bawahnya memakai
rok yang mini dari bahan jeans
ungu memamerkan pahanya
yang putih mulus. Aku terpana
beberapa detik menatap tubuh
mulus Santi yang tinggi
semampai (170cm), wajahnya
cantik ala oriental namun
ekspesinya agak dingin,
sehingga sering terkesan jutek
bagi yang belum kenal dekat
dengannya, tapi kalau akrab dia
enak diajak bicara, blak-blakan
dan pendengar yang baik,
setahuku dia ini orangnya pilih-
pilih dalam memilih patner sex,
tapi mau saja menerima
tantanganku ini, entah dia yang
kepingin atau diplomasiku yang
hebat.
Dari rumahlah, eh tinggal si
Sandra ya yang belum ada ?
jawabnya
Iya belum tuh, ga ada berita
lagi, tadi gua telepon HPnya ga
dinyalain
Lu pake ginian bikin gua
kepanasan nih San kataku
sambil memandangi dirinya,
dibalik celanaku, adikku juga
mulai bangun
Tak dapat menahan diri lagi,
langsung kupeluk tubuh Santi,
tanganku menggerayangi
pahanya sambil menyingkap
roknya, lalu telapak tanganku
bergerak ke belakang meremas
pantatnya yang montok.
NngghhOburu-buru amat sih,
ntar aja ah ! katanya antara
menolak dan menerima
Sori SanOdikit aja, lu bikin gua
nafsu sih sahutku seraya
memagut lehernya
Rambutnya yang pendek model
Utada Hikaru memudahkan aku
menjilati lehernya yang jenjang
hingga ke tenguknya. Dari sana
bibirku menjelajah secara erotis
ke dagu, pipi, hingga mencaplok
bibirnya yang tipis. Dengan
kedua tangan meremas
pantatnya, aku menciuminya
dengan panas, nafas kami yang
memburu terasa pada wajah
masing-masing. Perhatian Ivana
pada layar TV jadi tersita ke
arah mantan pacarnya yang
berciuman dengan penuh gairah
dengan temannya. Dia menatapi
kami tanpa berkedip dan
terlihat gelisah, tangannya
secara sembunyi-sembunyi
meremas payudara sendiri. Aku
yakin cintanya padaku masih
tersisa sedikit walaupun cuma
lima persen, dan hal itu tentu
menimbulkan sensasi cemburu
yang membuatnya horny.
Santi pun mulai merespon
dengan meremas
selangkanganku yang sudah
menonjol. Lagi enak-enak ber-
French kiss, tiba-tiba bel
musikku berbunyi, kami
melepaskan diri. HhmmOsiapa ya,
Sandra atau para bawahanku ?
Pintu kubuka, ternyata para
buruhku, lima-limanya pula, aku
memberitahukan bahwa cewek-
ceweknya sudah datang tapi
dari tiga baru dua yang datang,
kuminta agar mereka bisa
berbagi jatah dengan adil.
Ini beneran kan tuan ? kita ga
usah keluar uang kan ? si
Endang seakan masih tak
percaya, aku cuma mengangguk
meyakinkannya
Udahlah ga usah banyak bacot,
enjoy aja euy ! Pak Usep
menepuk punggung pemuda itu
Kubawa mereka ke ruang
tengah dan kupertemukan
dengan para cewek. Ivana
terlihat nervous, dia tetap
duduk di sofa dan memberi
senyum dipaksa ketika
kuperkenalkan buruh-buruhku
satu persatu. Sedangkan Santi,
meskipun agak gugup, namun
lebih luwes, dia berdiri
menyambut kedatangan mereka
bahkan menyalami mereka
waktu keperkenalkan. Ketika
Mang Obar dengan nakal
mencolek pantatnya pun, dia
membalasnya dengan senyum
menggoda.
Setelah saling kenal dan basa-
basi sejenak kupersilakan
mereka memilih sesuai selera
mereka, dengan ini pesta resmi
kubuka. Pak Usep dan Endang
sepertinya lebih memilih Ivana,
merekapun menghampirinya dan
duduk disofa mengapit kanan
dan kirinya. Sedangkan sisanya
yang memilih Santi mulai berdiri
mengerubunginya. Aku sendiri
duduk di sebuah sudut yang
strategis untuk menyaksikan
the hottest live show ini. Nah,
pembaca, dari sini aku sempat
bingung bagaimana menguraikan
kedua adegan ini secara
lengkap dan detail, karena
tidak seru kan kalau aku hanya
menguraikannya sekilas-sekilas.
Akhirnya setelah kupikir-pikir
aku memutuskan
menceritakannya per adegan
plus berdasarkan penuturan
mereka, supaya lebih fokus dan
pembaca pun turut menghayati
kenikmatan yang kurasakan
waktu itu, semoga metode
berceritaku ini memuaskan
pembaca sekalian, aku akan
memulainya dengan adegan
Santi. (beberapa dialog disini,
terutama yang diucapkan para
buruhku adalah dalam Bahasa
Sunda, sebenarnya aku lebih
sreg menuliskan seperti aslinya,
namun mengingat pembaca
17tahun bukan cuma dari Jawa
Barat, juga peraturan dari
admin yang mengharuskan
pemakaian Bahasa Indonesia
yang baik dan benar, maka aku
harus taat sama aturan
mainnya)
Santi
Dikerubungi ketiga orang itu
Santi nampak tegang, namun
dia menutup-nutupi ketegangan
itu dengan senyumannya dan
juga menjawab pertanyaan-
pertanyaan mereka, terkadang
mereka mengajukannya
pertanyaan nakal yang
membuat wajahnya memerah
tersipu-sipu. Pak Andang mulai
berani mengelusi punggung
Santi yang terbuka.
EeemmOgeli Pak ! desahnya
menggoda.
Masa digituin aja geli sih Neng,
gimana kalo diginiin ? Mang Obar
meremas payudaranya
Tangan-tangan kasar itu mulai
menggerayanginya. Mang Nurdin
juga mulai merayapi lekuk tubuh
Santi sambil menyingkap rok
mininya, paha mulus itu dia
raba-raba, tangannya makin
merayap ke atas hingga
menyentuh selangkangan Santi
yang masih tertutup celana
dalam biru langit.
Bapak buka bajunya ya Neng
Tanpa menunggu jawaban Santi,
Pak Andang membuka tali leher
yang menyangga pakaiannya.
Santi tidak memakai bra karena
tank top itu mempunyai cup
dada didalamnya sehingga
begitu melorot payudara
montok dengan puting
kemerahan itu langsung
terekspos. Pak Andang dan
Mang Obar mencaplok masing-
masing kiri dan kanannya. Mang
Nurdin kini berjongkok sedang
mengagumi keindahan paha
Santi yang jenjang dan mulus
itu, tangannya tak henti-
hentinya mengelusi paha itu.
Neng, pahanya mulus amatO
putih lagi puji Mang Nurdin
sambil menjilatnya.
Yang tak kalah menarik tentu
bagian pangkalnya dan kini
tangan Mang Nurdin telah
sampai kesitu membelai
kemaluannya dari luar, jari-
jarinya lalu menyusup lewat tepi
celana dalamnya. Mang Obar
mengenyot payudara kanannya.
Santi menengadah dengan mata
terpejam, mulutnya mengap-
mengap mengeluarkan desahan.
Dia telah mabuk birahi,
tubuhnya menggelinjang saat
Mang Nurdin menggosok
vaginanya dengan jari-jarinya
sampai terlihat bercak cairan
vaginanya di tengah celana
dalamnya.
Pak Andang, disana aja atuh,
cape dong berdiri melulu ?
kataku menunjuk kasur pompa
yang terletak tak jauh dari
situ.
Mereka pun menggiring dan
merebahkan tubuh Santi di
kasur empuk itu, lalu
pakaiannya dilucuti satu
persatu hingga tak tersisa
apapun lagi di tubuhnya.
Tampaklah tubuh mulus Santi
yang berpayudara kencang,
berperut rata, dan
kemaluannya yang masih rapat
ditumbuhi bulu-bulu yang tidak
terlalu lebat dan tercukur rapi.
Setelah menelanjanginya,
mereka juga membuka baju
masing-masing. Tiga batang
kemaluan mengarah padanya
bak meriam yang siap
menembak, Santi sampai
terpana menatap ketiga
senjata yang akan segera
membantainya itu. Ketiganya
kembali mengerubungi Santi
yang terlihat nervous dengan
menutupi kemaluan dan
payudaranya dengan tangan.
HeheheOsi neng malu-malu gini
bikin saya tambah nafsu aja
ah ! kata Mang Nurdin
mengangkat tangan kiri Santi
yang menutup payudaranya.
Wah ternyata bodynya amoy
bagus banget ya! kata Mang
Obar yang tangannya mulai
menjelajahi tubuh mulus itu.
Pak Andang menciumi payudara
kanannya sambil tangannya
meraba-raba kemaluannya.
Dijilatinya seluruh gunung itu
sampai basah lalu dengan ujung
lidahnya dia main-mainkan
putingnya. Jantungku
berdebar-debar dan mataku
melotot menyaksikan adegan
itu, ditambah lagi adegan pada
sofa di hadapanku dimana
tubuh telanjang Ivana sedang
dijilati dan digerayangi. Aku
membuka celana pendekku dan
mengeluarkan penisku lewat
pinggir celana dalam lalu mulai
memijatnya, ini jauh lebih
spektakuler dari film bokep
dengan artis tercantik
sekalipun. Mang Nurdin mencium
dan menjilat leher jenjang Santi
sambil mengusap-usap payudara
satunya, lalu ciumannya
bergerak ke atas menggelikitik
kupingnya menyebabkan Santi
menggeliat dan mendesah
nikmat. Dari telinga mulut Mang
Nurdin memagut bibir Santi,
mulut lebar dengan bibir tebal
itu seolah mau menelan bibir
Santi yang mungil lagi tipis.
Sekonyong-konyong terdengar
kecipak ludah dari lidah mereka
yang beradu. Santi nampak
sudah tidak merasa risih lagi,
yang dirasakannya sekarang
adalah birahi yang menggebu-
gebu akan pengalaman barunya
ini, terlihat dari matanya yang
terpejam menghayati permainan
ini. Sikapnya yang semula pasif
mulai berubah dengan meraih
penis Mang Nurdin dalam
genggamannya.
Mang Obar sedang berlutut
diantara kedua paha Santi, tapi
dia belum juga mencoblosnya.
Agaknya dia masih belum puas
bermain-main dengan tubuh
mulus itu. Sekarang dia sedang
membelai-belai tubuh bagian
bawahnya, terutama pantat
dan kemaluannya. Dia
mengangkat paha kiri itu, lalu
menciumi mulai dekat
pangkalnya, terus turun ke
betis, pergelangan, dan
akhirnya dia emut jari kaki
yang lentik itu. Lagi enak-enak
nonton live-show sambil ngocok,
tiba-tiba ada SMS masuk,
kuraih HP-ku, ohOsi Sandra,
hampir lupa aku sama anak ini
saking asyiknya, pesannya
berbunyi demikian :
Win, pstanya jd g? psti lg asyk
y? sori nih tlat, td diajak tmn
jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh
bsa g?
Brengsek bikin orang nunggu
aja, mana datangnya telat
banget lagi, tapi ahaOterbesit
sebuah cara untuk
menghukumnya, hihihiOaku
nyeringai sambil mereply SMS-
nya
Gile tlat amt sih, y dah u dtg
aja, mngkin msh kburu, kl g kta
skalian mkn mlm aja, ok
Wow, kini Santi sedang menjilati
secara bergantian penis Pak
Andang dan Mang Nurdin yang
berlutut di sebelah kiri dan
kanan kepalanya. Sementara itu
Mang Obar menjilat serta
menusuk-nusukkan lidahnya ke
dalam vagina Santi, rangsangan
itu membuatnya sering
mengapitkan kedua paha
mulusnya ke kepala Mang Obar.
Kini Santi membuka mulut dan
mendekatkan kepalanya pada
penis Pak Andang, setelah
masuk ke mulutnya, dia mulai
mengulum benda itu dengan
nikmatnya sambil tangan
kanannya mengocok pelan penis
Mang Nurdin. Tak lama kemudian
Mang Obar menghentikan
jilatannya dan merentangkan
paha Santi lebih lebar, dia
bersiap memasukkan penisnya.
Santi juga menghentikan
sejenak oral seksnya, menatap
penis yang makin mendekati
bibir vaginanya dengan deg-
degan.
Pelan-pelan yah Mang, saya
takut sakit abis kontol Mang
gede gitu ! ucap Santi
memperingatkan
Tenang aja Neng, Mamang ga
bakal kasar kok ! hiburnya
sambil mengarahkan senjatanya
ke liang senggamanya.
Nampaknya Mang Obar kesulitan
memasukkan penisnya ke dalam
vagina Santi karena ukurannya
itu, maka dia lakukan itu
dengan gerakan tarik-dorong.
AakkhhOnggghhhOsakit ! rintih
Santi menahan rasa nyeri,
padahal penis itu belum juga
masuk seluruhnya
Masa pelan gitu sakit sih Neng ?
kata Pak Andang yang
memegangi tangannya sambil
membelai payudaranya
Mungkin si Neng aja yang
memeknya kekecilan kali ! sahut
Mang Nurdin cengengesan.
AaaaahhhO jeritnya saat Mang
Obar menghentakkan
pinggulnya ke depan hingga
penisnya terbenam seluruhnya
ke dalam liang itu.
Selanjutnya, tanpa ampun dia
menggenjotnya dengan buas
tanpa menghiraukan
perbandingan ukurannya
dengan vagina Santi. Sementara
di kiri dan kanannya kedua
orang itu tak pernah berhenti
menggerayangi tubuhnya. Mang
Nurdin dengan mulutnya yang
lebar menelan seluruh susu
kanannya yang disedot dan
dikulum dengan rakus. Pak
Andang menelusuri tubuh itu
dengan lidahnya, bagian-bagian
sensitif tubuh Santi tidak luput
dari jilatannya. Santi mendesah-
desah tak karuan sambil
menggeleng-gelengkan
kepalanya, tubuhnya
menggelinjang hebat.
Sebentar saja Santi sudah
mencapai klimaks, badannya
menegang dan menekuk ke
atas, desahannya makin hebat.
Namun Mang Obar masih belum
keluar, dia menaikkan kedua
betis Santi ke bahunya dan
memacu tubuhnya makin cepat
sampai menimbulkan bunyi
kecipak. Akhirnya dia
menggeram dan
menyemprotkan spermanya di
dalam vagina Santi, cairan itu
nampak menetes dari daerah
itu bercampur dengan cairan
kewanitaannya. Santi hanya
sempat beristirahat kurang dari
lima menit sebelum giliran Pak
Andang mencicipi vaginanya.
Mula-mula dia meminta Santi
membasahi penisnya dulu,
setelah dikulum sebentar, dia
menindih Santi sambil
memasukkan penisnya,
pinggulnya mulai bergerak naik-
turun diatas tubuhnya, Santi
yang gairahnya mulai pulih juga
ikut menyeimbangkan irama
goyangannya. Pak Andang
melumat bibir mungil Santi yang
mengap-mengap itu meredam
desahannya. Waktu itu aku
sudah keluar sekali, kuambil
tissue mengelap tanganku yang
basah. Mang Obar mengambil
aqua gelas yang kusiapkan dan
meminumnya, dia duduk di sofa
sebelahku.
Gimana Mang, sip ga ?
Enak banget Bos, Mamang ga
pernah mimpi bisa dapet
kesempatan ini, sering-sering
bikin yang kaya gini ya!
komentarnya dengan antusias
Tenang Mang, jangan boros
tenaga dulu, ntar masih ada
satu lagi loh ! nasehatku,
kemudian aku menjelaskan apa
yang harus dilakukan pada
Sandra kalau dia datang nanti.
Pak Andang tiba-tiba
menggulingkan tubuhnya
sehingga Santi kini diatasnya.
Dia lalu menegakkan badan
sambil terus menaik-turunkan
pinggulnya diatas penis yang
mengacung bagai pasak itu.
Terkadang dia memutar-mutar
pinggulnya sehingga penis itu
mengaduk-aduk vaginanya.
Matanya merem-melek dan
mulutnya mengeluarkan
desahan nikmat. Keringat telah
membasahi tubuhnya, menempel
di dadanya seperti embun, juga
menetes-netes dari mukanya.
Mang Nurdin berdiri di
sebelahnya lalu mendekatkan
penisnya yang masih keras ke
mulutnya. Santi mulai
menjilatinya dimulai dari
kepalanya yang disunat hingga
seluruh permukaan batang itu,
buah zakarnya yang besar dia
emut beberapa saat.
UuuhhOayo Neng, enak gituO
mmm ! desah Mang Nurdin
Semakin hanyut dalam lautan
birahi, Santi tidak malu-malu lagi
mengemut penis itu sambil
mengocoknya dengan satu
tangan. Payudaranya
bergoyang-goyang naik-turun
seirama gerak tubuhnya,
dengan gemas Pak Andang
menjulurkan kedua tangannya
mencaplok gunung kembar itu
serta meremasnya.
Saat itu Endang baru saja
selesai dengan Ivana, setelah
menyemprot perut Ivana
dengan spermanya dia minum
dulu dan langsung menuju Santi,
sementara itu Mang Obar mulai
mencicipi Ivana. Endang duduk di
sebelah kanannya dan meminta
ijin Pak Andang yang sedang
menguasai kedua payudaranya
untuk memberinya jatah satu
saja. Sepertinya dia menggigit
putingnya karena badan Santi
mengejang dan mendesah
tertahan di tengah aktivitasnya
mengoral Mang Nurdin, dia
mengenyot dan kadang
menarik-narik puting itu dengan
mulutnya.
OoohhOisep NengOiseepp !! tiba-
tiba Mang Nurdin mendesah
panjang dan makin menekan
kepala Santi ke
selangkangannya
Spermanya menyembur di dalam
mulut Santi, mungkin karena
badannya berguncang-guncang
hisapan Santi tidak sempurna,
cairan itu meleleh sebagian di
pinggir mulutnya. Mang Nurdin
beranjak pergi meninggalkan
Santi setelah di cleaning
service, diambilnya segelas aqua
dari meja untuk diminum.
Tiba-tiba goyangan Santi makin
gencar lalu berhenti dengan
tubuh mengejang, kepalanya
menengadah sambil mendesah
panjang, kedua tangannya
memegang erat lengan Pak
Andang. Dia telah mencapai
klimaks, tapi Pak Andang belum,
dia terus menghentakkan
pinggulnya ke atas menusuk
Santi. Tubuh Santi melemas
kembali dan ambruk ke depan
menindihnya. Saat itu Endang
sudah pindah ke belakangnya,
dia meremas pantat yang sekal
itu sambil mengorek duburnya.
Kemudian dia menindihnya dari
belakang, tangannya menuntun
penisnya memasuki liang dubur
itu diiringi rintihan pemiliknya.
Tubuh Santi kini dihimpit kedua
buruh itu seperti sandwich,
kedua penis itu menghujam-
hujam kedua lubangnya dengan
ganas.
OoohhO.ooohOaakkhh ! gairah
Santi mulai bangkit lagi,
vaginanya berdenyut-denyut
memijat penis Pak Andang yang
sudah di ambang klimaks
Pak Andang lalu melenguh
panjang menyemburkan
maninya di dalam vagina Santi
akhirnya dia terbaring lemas di
kolong tubuh Santi dengan
nafas terengah-engah.
Setelah ditinggalkan Pak
Andang, Santi cuma melayani
Endang saja, namun pemuda ini
lumayan brutal mengerjainya
sehingga dia menjerit-jerit.
Duburnya disodok-sodok
sementara payudaranya yang
menggantung di remas dengan
kasar. Hal ini berlangsung
sekitar sepuluh menit lamanya
sampai keduanya klimaks,
sperma Endang tertumpah di
pantatnya sebelum keduanya
ambruk tumpang tindih.
Keadaan Santi sudah babak-
belur, tubuhnya bersimbah
peluh, bekas-bekas cupangan
masih terlihat pada kulitnya
yang mulus, sperma bercampur
cairan kewanitaan meleleh dari
selangkangannya. Aku jadi
kasihan melihatnya, maka aku
menghampirinya dengan
membawa air dan tissue.
Kuangkat tubuhnya dan
kusandarkan pada lenganku,
dengan tissue kuseka keringat
di dahinya, minuman yang
kuberikan langsung diteguknya
habis.
Udah ya San, kalau dah ga kuat
jangan dipaksain lagi, ntar
pingsan lu ! saranku
Namun dia cuma tersenyum
sambil menggeleng, ga apa-apa
katanya cuma perlu istirahat
sedikit, dia juga bilang rasanya
seperti diperkosa massal saja
barusan itu. Waktu itu Pak Usep
menghampiri kami bermaksud
menikmati Santi, tapi kusuruh
dia bersabar karena kondisinya
belum fit.
Karena tubuh Santi yang sudah
lengket-lengket itu, aku
menyuruhnya mandi agar lebih
segar. Setelah agak pulih,
kubantu dia berdiri dan
memapahnya ke kamar mandi,
kunyalakan shower air hangat
untuknya. Sebelum keluar kami
berpelukan, kucium dia sambil
mengorek vaginanya dengan
dua jari, cairan sperma meluber
keluar begitu kukeluarkan
tanganku, sehingga aku harus
cuci tangan.
Dah mandi dulu yang bersih,
supaya nanti siap action !
kataku
Dia cekikikan sambil
menyeprotkan shower ke arah
kakiku, aku melompat kecil dan
keluar sambil tertawa-tawa.
Begitu aku keluar, wawOgile,
Ivana mantan pacarku itu
sedang dikerjai kelima orang
itu, dia sudah tidak di sofa lagi,
melainkan sudah di lantai
beralas karpet, the hottest
gangbang ive ever seen ! Untuk
lebih lengkapnya lebih baik kita
ikuti kisah Ivana dari awal
Ivana
Endang dan Pak Usep duduk
mengapit Ivana masing-masing
di kanan dan kirinya. Ivana
terlihat tegang sekali beberapa
kali dia memanggil-manggil
namaku.
Kenapa Na, kok sekarang
tegang gitu katanya mau
ngebalas pacarlu itu ! kataku
Oh, jadi Neng udah punya pacar
yah ! kata Pak Usep
Ngga, baru putus kok jawabnya
malu-malu
Putusnya kenapa Neng ? tanya
Endang
Ivana cuma menggeleng tanpa
menjawabnya.
Udah ah lu, kalau ga mau
dijawab jangan maksa ! kata
Pak Usep pada rekannya
Eh, Neng sama pacar yang dulu
pernah ngentotan ga ? tanya
Endang cengengesan
Rona merah jelas sekali pada
wajah Ivana yang putih mulus,
dia hanya mengangguk pelan
sebagai jawabnya sambil
tersenyum malu-malu.
Kalo gitu pernah diginiin dong
Neng hehehe ! Pak Usep
tertawa-tawa meremas buah
dada Ivana
Diginiin juga pernah ! Endang
meraih selangkangannya dan
meremasnya dari luar
Ivana menjerit kecil sambil
tertawa geli karena kejahilan
tangan mereka. Pak Usep makin
gemas memijati payudaranya, si
Endang sengaja meniupkan
udara ke kupingnya untuk
memambangkitkan birahinya
perlahan-lahan sambil
tangannya membantu Pak Usep
meremas payudara yang
satunya. Ivana hanya diam
menikmatinya dengan mata
terpejam. Keduanya mulai
menyingkap kaosnya, Ivana
sepertinya menurut saja, dia
mengangkat lengannya
membiarkan kaos itu dilolosi. Dia
tinggal memakai bra warna
krem dan celana panjang
selututnya.
Ini dibuka aja ya Neng pinta
Endang
Ivana mengangguk, maka
Endang pun dengan cekatan
membuka bra-nya sehingga dia
telanjang dada. Endang
langsung melumat yang kanan
dengan rakus.
Pentilnya bagus ya Neng, kecil,
merah lagi komentar Pak Usep
sambil memilin-milin putingnya
Pak Usep menjulurkan lidahnya,
lalu menyapukannya telak pada
leher jenjang Ivana
membuatnya merinding dan
mendesis. Dia meneruskan
rangsangannya dengan
mengecup lehernya membuat
tanda kemerahan disitu, rambut
Ivana yang terikat ke belakang
memudahkannya menyerang
daerah itu. Tangannya pun tak
tinggal diam, terus bergerilya di
dada kirinya dan pelosok tubuh
lainnya. Mendadak Pak Usep
menghentikan kegiatannya dan
memanggil Endang yang lagi
asyik nyusu dengan mencolek
kepalanya.
Eh, Dang, kita taruhan yu, yang
menang boleh ngentot si Neng
duluan ! tantangnya
Taruhan apaan Pak, saya mah
ayu aja
Coba tebak, si Neng ini
jembutan ga ? tanyanya
dengan nyengir lebar
Muka Ivana jadi tambah
memerah karena kenakalan
mereka ini, aku juga jadi
terangsang dibuatnya. Suatu
sensasi tersendiri menonton
mantan pacarku ini dikerjai
orang lain.
HmmmOada ga Neng ? tanya
Endang sambil menatapi
selangkangan Ivana
EeeOnanya lagi, orang disuruh
tebak ! omel Pak Usep menyentil
kepalanya
Ivana senyum mesem dan
menjawab tidak tahu menjawab
si Endang.
Ada aja deh ! tebak si Endang
Yuk kita tes, bener ga ! kata
Pak Usep dengan menyusupkan
tangannya ke balik celana Ivana
EemmhhhO desis Ivana saat
merasakan tangan Pak Usep
merabai kemaluannya
WelehOsialan, bener juga lu
Dang ! gerutunya karena
ternyata kemaluan Ivana
memangnya berbulu, lebat lagi.
Endang tersenyum penuh
kemenangan karena dapat
giliran pertama merasakan
tubuh Ivana. Merekapun kembali
menggerayangi tubuhnya.
Tangan Pak Usep tetap didalam
celananya mengobok-obok
kemaluannya sejak mengetes
tadi. Endang mulai membuka
sabuk yang dikenakan Ivana
dan menurunkan resletingnya,
sebelumnya dia menyuruh Pak
Usep menyingkirkan tangannya
dulu. Cairan vagina membasahi
jari-jarinya begitu dia
mengeluarkan tangannya dari
sana. Endang turun dari sofa
dan jongkok di lantai beralas
permadani itu untuk menarik
lepas celana Ivana. Tampak
kemaluan Ivana dengan bulu-
bulu yang tebal dari balik celana
dalamnya yang semi transparan.
Sesaat kemudian pakaian
terakhir dari tubuhnya itu
dilepaskannya pula. Jadilah
Ivana telanjang bulat terduduk
separuh berbaring di sofa.
Keduanya tertegun melihat
tubuh putih mulus dan terawat
di hadapan mereka. Si Endang
masih berjongkok di antara
kedua paha Ivana, tentu dia
bisa melihat jelas selangkangan
berambut lebat yang tampak
menggunung dalam posisi
demikian.
Duh, cantik banget sih Neng ini,
bikin saya ga tahan aja ! kata
Pak Usep sambil mendekap
tubuhnya
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu
lidahnya keluar menjilati pipi dan
hidungnya, menikmati betapa
licin dan mulusnya wajah
mantan pacarku itu, belakangan
bibirnya dilumat dengan ganas.
Sementara kedua tangannya
tidak tinggal diam, selalu
berpindah-pindah mengelusi
punggungnya atau meremas
payudaranya. Wajah Endang
makin mendekati vagina Ivana
sambil kedua tangannya
mengelusi paha mulus itu. Tubuh
Ivana bergetar ketika jemari
Endang mulai menyentuh bibir
kemaluannya, pasti dia bisa
merasakan nafas Endang
menghembus bagian itu.
Perlahan-lahan Endang
membuka kedua bibir bawah itu
dengan jarinya. Erangan
tertahan terdengar dari mulut
Ivana yang sedang dilumat Pak
Usep, keringatnya mulai
bercucuran.
WahOasyik, saya baru pernah
liat memeknya amoy, dalemnya
merah muda, seger euy !
komentar Endang mengamati
vagina itu.
Pak Usep, mau liat ga nih, bagus
banget loh ! sahut Endang
padanya
HmmmOiya bagus ya, kamu aja
dulu Dang, saya mau netek
dulu ! kata Pak Usep sambil
mencucukkan sejenak jari
tengah dan telunjuk ke
vaginanya, waktu dia keluarkan
cairan lendirnya menempel dijari
itu.
Pak Usep mulai menjilati
payudaranya mulai dari pangkal
bawah lalu naik menuju
putingnya, dia jilat puting itu
lalu dihisapnya kuat-kuat,
sementara tangannya memilin-
milin putingnya yang lain.
HhhnngghhOMang, oohh ! Ivana
mendesah menggigit bibir sambil
memeluk erat kepala Pak Usep
Ivana makin menggelinjang saat
wajah Endang makin mendekati
selangkangannya dan
AaaahhO! desahnya lebih
panjang, tubuhnya
menggelinjang hebat, kedua
pahanya mengapit kepala
Endang
Pemuda itu telah menyapu bibir
vaginanya, lalu lidah itu terus
menyeruak masuk menjilati
segenap penjuru bagian dalam
vaginanya, klitorisnya tak luput
dari lidah itu, sehingga tak
heran kalau desahannya makin
tak karuan saling bersahut-
sahutan dengan desahan Santi
yang saat itu baru ditusuk
Mang Obar.
Oi, kalian berdua kok belum
buka baju sih, kasih liat dong
kontolnya ke Neng Ivana pasti
dah ga sabar dia ! kataku pada
Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia
membuka kaos berkerah dan
celananya hingga bugil, dia
menggenggam penisnya yang
tebal dan hitam itu
memamerkannya pada Ivana
Nih, Neng kontol Mamang gede
ya, sama pacar Neng punya
gede mana ? tanyanya sambil
menaruh tangan Ivana pada
benda itu
Gede yah MangOkeras jawab
Ivana yang tangannya sudah
mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu
hilang rasa malunya saking
terangsangnya, sepertinya dia
sudah tidak peduli keadaan
sekitar, yang dipikirkannya
hanya menyelesaikan gairah
yang sudah membakar demikian
hebat itu. Hampir sepuluh menit
berlalu, tapi Endang masih
seperti kelaparan, belum
berhenti menjilati vaginanya
sementara Ivana sudah
mengapir dan menggesek-
gesekkan pahanya pada kepala
Endang menahan birahinya yang
meninggi.
Cepetan dong, kan kamu
harusnya nusuk duluan, kalo
ngga mau saya tusuk juga nih !
kata Pak Usep yang tidak sabar
ingin segera menyetubuhi Ivana.
Iya sabar atuh Pak, ini udah
mau nih kata Endang yang mulai
menanggalkan pakaiannya
Yuk Neng, basahin dulu nihO
isep ! dia sodorkan penisnya ke
mulut Ivana sambil memegangi
kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan
penis Endang, mungkin agak jijik
kali belum pernah merasakan
yang sehitam itu. Namun Endang
terus mendesaknya, apalagi
dengan kepala dipegangi seperti
itu, akhirnya dengan terpaksa
Ivana membuka mulutnya
membiarkan penis itu masuk.
Sebentar kemudian Endang
mengeluarkan penisnya,
diangkatnya kaki Ivana ke sofa
sehingga dia kini terbaring di
sofa dengan kepala bersandar
pada perut tambun Pak Usep.
Endang memegang miliknya dan
mengarahkannya ke vagina
Ivana. Pelan-pelan mulai
memasukinya, tubuh Ivana
menekuk ke atas.
AaakkhhO! demikian keluar dari
mulutnya hingga penis Endang
mentok ke dalam vaginanya.
Endang pun mulai
menggoyangkan pinggulnya
perlahan kemudian makin lama
makin cepat. Endang
melakukannya dalam posisi satu
kaki naik sofa dan kaki lainnya
berdiri menginjak lantai, kedia
tangannya memegangi betis
Ivana.
Ah-ah-ahO.uuhhO!! desah Ivana
dengan mata terpejam
Enak ya Neng ? kata Pak Usep
dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana,
Pak Usep terus saja menyangga
tubuhnya sambil menghujani
leher, telinga, dan payudaranya
dengan ciuman dan jilatan. Kini
dia sedang mengulum daun
telinga Ivana dan tangannya
meremas kedua payudaranya.
Tentu puting Ivana sudah
sangat keras karena daritadi
dimain-mainkan. Ivana sendiri
tangannya menggenggam penis
Pak Usep, dia mengocok-ngocok
penis itu karena hornynya.
Kedua kakinya menjepit
pinggang Endang, seolah minta
disodok lebih dalam lagi.
Tanpa mencabut penisnya,
Endang memiringkan tubuh
Ivana sehingga posisinya
berbaring menyamping, satu
kakinya dinaikkan ke bahunya.
WowOseru sekali melihat paha
Endang bergesekan dengan
paha mulus Ivana dan penisnya
keluar masuk dari samping. Pak
Usep menempelkan penisnya ke
wajah dan bibir Ivana,
memintanya melakukan oral
seks. Ivana masih sangat risih
memasukkan benda itu dalam
mulutnya, hanya berani
mengocoknya dengan tangan,
sepertinya dia masih merasa
tidak nyaman dengan penis
Endang di mulutnya tadi,
belakangan dia bilang ke aku
bahwa dia memang tidak
terbiasa dengan penis hitam
dan berbau tidak enak seperti
itu, dan dia juga tidak suka
dengan cara mereka yang suka
maksa tidak tau diri, makannya
dia tidak pernah mau ngeseks
dengan orang-orang kaya gitu,
cukup kali ini saja, pertama dan
terakhir demikian tegasnya.
Jilatin dong Neng, jangan cuma
main tangan aja ! pinta Pak
Usep tidak sabar merasakan
mulutnya
Ngga MangOjijikOga mau..ahh !
gelengnya dengan sedikit
mendesah.
Lho, gimana sih si Neng ini, tadi
kan dia dikasih, masa saya
ngga ?
Ayo dong Neng, sebentar aja
kok ! Pak Usep terus mendesak
dengan menekan kepalanya
dengan tangan kanannya ke
penis yang dipegang dengan
tangan kirinya. Penis itu pun
akhirnya memasuki mulut Ivana,
karena mulutnya mengap-
mengap mendesah, kesempatan
itulah yang dipakai Pak Usep
menjejalkan penisnya. Sesudah
penisnya dimulut, Pak Usep
memaju-mundurkan kepalanya
dengan menjambak kuncirnya.
Emmhh..eehmmOMangOsayaO
mmm ! Ivana berusaha protes
tapi malah tersendat-sendat
karena terus dijejali penis.
MmmmOgitu dong Neng baru
namanya anak manis, udah lama
Mamang ga diginiin uuh ! Pak
Usep melenguh dan merem-
melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani
berbuat seperti itu padanya
setengah tahun lalu, pasti
sudah kuhajar sampai masuk
ICU, tapi sekarang berbeda, aku
malah terangsang melihat bekas
pacarku ini diperlakukan
demikian sehingga aku makin
cepat mengocok penisku,
apalagi waktu itu Santi juga
sedang main kuda-kudaan
diatas penis Pak Andang sambil
mengoral penis Mang Nurdin
dengan bernafsu.
Akhirnya Ivana orgasme duluan,
badannya berkelejotan dan
mulutnya terdengar erangan
tertahan. Pak Usep rupanya
cukup pengertian, dia
melepaskan dulu penisnya
membiarkan Ivana menikmati
orgasmenya secara utuh.
Badannya menegang beberapa
saat lamanya, Pak Usep
menambah rangsangannya
dengan meremasi payudaranya.
Endang pun menyusul sekitar
tiga menit kemudian,
sodokannya makin dahsyat
sampai akhirnya dia melepaskan
penisnya dan menumpahkan
cairan putih di perut yang rata
itu. Sambil orgasme dia
memegang erat-erat lengan
kokoh Pak Usep yang
mendekapnya hingga tubuhnya
lemas dan terbaring dalam
dekapan pria tambun itu. Si
Endang cuma duduk sebentar,
minum dan menyeka keringat,
lalu dia langsung beralih ke
Santi seperti yang telah
kuceritakan di atas, posisinya
segera digantikan Mang Obar
yang baru recovery setelah
istirahat. Pak Usep memberikan
minum pada Ivana mengambilkan
tissue mengelap keringatnya.
EuleuhOsi Endang teh gimana,
buang peju sembarangan aja !
gerutu Mang Obar yang baru
tiba melihat ceceran sperma di
perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa
meneteskan sedikit air dan
mengelap ceceran sperma itu
sampai bersih, Ivana juga ikut
tertawa kecil.
Udah, gampang Mang, dibersihin
aja kan beres ! hiburku
padanya
Mang Obar langsung mencumbui
payudara Ivana yang masih
didekap Pak Usep, mulutnya
berpindah-pindah antara
payudara kiri dan kanan.
OoohhOoohhh !! desahnya ketika
merasakan putingnya digigit
dan ditarik-tarik dengan mulut
oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah
sedang meremasi bongkah
pantatnya yang kenyal,
diremasnya berulang kali
sekaligus mengelusi paha
mulusnya. Dari pantat
tangannya merayap ke
kemaluan, tubuh Ivana bergetar
merasakan kenakalan jari Mang
Obar yang mengusap-usap
klitoris dan bibir kemaluannya.
Di belakangnya, Pak Usep
sangat getol mencupangi leher,
tenguk dan bahunya.
HeheheOliat nih udah basah
gini ! sahut Mang Obar
mengeluarkan jarinya dari
vagina Ivana EmmOenak pisan !
dijilatinya cairan yang blepotan
di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik
pinggang Ivana,
mendudukkannya di
pangkuannya dengan
membelakanginya, satu
tangannya meraih vaginanya
dan membuka bibirnya
Masukin Neng, pelan-pelan !
suruhnya
Ivana tanpa malu-malu
memegang penis itu dan
mengarahkan ke vaginanya, lalu
dia menekan badannya ke
bawah sehingga penis itu
terbenam dalam vaginanya.
Namun kerena besar penis itu
baru masuk kepalanya saja, itu
sudah membuat Ivana merintih-
rintih dan meringis menahan
nyeri.
DuhOsakit nih Mang, udah ya !
rintihnya
Wah, kagok dong Neng kalo gini
mah, ayo dong dikit-dikit pasti
bisa kok ! kata Pak Usep
Nanti juga enak kok Neng,
sakitnya bentar aja ! timpal
Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep
menekan tubuh Ivana juga
menghentakkan pinggulnya,
akhirnya masuk juga penis itu
ke vaginanya, mata Ivana
sampai berair menahan sakit.
Pak Usep mulai menggoyangkan
tubuhnya
ArrgghhOuuhhhOsempit amatO
enak ! gumam Pak Usep di
tengah kenikmatan penisnya
dipijat vagina Ivana
Sementara Mang Obar meraih
kepala Ivana, wajahnya
mendekat dan hupOmulut
mereka bertemu, lidahnya
menerobos masuk
mempermainkan lidah Ivana, dia
hanya pasrah saja
menerimanya, dengan mata
terpejam dia coba menikmatinya
lidahnya, entah secara sadar
atau tidak turut beradu
dengan lidah lawannya.
Limabelas menit lamanya batang
Pak Usep yang perkasa
menembus vagina Ivana,
runtuhlah pertahanan Ivana,
sekali lagi badannya mengejang
dan mengeluarkan cairan
kewanitaan membasahi penis
Pak Usep dan sofa di bawahnya
(untung sofanya bahan kulit
jadi gampang dibersihkan). Ivana
memeluk erat-erat kepala Mang
Obar yang sedang mengenyot
payudaranya. Sekonyong-
konyong terlihat cairan putih
meleleh dari selangkangan
Ivana, rupanya Pak Usep juga
telah orgasme. Desahan mereka
mulai reda, keduanya melemas
kembali. Nampak olehku ketika
Pak Usep melepas penisnya, dari
vagina Ivana menetes cairan
sperma yang telah bercampur
cairan cintanya. Waktu
beristirahat baginya cuma
sebentar karena Mang Obar
langsung menyambar tubuhnya,
menindihnya, dan mengarahkan
senjatanya ke liang kenikmatan.
Segera saja tubuhnya memacu
naik-turun diatasnya. Ivana
menggelinjang setiap kali dia
menghentakkan tubuhnya. Saat
itu Mang Nurdin dan Pak
Andang mendekati keduanya
untuk menonton lebih dekat
adegan panas itu. Mereka
menyoraki temannya yang
sedang berpacu diatas tubuh
mantan pacarku itu seperti
menonton pertandingan
olahraga saja.
Setelah itu aku kehilangan
sedikit adegan karena sedang
mengantar Santi ke kamar
mandi, maka adegan yang hilang
ini kuceritakan berdasarkan
penuturan Mang Nurdin yang
kuanggap paling akurat. Dari
sofa, Mang Obar menurunkan
Ivana ke karpet, dia berlutut di
antara paha Ivana dan terus
menyodoknya. Mang Nurdin
membungkuk agar bisa
mengemut payudara yang
menggiurkan itu. Pak Andang
berlutut di samping kepalanya
dan menjejalkan penisnya ke
mulutnya, sambil diemut dia
memegangi payudara Ivana.
Endang dan Pak Usep yang
nganggur kembali
mendatanginya, merekapun ikut
bergabung mengerjai Ivana.
Tangan-tangan hitam kasar
menggerayangi tubuh mulus itu,
ada yang mengelus pahanya,
ada yang meremas
payudaranya, ada yang
memelintir putingnya, beberapa
diantaranya sedang dikocok
penisnya oleh Ivana. Ikat
rambutnya sudah terbuka
sehingga rambutnya tergerai
sebahu lebih. Pemandangan
itulah yang kulihat ketika
keluar dari kamar mandi.
Lebih dari lima menit dia menjadi
objek seks kelima buruhku.
Mulanya aku sangat menikmati
tontonan ini, terlebih ketika
sperma mereka muncrat di
tubuhnya, ada yang nyemprot
di dada, perut, dan mukanya.
Namun aku mulai merasa
kasihan ketika mereka
memaksanya membersihkan
penis-penis mereka dengan
mulutnya, beberapa bahkan
menjejalkan paksa ke dalam
mulutnya, aku terpaksa turun
tangan menyudahinya ketika
kulihat air matanya mulai
menetes. Aku tahu semasa
pacaran denganku dulu dia
memang tidak terlalu suka oral
seks dan menelan sperma, jijik
katanya, apalagi sekarang
dengan yang hitam-hitam gitu,
tentu saja aku tidak tega
melihatnya dipaksa-paksa
sampai menangis.
Udah-udah Mang, cukupOjangan
diterusin lagi, nangis nih dia !
kataku membubarkan mereka
Kemudian aku sandarkan dia di
kaki sofa dan memberinya
minum, kulap sperma yang
membasahi mukanya. Dia
memelukku dan menangis
sesegukan, aku balas
memeluknya dan
menenangkannya, tidak peduli
lagi dengan tubuhnya yang
masih lengket-lengket.
DuhOmaaf banget Neng, abis
tadi kita kirain Neng nikmatin,
ga taunya nangis beneran !
kata Mang Obar
Iya, kalo tau Neng ga suka
ngemut kontol, kita juga ga
maksa, tadi Neng reaksinya
malu-malu sih, jadi kita juga
tambah nafsu tambah Pak Usep
Sori, sori, Na gua lupa bilang
tadi, abis mandi lu pulang aja
yah ! hiburku mengelus-elus
rambutnya
Ngga, ga papa kok Win, gua
enjoy, cuma tadi gua kaget aja
dipaksa-paksa gitu, gua kan ga
suka oral katanya setelah lebih
tenang sambil membersihkan air
mata.
Legalah kami mendengar dia
berkata begitu, kami kira dia
bakal trauma atau shock. Aku
lalu menyuruhnya mandi dan
membantunya bangkit, dia pun
berjalan sempoyongan ke
kamar mandi. Aku dan para
buruhku duduk-duduk di ruang
tamu merenggangkan otot,
kupersilakan mereka
menyantap snack dan minuman
sambil menunggu Sandra. Aku
ngobrol-ngobrol tentang
pendapat mereka sekalian
memberi pengarahan apa yang
harus dilakukan untuk
menghukum Sandra yang
terlambat nanti. Sandra
memang bukan type yang malu-
malu seperti Ivana, tapi aku
tetap harus memperingatkan
mereka agar tidak bertindak
kelewatan, aku tidak ingin
terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan gara-gara
mewujudkan fantasi gilaku.
Win, Ivana diapain aja sampe
nangis gitu ? terdengar suara
Santi bertanya dari belakang,
dia berjalan ke arahku dengan
handuk kuning terlilit di
tubuhnya, rambutnya masih
agak basah
Ga kok, cuma belum biasa
dikeroyok aja, jadi sedikitOya
gitulah ! jawabku sambil meraih
pinggangnya mengajak duduk di
sebelahku.
Mang Nurdin mengajak Santi
duduk disebelahnya saja, tapi
Santi menolaknya
Nggak ah Pak, mending simpen
tenaga aja buat si Sandra !
tolaknya
Ketika kami ngobrol-ngobrol
ada yang misscall ke HP-ku, si
Sandra, semenit kemudian
disusul bunyi bel, nah pasti ini
dia, pikirku.
Aku menyuruh buruh-buruhku
sembunyi di dapur dengan
membawa pakaian masing-
masing, aku berencana
membuat surprise sekaligus
hukuman baginya. Kupakai
celana pendekku untuk
menyambutnya (iya dong, kalau
ternyata bukan Sandra, masa
aku menyambutnya memakai
celana dalam).
Hai, sori yah telat katanya
begitu pintu terbuka gua jadi
ga usah main sama buruh-
buruhlu yah
Udah malam gini, kita baru aja
bubar, masuk ! ajakku Ngapain
aja seharian tadi ?
Nge-bowling di BSM, pada minta
nambah game melulu sih, kan ga
enak kalo gua pulang dulu, sori
banget
Sandra orangnya cantik,
rambut panjang kemerahan
direbound, tinggi kurang lebih
160cm, dadanya tegak
membusung 34B, lebih montok
daripada Ivana dan Santi,
tampangnya sedikit mirip Vivian
Chow, artis HK tahun 90an itu
loh, dengan modal itu dia
pantas bekerja paruh waktu
sebagai SPG. Hari itu dia
memakai baju putih lengan
panjang dengan dada rendah
dan rok selutut dari bahan
jeans.
Sandra
Hi, baru lembur nih ! sapanya
pada Santi
Kubiarkan mereka berbasa-basi
sebentar sampai aku menarik
rambutnya dari belakang
sehingga dia merintih kaget
Udah arisannya nanti lagi, kaya
ga tau lu punya salah aja !
AwwOaduh, ngapain sih sakit
tau ! rintihnya
Mohon pembaca jangan salah
paham mengira aku ini psikopat
atau apa, dalam bermain sex
dengannya aku memang sering
memakai cara kasar, karena dia
juga menikmati dikasari, cuma
sebatas main jambak dan
tampar sih, tidak sampai
masokisme dengan pecut, lilin,
dan sejenisnya. Karena dia suka
variasi seks kasar inilah aku
mengajukan tantangan
padanya.
Aku mendekapnya dan menciumi
bibir dan lehernya habis-habisan
sampai nafasnya mulai memburu.
Dia pun mulai meraba
selangkanganku. Setelah
memberi syarat dengan
gerakan tangan ke arah dapur,
mendadak aku melepas
ciumanku dan menepis
tangannya dari selangkanganku
Heh, dasar gatel, datang-
datang udah pengen kontol,
kalo lu mau kontol gua kasih lu
lima sekaligus ! makiku sambil
mendorong tubuhnya hingga
tersungkur di lantai
Dia menjerit kecil dan begitu
menengok ke belakang disana
sudah berdiri para buruhku
yang bugil yang senjatanya
sudah di reload, mengacung
tegak siap untuk pertempuran
selanjutnya. Sebelum sempat
bangun dia sudah diterkam
kelima orang itu.
HeeaaaOsikat ! seru mereka
sambil menyerbunya
WinOsialan lu, gila !! jeritnya
HueheheheOtenang San, gua
masih nyisain buat lu kok, kan
lu suka dikasarin, coba deh biar
tau rasanya diperkosa, dijamin
sensasional abis ! aku
menyeringai padanya
Sandra meronta-ronta, tapi dia
tidak bisa menghindar karena
kedua kaki dan tangannya
dipegangi mereka, malah itu
hanya menambah nafsu mereka.
Mereka tertawa-tawa sambil
mengeluarkan komentar jorok
bagaikan gerombolan serigala
melolong-lolong sebelum
menyantap mangsanya.
Keributan disini memancing
Ivana melongokkan kepalanya
dari kamar mandi untuk melihat
apa yang terjadi, kupanggil dia,
tapi dia bilang nanti, mandinya
belum selesai. Pak Usep
meremasi payudaranya yang
masih terbungkus pakaian
WawOteteknya gede nih, asyik !
komentarnya
Mang Obar dan Pak Andang
yang memegangi kakinya juga
tak mau kalah, mereka
menyingkap roknya sehingga
terlihatlah celana dalamnya
yang warna hitam dan pahanya
yang putih mulus, tangan-
tangan mereka segera
mengelus-elus pahanya dan
terus naik ke pangkal pahanya,
bukan cuma itu, jari-jari itu
juga mulai menyelinap lewat
pinggir celana dalam itu
menggerayangi kemaluannya.
Mang Nurdin menyusupkan
tangannya lewat bawah
kaosnya sehingga dada kirinya
menggelembung dan ada yang
bergerak-gerak. Si Endang
meraih tangan Sandra dan
menggenggamkannya pada
penisnya.
Kocok Neng, kocokin yang
saya ! suruhnya
ErwinOmhhpphhOWinOguaOmmm !
desahnya di tengah cecaran
bibir Pak Usep yang akhirnya
melumat bibirnya.
Aku menyaksikan adegan ini
dari jarak satu meteran sambil
duduk merangkul Santi.
Win, dasar kelainan seks lu,
tega amat lu ngeliat kita
digituin tiko! katanya sambil
mencubit pahaku
Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu
hot gitu goyangnya, ngaku lo !
sambil memencet payudaranya
Buka ah handuknya ngehalangin
aja ! kutarik lepas handuk yang
melilit badannya
Lu juga dong buka, biar adil !
balasnya sambil melepasi
pakaianku
Sepongin San, sambil nonton si
Sandra dismack down nih !
suruhku
Dengan posisi duduk di
sebelahku, dia merunduk
menservis penisku, jilatan dan
kulumannya menyemarakkan
acara yang sedang kusaksikan,
seperti popcorn yang menemani
nonton di bioskop. Sambil
menikmati liveshow dan
sepongan, tanganku memijati
payudaranya dan menelusuri
lekuk-lekuk tubuhnya.
Rontaan Sandra semakin lemah,
dia sudah pasrah bahkan
hanyut menikmati ulah mereka.
Aku berasumsi dia sudah
tenggelam dalam hasrat
seksualnya, hasrat terliar dalam
dirinya, dia menikmati pagutan
bibir Mang Nurdin tanpa ada
paksaan, mengocok penis
Endang dengan sukarela, juga
ketika Pak Usep menempelkan
penisnya ke mulutnya, tanpa
diminta dia sudah menjilat dan
mencium penis itu.
Telanjangin euy, biar kita bisa
ngeliat bodinya ! kata salah
seorang dari mereka
Iya bugilin, bugilin, eweOewe !!
timpal yang lain
Mereka bersorak-sorak dan
mulai melucuti baju Sandra,
pakaiannya beterbangan
kesana-kemari hingga akhirnya
tak satupun tersisa di
tubuhnya yang indah selain
arloji, cincin, dan gelang
kakinya. Kelimanya memandangi
tubuh telanjang Sandra tanpa
berkedip.
Anjrit, kulitnya mulus banget,
cantik lagi ! komentar
seseorang
Wih, teteknyaOjadi ga tahan
pengen netek eemmmO! sahut
Mang Nurdin yang langsung
melahap payudara kanannya
Sebelah sini juga bagus sahut
Pak Andang membuka lebar
kedua belah pahanya.
Bersama Mang Obar dia
memandangi daerah kemaluan
Sandra yang berbulu lebat
dengan tengahnya yang
memerah. Keduanya menjilati
vaginanya yang mulai becek.
Tubuhnya menggelinjang hebat
merasakan dua lidah
menggelikitik vaginanya. Endang
menciumi leher, bahu dan
sekitar ketiak, sambil jarinya
memilin-milin putingnya. Pak
Usep menjilati bagian pinggir
tubuhnya sambil tangannya
menelusuri punggung dan
pantatnya. Sandra hanya bisa
menggeliat-geliat dikerubuti lima
buruh kasar, mulutnya
mengeluarkan suara desahan.
Saat itu Ivana baru selesai
mandi, dia menjatuhkan
pantatnya di sebelahku, seperti
Santi tadi dia juga memakai
handuk melilit badannya,
rambutnya masih agak basah.
Buka ah ! ngapain sih malu-malu
gitu ! kataku menarik lepas
handuknya
Bekas cupangan memerah masih
nampak pada kulit payudara
dan lehernya yang putih,
kurangkul tubuhnya yang mulus
itu di sisi kiriku. Santi tidak
terlalu menghiraukan
kedatangan Ivana, dia terus
saja menjilat penisku dengan
gerakan perlahan sambil
memijat lembut buah pelirnya
Kasian ih, masa lu tega si
Sandra dikeroyok gitu ! kata
Ivana
Santai aja Na, Sandra kan ga
kaya lu, dia sih enjoy aja
dikasarin gitu, dah biasa
jawabku santai
OooOga kaya gua yah ! sehabis
berkata dia langsung
menyambar putingku dan
menggigitnya
AdawwwO!! jeritku refleks
menepis kepalanya Jahat ih,
keras gitu masa gigitnya, putus
nanti kataku mengelus-elus
putingku yang nyut-nyutan
digigitnya
Dia malah tertawa melihatku
begitu, si Santi juga ikutan
ketawa.
Lho, kan ke Sandra lu bilang
suka main kasar, baru digituin
aja dah kaya disembelih hihihi !
Santi mengejekku
Ini sih bukan kasar, tapi sadisme
gila gerutuku Dah ah, lu terusin
aja sana, jangan ngeledek ah !
kutekan kepalanya ke bawah
Sini lo ! kusambar tubuh Ivana
yang masih cekikikan ke
pelukanku
Dengan bernafsu kupaguti
lehernya dan payudaranya
kuremas-remas sehingga dia
mendesah-desah kenikmatan.
Bukan cuma menjilat, Mang Obar
juga memasukkan jarinya ke
liang vagina Sandra, diputar-
putar seperti mengaduknya
sementara lidahnya terus
menjilati bibir vaginanya.
Setelah puas menjilat, Mang
Obar menyuruh Pak Andang
menyingkir, dia angkat sedikit
pinggul Sandra dan menekankan
penisnya pada belahan
kemaluan itu, dia melenguh
ketika kepala penisnya sudah
mulai masuk, lalu ditekan lagi
dan lagi. Sandra menahan nafas
dan menggigit bibir merasakan
benda sebesar itu menyeruak
ke vaginanya.
Aaakkhh ! erangan panjang
keluar dari mulut Sandra saat
penis Mang Obar masuk
seluruhnya dengan satu
hentakan kuat.
Penis itu keluar-masuk dengan
cepatnya, suara desahan
Sandra seirama dengan ayunan
pinggul Mang Obar. Desahan itu
sesekali teredam bila ada yang
mencium atau memasukkan
penis ke mulutnya.
HeheheOliat tuh teteknya
goyang-goyang, lucu ya ! sahut
Pak Usep memperhatikan
payudara yang ikut tergoncang
karena tubuhnya terhentak-
hentak
Mulutnya enak, hangat, terus
Neng, mainin lidahnya ! kata
Endang yang lagi keenakan
penisnya diemut Sandra.
UuuhhOuuhhOiyahh ! jerit
klimaks Mang Obar, penisnya
dihujamkan dalam-dalam dan
menyemprotkan spermanya di
dalam sana.
Posisi Mang Obar segera
digantikan oleh Pak Andang, dia
melakukannya dalam posisi sama
dengan rekannya tadi sambil
tangannya menggerayangi
pahanya dengan liar. Sementara
Endang mengerang lebih
panjang, wajahnya mendongak
ke atas dan meringis. Rupanya
dia telah orgasme dan
spermanya ditumpahkan ke
mulut Sandra, dia menyedotnya,
namun sebagian meleleh keluar
bibirnya, dikeluarkannya
sebentar untuk dikocok dan
diperas, maka sperma itu pun
nyiprat ke wajahnya. Kemudian
dijilatnya lagi penis Endang yang
mulai menyusut
membersihkannya dari sisa-sisa
sperma. Tugas Sandra menjadi
sedikit lebih ringan setelah dua
orang yang telah dibuatnya
orgasme menyingkir, keduanya
kini terduduk di pinggirnya,
memulihkan tenaga sambil
sesekali megang-megang
tubuhnya. Tubuh Sandra
menggelinjang merasakan
sensasi yang selama ini belum
dia rasakan, tangannya yang
menggenggam penis Pak Usep
nampak semakin gencar
mengocoknya sehingga
pemiliknya melenguh keenakan.
AahhhOemmOgitu Neng, enakO
oohhh ! sambil tangannya
meremasi payudaranya.
Mang Nurdin yang tadi menyusu
sekarang mulai menciumi perut
Sandra yang rata, tangan
kirinya memainkan putingnya,
tangan kanannya mengelus
pantatnya.
Saat itu aku sedang menikmati
penisku dipijati oleh cengkraman
vagina Ivana yang duduk di
pangkuanku dengan posisi
membelakangi. Aku
membiarkannya mengendarai
penisku sementara aku
menikmati Sandra digangbang,
menonton sambil melakukan,
suatu kenikmatan seks yang
sejati. Kudekatkan wajahku ke
lehernya dan kuhirup aroma
tubuhnya, hhmm..wangi, habis
mandi sih, di lehernya masih
membekas cupangan mereka,
tapi aku tak peduli, kulit
lehernya yang mulus kuemut
dan kugigiti pelan membuatnya
semakin mendesah kesetanan.
Tangan kiriku mendekap Santi
sambil memutar-mutar
putingnya, tapi kemudian Santi
bangkit dan berdiri di hadapan
kami, dia dekatkan
kemaluannya pada Ivana, tanpa
disuruh Ivana menjilatinya. Santi
mendesah menikmatinya,
dipeganginya kepala Ivana,
seolah meminta dia tidak
melepaskannya. Aneh si Ivana
ini, kalau diminta mengoral
punya cowok susah, harus
dibujuk-bujuk baru terpaksa
diiyakan, tapi ini ke sesama
jenisnya tanpa disuruh kok
mau, mungkin sih akibat terlalu
horny, tapi peduli amat ah,
yang penting enjoy aja (emang
iklan LA Light ?). Kuminta Santi
menepi sedikit karena sempat
menghalangi pandanganku
terhadap Sandra. Ruang
tamuku jadi dipenuhi oleh desah
birahi yang sahut menyahut.
Sandra kembali orgasme oleh
genjotan Mang Obar, badannya
lemas bercucuran keringat,
namun mereka terus
menggumulinya. Gerakan Mang
Obar semakin cepat dan
menggumam-gumam tak jelas,
tapi sebelum spermanya keluar,
dia mencabut penisnya dan
langsung menaiki dadanya.
Misi, minggir dulu dong,
tanggung nih, pengen ngentot
pake teteknya sebelum
ngecret !
Segera dia jepitkan penisnya
diantara dua gunung kembar
itu lalu digesek-gesekkannya
penisnya disana dengan lancar
karena sudah licin oleh cairan
cinta. Tak sampai tiga menit
spermanya sudah muncrat,
cipratannya berceceran di
dada, leher, wajah dan sebagian
rambut Sandra. Setelahnya dia
menyuruh Sandra menjilati
penisnya hingga bersih
mengkilat. Dua orang lagi yang
masih menggumulinya, Mang
Nurdin dan Pak Usep,
mengangkat tubuhnya dan
membaringkannya ke kasur
udara tempat Santi digarap.
Mang Nurdin membalikkan tubuh
Sandra hingga telungkup,
pantatnya diangkat hingga
menungging, dengan posisi ini
dia memasukkan penisnya ke
vagina Sandra dari belakang.
Disodokkannya benda itu
berkali-kali dengan keras,
sehingga Sandra mengerang
makin histeris.
Pak Usep tidak meneruskan
aktivitasnya dengan Sandra, dia
meninggalkannya berduaan
dengan Mang Nurdin. Sementara
dia sendiri menghampiri kami
dan kedua tangan gemuknya
melingkari perut Santi dari
belakang, agaknya dia masih
penasaran karena belum
sempat menikmati Santi.
Telapak tangannya bergerak ke
atas membelai payudara Santi,
sedangkan yang satunya ke
bawah membelai kemaluannya,
mulutnya mencupangi bahunya.
Santi memejamkan mata
menghayati setiap elusan
tangan kasar itu pada bagian-
bagian sensitifnya, desahan
pelan keluar dari mulutnya.
Tangannya lalu menarik wajah
Santi ke belakang, begitu dia
menoleh bibirnya langsung
dipagut. Keduanya terlibat
percumbuan yang panas,
sedotan-sedotan kuat dan
permainan lidah terlibat di
dalamnya. Dengan terus
berciuman tangan kanannya
beraksi di kemaluan Santi, jari-
jari itu menggosok-gosok
belahan kemaluannya, kadang
juga masuk dan berputar-putar
di dalamnya. Permainan jari Pak
Usep yang lihai membuat tubuh
Santi bergetar dan vaginanya
melelehkan cairan. Sedangkan
tangan kirinya meraba-raba
bagian tubuh lainnya, lengan,
dada, perut, paha, pantat, dll.
Setelah mencumbunya selama
beberapa menit, lidah Pak Usep
kini menjilati lehernya dan
menggelikitik telinganya.
Di pihakku, Ivana menaik-
turunkan tubuhnya dengan
lebih kencang, diantara
desahannya terdengar kata-
kata tak jelas, tanganku juga
diraih dan diremaskan ke
payudaranya, gelagat ini
menunjukkan dia sudah di
ambang orgasme.
AaahhOWin, dikit lagi nihOenak !
erangnya sambil meremas
tanganku
Akupun merasa mau keluar juga
saat itu, maka kupacu juga
pinggulku sampai sofanya ikut
goyang, penisku menusuk makin
keras dan dalam padanya.
Penisku serasa diperas oleh
jepitan vaginanya, himpitannya
makin lama makin kencang saja.
Akhirnya cairan nikmat itu
keluar dibarengi desahan yang
panjang, aku pun mendapat
orgasmeku lima detik
setelahnya. Sperma bercampur
lendirnya meleleh keluar dari
sela-sela vaginanya membasahi
selangkangan kami dan sofa di
bawahnya. Kami saling
berpelukan tersandar lemas di
sofa, kubelai-belai lembut
rambut dan wajahnya selama
cooling down.
Goyangan lu tambah asyik nih
say, bersihin dong pake mulut,
boleh ya ? pujiku sekaligus
memintanya melakukan cleaning
service.
Nggak mau, lu sendiri aja !
jawabnya sambil manyun
Ayo dong say, lu kan baik,
please dikit aja, yahO! mohonku
lagi memencet putingnya
Ok, tapi cuma bersihin aja yah,
ga lebih katanya sambil turun
dari pangkuanku
Dia berjongkok diantara kedua
kakiku, dipegangnya penisku,
kemudian mulai menjilati sisa-
sisa cairan pada penisku hingga
bersih. Di kasur sana, Mang
Nurdin menyetubuhi Sandra
dengan ganasnya dengan
doggie style. Mata Sandra
merem-melek dan mendesah
tak karuan akibat sodokan-
sodokan yang diberikan Mang
Nurdin. Mang Obar menghampiri
mereka lalu duduk mekangkang
di depan Sandra. Tangannya
menjenggut rambut Sandra dan
menjejalkan penisnya ke dalam
mulutnya, tentu saja benda
sebesar dan berdiameter
selebar itu tidak muat di mulut
Sandra yang mungil. Susah
payah Sandra berusaha
menyesuaikan diri, pelan-pelan
kepalanya mulai naik-turun
mengisap benda itu. Desahan
tertahan masih terdengar dari
mulutnya, pada dinding pipinya
kadang terlihat tonjolan dari
penis Mang Obar yang bergerak
maju-mundur. Mang Obar
mengelus punggung dan
dadanya sambil menikmati
penisnya dikulum Sandra. Mang
Nurdin hampir klimaks,
genjotannya semakin cepat, tak
lama kemudian dia mendesah
panjang dengan mencengkram
erat bongkahan pantatnya,
spermanya menyemprot di
dalam vaginanya, ketika dia
cabut penisnya, nampak cairan
kental itu masih menjuntai
seperti benang laba-laba,
sebagian meleleh di sekitar
pangkal paha Sandra.
Melihat vagina Sandra
nganggur, Mang Obar
menyuruhnya menghentikan
kulumannya dan naik ke
pangkuannya. Sandra yang
klimaksnya tertunda karena
Mang Nurdin sudah keluar
duluan segera menaiki penis
Mang Obar. Sebelum mulai, pria
kurus itu meminta tissue basah
pada Endang untuk mengelap
ceceran sperma di sekujur
tubuh Sandra. Sandra menaik-
turunkan pinggulnya dengan
gencar di atas penis Mang Obar,
payudaranya pun ikut terayun-
ayun seiring gerak badan.
Pemandangan itu membuat
Mang Obar tidak tahan untuk
tidak melumatnya, mulutnya
menangkap payudara yang
kanan dan mengenyot-
ngeyotnya, sementara
tangannya bergerilya menyusuri
lekuk-lekuk tubuh yang indah
itu. Keringat sudah bercucuran
membasahi tubuh Sandra yang
sudah bekerja keras melayani
lima pria sekaligus, rambutnya
sudah acak-acakan, namun
itulah yang menambah
pesonanya. Desahan nikmat
Sandra memacu Mang Obar
untuk terus melahap dada,
leher, dan ketiaknya.
Setelah puas melakukan
foreplay bersama Santi, Pak
Usep menyuruhnya nungging,
masih dalam posisi berdiri, Santi
mencondongkan badan ke
depan dengan tangan bertumpu
pada kepala sofa. Santi yang
sudah horny berat itu pun
tanpa sungkan-sungkan
mengulurkan tangan ke
belakang membuka bibir
vaginanya, gatel minta ditusuk.
Mang Obar mengerti bahasa
tubuh Santi, dia pun segera
melesakkan penisnya masuk ke
lubang itu.
AarrghhOenak Mang, terusO
terus ! jerit Santi
Adegan ini berlangsung tepat di
sebelahku sehingga aku dapat
mengamati ekpresi wajah Santi
yang sedang menikmati sodokan
penis Mang Obar, dia merintih-
rintih dan sesekali menggigit
bibir bawah. dari belakangnya
Mang Obar menggerayangi
tubuhnya sambil terus
menggenjotinya, payudaranya
tampak berayun-ayun
menggodaku iseng meremas
salah satunya. Beberapa kali
tubuh Santi tersentak-sentak
kalau Mang Obar memberikan
sodokan keras padanya. Aku
suka sekali melihat wajahnya
yang seksi saat itu.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net