Koleksi Gambar Bokep Import @ ramon84.org
ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Nini Yang Misterius

Pada pertengahan tahun 1996,
aku sedang makan siang di
cofee chop sebuah hotel di
bilangan Sudirman dengan
seorang account executive
untuk urusan pelaksanaan
promosi produk perusahaan
dimana aku bekerja. Kami duduk
di meja dekat pintu masuk dan
aku mengambil kursi yang
menghadap ke dalam.
Selesai menikmati makanan
yang kami pesan, kami
melanjutkan pembicaraan sambil
minum kopi. Aku tidak sadar
bahwa berjarak 3 meja searah
pandanganku, duduk
sekelompok tamu yang terdiri
dari 3 wanita dan 2 pria. Lurus
dengan pandangan mataku
tampak seorang wanita cantik
sekali berwajah indo yang
kuperkirakan berumur 28
tahunan. Saat pandangannya
tepat beradu dengan mataku,
kulempar senyuman kecil di
bibirku. Beberapa kali
pandangan kami bertemu
karena memang arahnya yang
sama.
Aku pergi ke kamar kecil.
Sebelum aku berdiri, aku melirik
dengan sudut mataku ke arah
wanita tersebut lalu
kutinggalkan meja menuju toilet
pria yang terletak di ujung
lorong belakang resepsionis
hotel. Pada saat aku selesai
dengan urusanku di toilet, aku
keluar dan kembali ke arah
coffee shop. Belum jauh aku
melangkah, tampak sang wanita
cantik itu berjalan juga ke arah
toilet hingga kami berpapasan.
"Hai.. Sudah selesai makannya?"
sapaku iseng.
"Virano namaku, boleh
berkenalan?" Mendadak
keberanianku timbul sambil
kuulurkan tanganku.
"Nini, baru selesai.. Sebentar lagi
jalan.., kamu masih lama?"
katanya sambil menjabat
tanganku.
"Sebentar lagi juga selesai, lalu
kembali ke kantor" jawabku.
"Hubungi aku ya.." katanya
sambil memberi secarik kertas
yang telah dipersiapkannya dan
telah dilipat menjadi kecil yang
langsung kumasukkan ke
kantongku.
Tak lama kemudian kutinggalkan
coffee shop tersebut tanpa
melirik lagi kepadanya dan aku
kembali ke kantor, meneruskan
pekerjaanku. Malamnya di
rumah, seperti biasanya aku
keluarkan seluruh isi kantongku
dan meletakkannya di meja
kerjaku tanpa memperhatikan
satu persatu, tetapi tidak
kubuang. Biasanya, setelah
beberapa hari paling lama 2
minggu, aku selalu
membersihkan meja kerjaku di
rumah dengan memperhatikan
isi kertas yang ada satu
persatu sebelum aku
membuangnya. Saat kubereskan
10 hari kemudian, aku
menemukan secarik kertas
terlipat kecil yang diberikan
oleh Nini yang berisikan sebuah
nomor telepon rumah. Untung
saja aku temukan karena kalau
tidak aku sudah lupa
dengannya. Langsung saja
kumasukkan dalam memory HP-
ku. Malamnya kucoba menelepon
Nini. Ternyata dia tidak di
rumah. Keesokan paginya aku
mencobanya lagi.
"Hallo, bisa bicara dengan Nini?"
tanyaku di telepon.
"Nini di sini, dengan siapa"
tanyanya kembali.
"Virano, baru bangun ya?"
kataku.
"Hai.., kok lama baru telepon,
aku tunggu sejak kita ketemu
lho, nanti sore ada acara
nggak?, tanyanya.
"Justru aku telepon mau ngajak
ketemu, jam 7:30 gimana?"
tanyaku.
Sorenya aku menuju ke sebuah
restoran di lantai 26 lantai
paling atas sebuah gedung di
bilangan Sudirman, sebuah
restoran yang terkenal dengan
steaknya dan bersuasana
romantis dan agak remang
pada malam hari.
Aku menunggu sekitar 15 menit
sebelum Nini datang dengan
anggunnya, berjalan dengan
kaus putih atasan ketat tanpa
lengan memperlihatkan tonjolan
buah dadanya yang
kuperkirakan berukuran 36B,
rok mini bahan kulit ketat
warna coklat, dengan tinggi
lebih dari 170 cm,
memperlihatkan bentuk kaki
panjang yang indah menopang
sepasang gundukan pantat
bulat yang menggemaskan
untuk segera diremas. Dengan
rambut ikal tergerai sampai
bahu, menunjang pancaran
sinar menggemaskan dari wajah
sexy menggairahkan yang
mengundang minat setiap lelaki
untuk segera mencicipinya saat
memandangnya.
Dia mengambil kursi di
hadapanku sehingga aku dapat
memandang wajah sexynya
sepuas-puasnya, apalagi dengan
sinar lampu yang remang-
remang hingga menambah
gairah hangat yang terasa
mengalir di sekitar pahaku. Aku
memesan Rib Eye Medium Well
dan Nini memesan Tenderloin
Well Done beserta sebotol red
wine. Kami mengobrol panjang
lebar tentang dunia hiburan
sampai dunia usaha dan
ekonomi.
Nini adalah seorang wanita yang
enak diajak mengobrol,
pengetahuannya luas dengan
gaya bicara serta body
language yang mengagumkan
sehingga membuatku sedikit
terangsang. Selama
pembicaraan, seringkali Nini
memandang tanganku bila aku
sedang meletakkan tanganku di
atas meja, entah apa yang
dipikirkannya.
Botol wine kami habiskan pada
saat jam telah menunjukkan
pukul 22:15. Tak terasa hampir
2 jam lebih kami berada di
tempat itu. Kupanggil waiter
untuk meminta bill. Setelah
kubayar, kami berjalan menuju
lift untuk menuju ke tempat
parkir.
"Kamu ikuti mobilku ya.."
bisiknya.
"Mau kemana?" tanyaku. Nini
tidak menjawab pertanyaanku.
"Tuh mobilku" katanya sambil
menunjuk sebuah Bulldog E Class
warna putih yang diparkir
dekat pos satpam.
"OK, mobilku itu" ujarku sambil
menunjuk sebuah Honda Accord
warna coklat tua.
Kami keluar dari tempat parkir
menyusuri Sudirman ke arah
selatan dan aku mengikuti Nini
memasuki kompleks perumahan
mewah dan hanya memerlukan
waktu 10 menit untuk sampai di
sebuah rumah yang besar.
Seorang penjaga membuka
pintu pagar dan Nini langsung
memasukkan mobilnya ke garasi
sedangkan aku sampai depan
garasi saja. Tampak sebuah
mobil lain tertutup kain di
garasinya.
Aku diajak Nini masuk melalui
pintu garasi lalu Nini mengambil
sebotol wine dari lemari es-nya
beserta 2 buah gelas dan
menyodorkannya padaku. Aku
tuang wine itu masing-masing
setengah gelas dan kuberikan
sebuah pada Nini. Lalu Nini
menggandeng tanganku dan
membawaku memasuki sebuah
kamar. Kamar tidurnya yang
besar mungkin berukuran 10 x
8 m, tampak lemari besar
dengan berbagai hiasan, piagam
dan foto. Satu set sofa dan
kursi malas melengkapi isi kamar
itu.
Aku tertegun agak lama karena
kulihat sebuah bingkai foto
besar di atas ranjang, foto Nini
tanpa busana namun terkesan
sangat artistik dimana Nini
berpose dalam keadaan duduk,
menaikkan sebelah kakinya
untuk menutupi vaginanya
serta kedua tangannya
disilangkan untuk menutupi
sepasang buah dadanya.
"Vir.., kenapa bengong.. Bagus
kan fotoku? Mari kita minum
lagi"
Cahaya redup menambah
romantisnya suasana ditambah
suara musik dari sebuah tape di
pinggir ranjang dengan suara
lembut di seluruh sisi kamar
tersebut. Sound System yang
bagus. Aku minum seteguk lalu
dia mendorongku duduk di sofa
yang ada senderan tangannya,
gelas wine yang dipegangnya
diberikan padaku.
"Kamu duduk di situ baik-baik
ya, aku mau menari untukmu"
suaranya lirih.
Suara musik berirama slow
terdengar lembut, aku duduk di
muka Nini. Musik semakin lama
semakin menghentak. Nini
menggoyangkan badannya
mengikuti irama sambil
menatapku tajam. Nini mulai
menggerakkan tangannya.
Berawal dari mulut, dibasahinya
bibirnya dengan jilatan lidahnya.
Dimasukkannya jari-jari
tangannya lalu dihisap.
Kunikmati adegan itu sambil
menatap ke arah Nini.
Dikeluarkannya sedikit desahan
lalu diturunkannya tangannya
ke bawah perlahan menyusuri
tubuhnya.
Bergerak dengan lambat di
buah dadanya, diremas-remas
dengan nafsu yang mulai hadir
membara. Tangannya pun mulai
turun melewati perut ke arah
bawah. Dipandanginya aku
dengan mata penuh nafsu dan
mulut mendesah-desah. Kakinya
dibuka lebar lalu melangkah
mendekatiku, satu kakinya
dinaikkan ke kursi di antara
kedua pahaku, rok mininya
terangkat ke atas sehingga
tampak celana dalamnya yang
kecil hanya berbentuk segitiga
menutupi liang vaginanya.
Pantatnya diputar-putar sambil
tangannya terus bergerilya di
dadanya.
Kakinya dijulurkan menyentuh
dan menekan penisku yang
mulai menegang. Aku menarik
kakinya, tapi Nini dengan halus
menarik kembali kakinya hingga
membuatku penasaran. Dia
berbalik sambil mulai menarik
kausnya ke atas melewati
kepala. Tidak terlihat ada BH
yang melingkar di dadanya
hingga aku sempat heran
karena sedari tadi aku tidak
mengetahui bahwa Nini tidak
mengenakan BH.
Dengan perlahan sambil
tangannya meraba pantatnya
sendiri, lalu Nini menjulurkan
tangan, ditariknya kepalaku
sambil membungkukkan
badannya sehingga pantatnya
berada hanya 10 cm dari
hidungku. Dengan rok yang
telah terangkat ke pinggul,
tampak Nini hanya mengenakan
G-String tipis. Nini memasukan 2
jari ke dalam vaginanya dan
mengocoknya beberapa kali
sambil kepalanya terus menoleh
ke arahku. Aku memajukan
kepalaku dan kupegang sambil
kukecup pantatnya tetapi
goyangan dan gerakan
memutarnya yang lembut
kembali menggagalkan usahaku.
Kembali dia melenggok dan
memutar pinggulnya. Jarinya
dikeluarkan dari vaginanya,
disodorkan padaku dan segera
kujilat dan kukulum kedua jari
itu, lalu Nini mengocok jarinya di
dalam mulutku. Penisku sudah
ereksi dengan sempurna di
dalam celanaku yang
menggelembung. Aku berusaha
untuk membuka celanaku, tapi
Nini dengan sigap menarik
kedua tanganku dan
meletakkannya di pinggangnya.
Aku mencoba memerosotkan G-
Stringnya, tapi dengan
erotisnya dia mencegahnya
dengan menarik tali pinggir G-
Stringnya ke atas.
Akhirnya Nini berjongkok dan
mendorongku untuk bersandar,
lalu dengan cekatan Nini
membuka celana panjang dan
celana dalamku melewati kedua
kakiku hingga seketika penisku
lepas terbebas dan langsung
mencuat tegak ke atas.
"Woow.. Soo big.., it must be
nice.." desah Nini perlahan.
Sambil tetap menggoyangkan
pantatnya, Nini duduk di
pangkuanku dan membuka
kancing-kancing bajuku sampai
aku telanjang bulat, sementara
dia masih mengenakan rok yang
telah terangkat sampai
pinggang dan G-Stringnya.
"Nini.. YouEre soo great.., very
nice breast" ujarku sambil
mepegang lembut buah dadanya
dengan kedua tanganku.
"Virano.. Very big.., " want to
taste it, may "?" pintanya.
Nini memegang penisku sambil
menundukkan kepala dan mulai
mencium bibirku dengan lembut.
Dijelajahinya bibirku dari ujung
ke ujung. Lidahku mencari
lidahnya namun dengan lihainya
Nini menahannya di dalam
sehingga aku hanya dapat
menciumi bibirnya saja. Tiba tiba
Nini menjulurkan lidahnya dan
menghisap lidahku sehingga
lidahku tertarik masuk ke dalam
mulutnya.
"Oughh..", teriakku kaget.
Nini tersenyum nakal sambil
turun dari pangkuanku.
Dipegangnya penisku, bibir
sexynya mulai mencium ujung
lubang kecilnya lalu dijilatnya.
Rasa ngilu terasa menyengat
seluruh tubuhku. Kedua kakiku
diangkatnya ke atas senderan
tangannya lalu pantatku
ditariknya sehingga aku
terduduk di ujung sofa. Lalu Nini
memasukkan jari tengah tangan
kanannya ke mulutnya dan
mengocoknya beberapa kali
kemudian mencari anusku yang
terbuka. Jarinya memutar di
bibir anusku lalu didorongnya
memasuki anusku.
Dijilatinya seluruh batang
penisku, lalu diciumnya kembali
ujung penisku sambil diberinya
sedotan ringan yang semakin
lama semakin keras sambil
lidahnya tetap bermain di ujung
lubang penisku. Dengan sedotan
yang semakin keras, otomatis
penisku masuk ke dalam
mulutnya sedikit demi sedikit
dan setengah panjang jarinya
sudah berada di dalam anusku.
"Oohh.. Ni.. Feel soo great for
me.., how can you?" deashku
sambil kutengok ke bawah, Nini
sedang berkonsentrasi
melakukan teknik itu sambil
matanya menerawang ke atas.
Dengan tekniknya, penisku
semakin masuk ke dalam
mulutnya, sudah 3/4 nya, sudah
terasa sampai ke ujung dalam
mulutnya. Nini mulai memutar
kepalanya ke kiri dan ke kanan
sambil terus menyedot penisku
hingga terasa semakin masuk.
Kulihat Nini menahan nafasnya
dan terus berusaha untuk
mendorong kepalanya ke
bawah. Akhirnya seluruh
penisku berhasil masuk ke
dalam mulutnya sampai bibirnya
dapat menyentuh dasar penisku
yang berbulu. Jarinya tetap
diam berada di dalam anusku.
"Ni.. ni.., Soo deep.., very.. Nice.."
aku mendesah.
Nini telah menunjukkan keahlian
oralnya padaku, tepi ternyata
belum berhenti sampai di situ.
Nini tetap menahan penisku di
dalam mulutnya yang ujungnya
telah masuk sebagian ke dalam
tenggorokannya, lalu dia
melakukan gerak menelan
dengan mulutnya berkali kali
dan mulai mengocok anusku
dengan jarinya, semakin lama
semakin dalam rasanya hingga
penisku serasa dipijit-pijit,
dikocok dan diperas. Anusku
juga dikocoknya dalam-dalam.
Aku tidak dapat
menggoyangkan pantatku
karena tertekan oleh tangan
kiri Nini. Gerakan menelan dan
kocokan jarinya semakin lama
semakin cepat hingga akhirnya
terasa ada desakan sperma
mendorong keluar dari penisku.
Nini mengetahui hal ini hingga
dia tekan jarinya sedalam
mungkin lalu berhenti, demikian
juga dengan mulutnya didorong
sedalam-dalamnya sehingga
bibirnya menekan dasar penisku
bersamaan dengan keluarnya
spermaku yang langsung masuk
di tenggorokannya.
"Ni.. ni.. aahh.. iEm cumming.."
jeritku.
"I never feel like this before..,
very nice" ujarnya.
Tak terlihat ada sperma di
mulutnya karena semuanya
telah langsung tertelan di
tenggorokannya. Dengan
sangat perlahan dikeluarkannya
penisku dari mulutnya sambil
tetap menahan sedotan
mulutnya, jarinya pun ditarik
perlahan hingga menimbulkan
rasa sangat nikmat pada
anusku.
Nini melakukan proses gerakan
menelan sampai aku orgasme
kira kira dalam waktu semenit.
Berarti Nini tidak bernafas
selama itu juga, karena lubang
nafas di tenggorokannya
tertutup oleh penisku.
Aku bersandar di kursi
menikmati orgasme paling
nikmat yang pernah kurasakan
selama ini. Nini meletakkan
kepalanya di atas pahaku sambil
melirik kepadaku. Tampak rona
puas di wajahnya atas
keberhasilannya menaklukkan
seorang lelaki. Tak ada keringat
di tubuh kami berdua karena
memang kami tidak bergerak
untuk mencapai orgasmeku, Nini
hanya menggerakkan mulut,
leher dan jarinya, sedangkan
seluruh badanku diam hanya
sesekali saja otot keggelku
berkedut.
Nini bangkit menarik tenganku
dan membawaku ke ranjangnya,
Nini tahu bahwa aku sangat
lemas. Dibaringkannya aku di
ranjangnya yang empuk. Aku
tiduran sambil memejamkan
mataku untuk beristirahat. Lalu
Nini berbaring di sisiku sambil
sesekali tangannya mengelus
penisku. Aku tahu, Nini patut
mendapatkan yang terbaik
yang pernah aku berikan pada
seorang wanita, karena itu aku
bertekad untuk habis-habisan
memuaskan dia.
Tak lama kemudian aku bangkit
berdiri menuju kamar mandi
yang terletak di dalam
kamarnya, sebuah kamar mandi
mewah dengan bathtub bundar
besar di tengah ruangan, cukup
untuk 2 orang sekaligus.
Sewaktu aku kembali ke dalam
kamar, kulihat Nini telah
telentang sedang memejamkan
matanya dan tidak menyadari
kalau aku sudah kembali.
Perlahan aku berjongkok di
lantai dekat kakinya,
kutundukkan kepalaku, kukecup
ringan jempol kakinya. Nini agak
terkejut hingga menarik
kakinya, tapi dijulurkannya
kembali. Aku melanjutkan
mengecup seluruh jari kakinya
lalu mulai mengulum jempol dan
menghisapnya berkali kali.
Kuulangi untuk seluruh jarinya
kiri dan kanan.
"Viir.. Geli.. Tapi enaak.. Vir.."
rintihnya.
Kulanjutkan penjelajahan
lidahku di telapak kakinya
sambil memberi gigitan-gigitan
kecil di permukaannya hingga
Nini menggoyang-goyangkan
kakinya karena kegelian. Lalu
aku naik ke betisnya, aku hisap
belakang lututnya dan terus
menelusuri pahanya hingga naik
ke atas. Kujilati lipatan pangkal
pahanya sambil sesekali
menyentuh vaginanya yang
masih tertutup G-String dan
rok mininya masih berada di
pinggang. Nini ikut terbawa
nafsuku.
"Lick me.. Lick me.. Suck my clit
pleassee..", ujarnya di tengah-
tengah jilatanku.
Aku naik ke atas. Kutindih
tubuhnya dan mulai kucium
bibirnya, beradu lidah sambil
menekankan penisku ke
klitorisnya dan menggeseknya
maju mundur, kujilat telinganya
dan kugigit perlahan. Aku hisap
sekeras-kerasnya, kujilat
bibirnya tanpa mencium. Dia
mengelinjang.
"Go down.. Go down.. Vir..",
pintanya semakin bergairah.
Aku jilat lehernya dengan penuh
nafsu. Semakin turun, kujilat
dadanya dan kugigit kecil
putingnya.
"Ssff.., Vir.. Aaugghh.. More..
Moree.."
Kujilat juga perutnya. Semakin
ke bawah, masih ada rok mini
yang mengganggu keasyikanku.
Sambil kuhisap putingnya,
kubuka roknya lewat kaki serta
kutarik G-Stringnya lepas.
Kulanjutkan menjilati bagian
perut dan kuhisap ringan
pusarnya sampai bagian bawah
perutnya. Kujilat klitorisnya
sebentar lalu kuteruskan ke
bagian sisi vaginanya sambil
sesekali kuhisap agak kuat dan
kupermainkan kembali
klitorisnya dengan bibirku sambil
terkadang kusedot. Sementara
itu kumasukkan jariku sedikit
ke dalam vaginanya hingga
membuat dia semakin
penasaran. Badannya
bergoyang menahan sensasi.
Tangannya meremas-remas
dadanya sendiri. Dia sudah
hilang kesadaran hingga kini
gairahnya yang mengontrol.
"Pleasee lick it, Vir.. Oohh.. Viir.."
jerit Nini.
Tetapi aku belum mau
menuntaskan permainan oralku.
Kuangkat tinggi-tinggi kakinya
dan kulanjutkan jilatanku
menuju anusnya tanpa
menyentuh vaginanya hingga
membuatnya semakin
blingsatan. Kujilat ringan
anusnya lalu kucium
pinggirannya. Kubalikkan badan
Nini karena dengan posisi
demikian, ruang gerakku terasa
kurang leluasa. Kuambil bantal
lalu kusisipkan di bawah perut
Nini sehingga sekarang posisi
pantatnya menungging dengan
kepalanya menekan ke ranjang.
Kembali kucium dan kujilat
bongkahan pantatnya dari
ujung atas belahan pantatnya
serta menelusuri belahannya ke
bawah, kugunakan kedua
jempol tanganku untuk menarik
kedua pantatnya sehingga
lubang anusnya terbuka lebar.
Kujulurkan lidahku dan menyapu
melingkari permukaan anusnya.
"Ooughh..", jeritnya keenakan
ketika lidahku menyentuh
lubangnya. Kulingkari
permukaannya sambil kudekap
seluruh anusnya dengan bibirku,
lalu kudorong lidahku ke dalam
anusnya dengan keras sambil
kuputar lidahku beberapa kali.
"Aah Vir.. Deeper.. Deeper.."
rintihnya sambil menggelengkan
kepalanya keenakan. Lalu
dengan tiba tiba, kutarik
lidahku dari anusnya dan
kusedot sekuat kuatnya.
"Ooh.. What are you doing.. "tEs
soo nice.. " can orgasm with
that.. " never have that
before.." teriak Nini. Lalu
kuulangi teknik itu beberapa
kali sampai Nini memohon..
"Vir.. Stop.. Stop.. Please.. Bring
in your big cock inside me.., " am
eager to have it in my cunt.."
Desahnya dengan suara yang
sangat merangsang.
Aku balikkan tubuhnya. Nini
membuka kakinya sehingga
vaginanya terpampang dengan
jelas, tapi aku belum selesai
dengan oralku. Kujilat kembali
klitorisnya dan kupermainkan
dengan bibirku dan kusedot
kuat kuat. Setelah puas
memainkan klitorisnya, lalu aku
mulai menyorongkan wajahku
ke arah kemaluannya untuk
menjilatinya. Terasa bau khas
kemaluan wanita yang harum
dan merangsang.
"Aauuww.. Aahh.. Sshh.. Terus
Vir, terruuss.. Oohh.."
Kuhisap air kemaluannya sampai
kering, terasa asin tetapi
nikmat. Seiring dengan hisapan-
hisapanku, tubuhnya kembali
semakin bergerak liar.
Kumainkan liang kemaluannya
dengan lidahku, kuputar-putar
dan kumasukkan lidahku ke
dalamnya. Terasa lidahku
seperti memasuki sesuatu yang
hangat dan sempit. Kumainkan
kemaluannya dengan lidahku
hingga membuatnya merasa
akan orgasme. Badannya
menegang dan pahanya
menghimpit kepalaku yang
membuatku susah bernafas.
"Oohh.. Ooww.. Ooww.. Uuhh..
Aahh.." rintihnya lemas menahan
nikmat ketika hanya dalam 2
menit kemudian cairan
orgasmenya yang hangat
kembali menyembur keluar.
Kemaluannya kini semakin basah
karena dia baru saja orgasme
dan kuhisap semua cairan yang
ada dalam kemaluannya.
"Kau hebat sekali Vir,
membuatku terangsang ke
langit ketujuh dan orgasme,
nikmat sekali cumbuanmu. Tidak
salah penilaianku saat kita
dinner tadi", bisiknya halus. Aku
hanya tersenyum.
Lalu Nini menarik dan mencium
bibirku dengan lembut, penuh
dengan perasaan. Lidahnya
menari-nari di dalam mulut,
bermain dengan lidahku.
Sementara tangannya meremas
pantatku perlahan.
Ditidurkannya aku kembali ke
sisinya. Ciumannya bergeser ke
bawah, ke leherku. Dijilatinya
perlahan, kembali lagi ke
telingaku, lidahnya menari-nari
di dalam telinga dan menyedot
perlahan ujungnya hingga
membuatku melayang dan
birahiku bangun kembali.
Kemudian elusannya di dada
berubah menjadi remasan di
penisku yang telah mengeras
kembali sejak tadi. Kembali
kutelentangkan tubuhnya di
ranjang dengan pantat kuganjal
bantal. Kuarahkan penisku ke
liang vaginanya dan kudorong
sedikit. Aku mulai
menggoyangkan pantatku ke
kanan kiri secara perlahan
seakan mengorek dan
menusuk-nusuk dinding
vaginanya.
"Ooh.. Ooh.." Nini menjerit-jerit
melampiaskan kenikmatannya
sambil menggoyangkan
pinggulnya dengan gerakan
memutar. Tangannya memegang
pinggulku lalu menariknya
dengan kencang sehingga
terasa sangat dalam penisku
masuk di vaginanya.
"Come on vir.. Come on virr.. i
am almost.. cuum.." Nini
mengerang ngerang.
Kutekuk kedua lulutku lalu
kuangkat kaki Nini sampai
lututnya menyentuh dadanya
dan kutindih dia sambil memaju-
mundurkan pantatku sehingga
aku dapat melakukan penetrasi
sangat dalam sampai terasa
tulang kemaluanku beradu
dengan tulang Nini. Kurasakan
ada dorongan luar biasa dari
dalam tubuhku dan akan keluar
melewati penisku. Kupercepat
goyanganku, kudorong semakin
dalam pinggangku lalu setiap
kali penisku masuk dalam dalam,
kukedutkan ototku hingga
menyebabkan penisku semakin
membesar dan mengeras.
"I am cumming.. " am cumming..
Ni.." teriakku.
"Me too, me too.. Please.. DonEt
stop.." Nini balas berteriak.
Akhirnya kurasakan badan Nini
mengejang kuat sambil
tangannya mencengkeram
punggungku kuat kuat, saat itu
pula spermaku kusemburkan di
dalam vagina Nini sambil
kudorong sedalam-dalamnya ke
vagina Nini. Terada ada 5-6
semburan yang kukeluarkan
dan setiap semburan
mengakibatkan semakin
kencangnya cengkeraman Nini di
punggungku.
"Viirr.. Ooh.. Nikmaatt.. Aku
keluar lagi Virr.." Nini berteriak.
Badanku sedikit kuangkat
untuk memberi ruang bagi Nini
meluruskan kakinya dan
badanku ambruk di atas
badannya sambil kucium kening
dan pipinya. Kulirik jam di
dinding. Jam 2:12.
*****
Kami tertidur telanjang bulat
berpelukan dengan AC yang
masih menyemburkan udara
dingin. Aku terbangun saat
kurasakan kehangatan
menyelimuti penisku. Terasa
pelukanku kosong tapi penisku
terasa geli. Kubuka mataku dan
kulihat Nini sedang mengulum
dan menjilati penisku. Terasa
jilatannya berbeda dengan yang
aku rasakan kemarin. Kali ini Nini
menjilati dan mengulum penisku
seperti makan lollipop, dijilatnya
mulai pangkal sampai ujungnya
bergantian, kadang zakarku
dikulum dan disedotnya hingga
menyebabkan aku kegelian.
"Nini.. Breakfast ya?" tanyaku.
"Hmm.. Hmm.." gumamnya.
Aku tarik kakinya untuk
mengajaknya berposisi 69. Nini
menyodorkan vaginanya ke
mulutku yang langsung kujilat
dan kumasukkan lidahku ke
dalamnya. Penisku kembali
mengeras dan tegak ke atas.
Nini bangkit lalu memintaku
tiduran. Lalu Nini tiduran pula
berhadapan sambil memelukku.
Nini mengangkat kaki kanannya
dan ditumpangkannya ke kakiku
sehingga vaginanya terbuka
menantang.
Ditariknya pantatku lalu penisku
diarahkannya ke lubang
surganya. Tidak terlalu sulit
untuk masuk. Saat setengah
kepalanya sudah masuk, aku
beri dorongan ringan tapi Nini
menahan pinggulku. Bibirku
diciumnya dan lidahnya
menyeruak ke dalam mulutku
mencari lidahku. Kami berciuman
dengan hangatnya dengan
penuh nafsu birahi.
Sambil berciuman, terasa
penisku seperti tertarik masuk
padahal aku tidak
mendorongnya. Kupegang
pinggul Nini yang ternyata diam
juga, tetapi kembali terasa
penisku memasuki vaginanya
dan bibir vaginanya berdenyut-
denyut menekan hingga
membawa penisku masuk.
Jarakku dengan Nini semakin
dekat dan akhirnya menempel
bersentuhan. Kuraba penisku,
ternyata semuanya sudah
masuk ke dalam vagina Nini.
Terlihat bintik keringat di
wajahnya pertanda Nini telah
mengeluarkan tenaganya untuk
menyedot masuk penisku.
Menakjubkan.., Nini ternyata
memiliki teknik bercinta yang
sangat luar biasa. Dia telah
memperlihatkan teknik oral sex
yang tidak ada duanya, dan
sekarang dia tunjukkan pula
teknik penetrasi yang jarang
dimiliki oleh wanita. Konon hanya
wanita dari pulau tertentu saja
yang menguasaii teknik ini,
padahal Nini adalah keturunan
dan lahir di kota yang terkenal
dengan kecantikan para
wanitanya di ujung utara
"ndonesia ini.
Saat penisku sudah masuk
semua, terasa penisku masih
dipijit-pijit tapi tanpa disedot
lagi. Akhirnya dia
menggulingkanku dan dia naik
menduduki penisku. Buah
dadanya yang sangat indah
kupegang dan kuremas-remas.
Lalu Nini mulai memaju-
mundurkan pantatnya
mengocok penisku sambil
menekankan klitorisnya pada
batang penisku. Gerakannya
semakin cepat lalu diubah
dengan gerakan memutar yang
semakin cepat seperti penari
hula-hula. Kuremas buah
dadanya semakin kencang.
Penisku terasa diperas dan
dipelintir.
"Nini.. Ooh.. Kamu.. Hebaat Ni.."
desahku.
"Kontol kamu sih enaakk.. Jadi
aku hilang kontrol.." katanya.
"Teruuss Ni, jangan berhenti..
Aku mau keluar.. Kamu masih
lama nggak..?" tanyaku.
"Keluarin aja, aku juga mau
keluar.." jeritnya. Putarannya
semakin cepat lalu tubuh Nini
mengejang hebat, terasa
vaginanya semakin licin.
"Viirr.. Akku.. Keluar.. Dulu vir.."
jeritnya sejadi-jadinya.
Tetapi Nini tahu apa yang harus
dilakukan, putaran pinggangnya
tidak berhenti, keringat sudah
bercucuran dari wajah, leher
dan seluruh badannya hingga
menjadikan kulitnya semakin
mengkilat basah dan semakin
sexy.
"Nini.. Aku juga mau keluar.."
teriakku.
Nini melepaskan vaginanya dari
penisku dan digantikan oleh
mulutnya. Penisku dikulum sambil
dikocoknya dengan kecepatan
tinggi. Tak lama kemudian
orgasmeku tiba dan spermaku
menyemprot hingga mengenai
langit-langit mulut Nini. Nini
berusaha tetap mengulum
penisku. Setelah selesai dengan
orgasmeku, tampak Nini
menelan spermaku lalu dia naik
ke tubuhku dan mencium
bibirku.
Kami berciuman bibir. Saat
lidahku kujulurkan untuk
membuka bibirnya, terasa ada
cairan dari mulut Nini yang
memasuki mulutku, ternyata itu
adalah spermaku sendiri. Nini
menjulurkan lidahnya dan
menyedot spermaku kembali.
Lalu kami berciuman sambil
bermain-main dengan spermaku.
Setelah beristirahat, kami mandi
bersama di bathtub dalam
kamar mandinya dan Nini keluar
duluan dari kamar mandi. Saat
aku kembali ke kamar, aku
terkejut melihat satu sisi kamar
Nini yang tadinya tertutup
gorden tebal telah berganti
menjadi kaca tebal dari atas
sampai ke bawah dan ada dua
daun pintu yang terbuka dan
berhubungan langsung dengan
taman kecil yang tertutup
dengan kolam ikan kecil.
Nini tampak sudah duduk di luar
hanya dengan memakai celana
ketat pendek sekali dan atasan
kaus longgar pendek
transparan sehingga jelas
terlihat bulatan dan puting
buah dadanya. Aku hanya
memakai celana dalam. Di meja
telah tersedia dua cangkir kopi,
dua gelas orange juice dan dan
beberapa roti yang telah diberi
selai.
"Vir.. Ayo kita relax dulu di sini..
sambil lunch.." katanya.
"Haah, lunch?? Jam berapa
sekarang..?" tanyaku.
"Eleven OEclock darling.., kamu
ketiduran nyenyak tadi pagi"
ujarnya.
"Kok aku nggak tahu kalau
sudah pagi, nggak ada sinar
masuk sih" ujarku.
"Memang kamar ini aku bikin
sedemikian rupa hingga tidak
mungkin ada sinar masuk, jadi
kalau sudah di dalam, bisa-bisa
kita tidak tahu waktu kalau
tidak melihat jam" ujarnya lagi.
Wah, wah, aku jadi semakin
bingung, siapa Nini ini
sebenarnya?
Akhirnya aku duduk
berhadapan dan menikmati
lunch yang tersedia. Terpaksa
aku bolos kerja hari ini, entah
alasan apa yang harus aku
kemukakan ke kantor nanti.
Kami berbincang santai sambil
sesekali membahas teknik
permainan sex masing-masing.
Kami sangat terbuka dalam
membicarakannya dan ini akan
lebih mendekatkan hubungan
kami serta dapat mengetahui
keinginan masing-masing dalam
cara cara memuaskan nafsu
birahi pasangan kami.
Ketika aku ke kamar kecil,
sekilas aku lihat di lemari hiasan
yang menempel di dinding
kamarnya, banyak bingkai foto
dan plakat serta piala
terpajang di sana, aku hanya
lewat saja tanpa berminat
untuk melihatnya. Setelah dari
kamar kecil aku kembali ke
tempat dimana Nini masih duduk
dengan santainya di luar.
"Nini, aku ingin bertanya
beberapa hal yang mungkin
bersifat pribadi, boleh nggak?"
aku bertanya.
"Kalau aku bisa jawab, mengapa
tidak, tanyalah" jawabnya.
"Are you married?"
kuberanikan bertanya langsung
pada tujuan.
"No, " am still single" jawabnya
santai.
"So, what is your job?"
tanyaku kembali.
"Hei, itEs a funny question
honey, donEt you know who am
" when we met for the first
time?" Nini balik bertanya
keheranan.
"Aku adalah Nini *****,"
sambungnya.
Hampir aku terlonjak dari
tempat dudukku mendengar
nama tenar itu.
"Sorry Ni, mungkin aku kurang
gaul, tapi memang sebenarnya
aku tidak pernah mengikuti
perkembangan dunia yang kamu
geluti dan aku tidak pernah
berkecimpung di dalamnya.
Mungkin mulai sekarang aku
harus mengikutinya ya" aku
berkata dengan perlahan
diiringi perasaan malu yang
sangat mendalam.
"Kamu tidak perlu mengubah
apa yang telah ada pada dirimu,
justru dengan begitu aku lebih
salut padamu, karena tadinya
kukira kamu mau bercinta
denganku karena aku ini adalah
seorang tenar" ujarnya.
"Jadi, setelah kamu tahu siapa
aku, masih bersediakah kamu
untuk bercinta denganku, tapi
aku tidak mau ada ikatan. Just
for an easy going relationship,
to fullfill each other. Kalau aku
sedang kesepian, tolong temani
aku, demikian pula kalau kamu
sedang sendirian, aku akan
berusaha nemenin kamu"
ujarnya sambil menolehkan
kepala mengecup pipiku.
"Tapi, bukankah ada sekian
banyak lelaki di sekelilingmu dan
dengan kecantikan, body kamu,
apalagi dengan permainan sex
kamu yang demikian top, akan
banyak laki laki yang setiap
saat siap datang?"
"Kamu tahu toh, mereka
datang sebagai sosok
kepribadian lain di depanku,
mereka datang dan pergi tanpa
harus aku kenang atau aku
ingat dan tidak ada yang
pernah mendapatkan teknik
permainan sex seperti yang
kamu dapatkan tadi malam.
Kamu adalah orang ketiga
setelah mantan pacarku dulu"
ujarnya.
"Lalu mengapa kamu undang
aku, padahal hubungan kita
masih terlalu singkat untuk
sampai ke atas ranjang?"
tanyaku.
"Waktu di restoran, dari apa
yang kulihat dan kita bicarakan,
aku ingin mendapatkan
kepuasan sexual dari kamu dan
ternyata memang tidak salah.
Lalu selama pembicaraan kita
itu, aku sudah perkirakan
bahwa kamu tidak tahu siapa
sebenarnya aku, jadi dari pada
kalau kamu tahu terus kamu
takut, maka aku harus segera
memberi seluruh teknik
permainan yang aku miliki
agar.."
"OK, OK, stop, stop, aku
mengerti sekarang.." ujarku
sambil kucium bibirnya dan
kuraba dadanya.
"Jadi kamu masih mau
berhubungan dengan aku untuk
selanjutnya?" tanyanya.
"Walaupun aku tahu siapa kamu
sebenarnya, tidak akan
menghalangiku berhubungan
dengan kamu selanjutnya dan
aku tidak akan pernah
menghalangi pekerjaan kamu,
toh hubungan kita kalau boleh
aku bilang adalah Ejust for funE,
cuma satu permintaanku yaitu
aku tidak mau berada di depan
publik bersama kamu, kecuali di
luar kota" kataku tegas.
"Setuju Sayang, aku pun mau
bicara soal itu, tapi takut kamu
tersinggung. Biasanya lelaki lain
malah ingin jalan bersamaku ke
tempat umum karena itu adalah
kebanggaan buat mereka. Kalau
begitu, lusa kan hari Jumat,
kita keluar kota ya, ke Bali"
ajaknya sambil diciumnya bibirku
hangat lalu tangannya kembali
meremas-remas penisku yang
mulai mengeras lagi.
Akhirnya kami kembali bergumul
menumpahkah hasrat nafsu
birahi kami di kursi luar
kamarnya itu sambil duduk. Nini
orgasme duluan dan aku
menyusul kira kira 10 menit
kemudian. Beberapa saat
setelah istirahat..
"Ni, aku pulang dulu ya" aku
berkata.
"Jadi lusa acara ke Bali-nya
gimana?" dia bertanya penuh
harap.
"Tiga jam lagi aku telepon
kamu" jawabku.
"Jangan nggak ya" katanya
sambil mengecupku sebelum aku
naik ke mobilku.
Jumat jam 3 siang, pesawat
yang aku tumpangi mendarat di
bandara Ngurah Rai. Seperti
biasa, sopir Arif menjemputku
dengan mobilnya. Kali ini aku
dipinjamkan sebuah Mercedez
Bulldog mirip seperti milik Nini,
hanya saja warnanya biru tua.
Arif adalah sahabatku di Bali,
cerita tentang Arif ada di
ceritaku terdahulu, "Kamu
Lelaki Bukan, Sih?". Aku telah
memesan kamar hotel di
kawasan Nusa Dua. Nini akan
datang hari ini juga tapi aku
tidak tahu jam kedatangannya
karena saat aku check-in,
ternyata Nini belum datang.
Baru kemudian Nini datang
mengetuk kamarku dangan
diantar oleh bell boy pada jam 8
malam hingga aku sempat
tertidur beberapa jam.
"Sorry Vir, aku tidak dapat
datang lebih pagi, kamu sudah
lama menunggu ya?" tanyanya
sambil mengecup pipiku dan
kucium bibirnya.
"Nggak kok, aku tiba tadi jam
10 pagi" kataku menggoda.
"Hayoo, mulai boong ya, kata
resepsionis tadi kamu check in
jam 4, bukan jam 10a katanya
sambil tangannya mengelus
penisku dari luar celana.
Kami duduk berdampingan
sambil mengobrol kesana kemari
hingga tak terasa sudah jam 9.
"Mandi dulu sana, kita makan di
luar" ujarku.
"Kalau makan aku, pakai mandi
dulu nggak?" Nini merajuk.
"Kalau makan kamu, nggak usah
mandi dulu, ntar aku yang
mandiin pakai lidah" kataku
menggoda.
"Mau doong" katanya sambil
membuka pakaiannya dan
masuk ke kamar mandi.
Aku meneruskan menonton TV
sambil tiduran di ranjang
sementara Nini berendam di
bathtub sekitar 30 menitan.
Saat Nini telah selesai mandi, dia
naik ke ranjang bertelanjang
bulat lalu membuka celanaku.
"Ini yang aku rindukan, Darling"
katanya sambil memasukkan
penisku yang masih lemas ke
mulutnya.
Seketika itu juga penisku
menjadi tegang di dalam
mulutnya. Sebelum tegang
sempurna, aku balikkan
badanku dan aku tangkap
kakinya, lalu aku julurkan
lidahku dan segera dengan
tanpa basa basi kukorek-korek
liang vaginanya hingga Nini
terkejut sebentar tapi langsung
mengerang keenakan karena
memang inilah yang
ditunggunya. Tangannya
seketika menggapai penisku dan
meremas-remasnya, tapi hanya
2 menit kemudian aku lepaskan
lidahku, lalu aku bangun.
"Udah ah, simpen dulu buat
nanti ya?" godaku.
"Vir.. Jahat kamu ya, aku mau
sekarang, baru kita pergi"
rengeknya.
"Hehe, kumpulin nafsunya buat
nanti, sekarang aku lapar nih,
kita ke Kuta, aku ada mobil
temanku. Hmm.. pakai pakaian
yang sexy ya" ujarku.
Nini memakai rok terusan motif
agak transparan yang atasnya
tergantung di bahu dan
menyilang di punggung dengan
tali tipis terkait di roknya
bagian belakang. Belahan
dadanya yang terbuka sampai
perut memperlihatkan kulit dan
sebagian buah dadanya yang
putih dan kenyal. Bahan roknya
yang jatuh mencetak bentuk
buah dadanya sangat indah.
Bagian punggungnya terbuka
total, hanya ada 2 tali tipis
menyilang di punggungnya dan
bagian bawah melebar 20 cm di
atas lututnya. Sebuah
selendang sutra dikenakan
melingkar di pundaknya
menutupi bagian atas tubuhnya.
Tampak sexy sekali dia malam
ini, ditambah rambutnya yang
diikat ke atas memperlihatkan
lehernya yang indah dan
seperangkat perhiasan mahal di
telinga, leher, jari dan tangan
menghiasi si pemilik tubuh
hingga semakin menjadi
perhatian bagi siapa saja yang
melihatnya. Dan malam ini si
sexy ini bersamaku.
Setelah kami makan, pada jam
11 aku ajak Nini untuk bertemu
Arif di clubnya. Nini melepas
selendangnya sebelum turun
dari mobil. Arif sedang duduk di
meja tengah bersama 8 orang,
5 pria dan 3 wanita. Saat
melihatku, Arif langsung
mempersilakan kami duduk.
"Vir.. Udah ditunggu nih.. Kok
lama bener" kata Arif.
"Kenalin dulu nih.. Nini,
datangnya terlambat dan gua
ketiduran tadi" jawabku.
"Ketiduran atau ditidurin? Eh..
Rara mau dateng lho sebentar
lagi" bisik Arif di telingaku.
"Gila lu ya.. Kan gua udah bilang
kalau gua nggak sendirian"
bisikku lagi.
"Tenang friend.. Rara akan
dateng sama suaminya" bisiknya
lagi sambil menepuk nepuk
pundakku. Sekedar informasi,
cerita tentang Rara juga ada di
ceritaku sebelumnya: "Kamu
Lelaki Bukan, Sih?"
Lalu kami saling berkenalan
dengan mereka dan seperti
telah kuduga, semua lelaki
membelalakkan matanya
memandang Nini seakan
menelanjangi tubuhnya dengan
matanya. Aku ditarik Arif sedikit
menjauh dari meja.
"Vir.. Dia kan Nini *****?" dia
bertanya.
"Awalnya gua nggak tahu
bahwa dia adalah Nini *****,
soalnya kalau tahu juga gua
nggak bakal berani dekat-
dekat" aku menegaskan.
"Sekarang ya sudah kepalang.
Ternyata dia nggak seperti
dugaan orang, paling tidak
sama gue lho" sambungku lagi.
"Dasar buaya lu! Jadi masih bisa
gua dekati nggak nih?"
tanyanya penuh selidik.
"Siapa juga boleh dan bisa
ngedeketin dia, tapi tergantung
dianya kan, mau apa nggak"
jawabku membuatnya
penasaran.
"OK dah, ntar gua usaha,
jangan cemburu ya" Arif
berkata seakan menantangku.
Kami kembali ke tengah
kerumunan dan terlihat Nini
yang memang supel sudah
bercengkerama dengan mereka.
Di tangannya terlihat segelas
red wine. Seperti biasa aku
minta Cointreau Double On The
Rock. Tak berapa lama
kemudian, ada yang menepuk
pundakku dari belakang.
Sewaktu aku menoleh, kulihat
Rara berdiri di belakangku dan
di sebelahnya ada seorang pria
yang ternyata suaminya seperti
yang pernah beberapa kali
kulihat di media massa.
Aku bangkit berdiri dan Rara
menjabat tanganku, memberi
kecupan di pipiku serta
memperkenalkanku dengan
suaminya. Aku diperkenalkannya
sebagai sahabat lamanya 8
tahun yang lalu. Lalu aku
panggil Nini, saat aku akan
memperkenalkannya, Rara
berteriak..
"Nini.. Ada angin apa kita
ketemu di sini"
Rupanya mereka sudah saling
kenal. Aku tidak heran.
Ternyata suaminya juga telah
mengenal Nini sekilas. Akhirnya
kami duduk bersama, aku dan
Nini bersebelahan, Rara dan
suaminya berhadapan dengan
kami. Dengan posisi seperti itu,
aku bebas berhadapan dan
bertatapan dengan Rara
sedangkan suami Rara dengan
bebasnya memandang Nini, dan
itulah yang dilakukannya,
sesekali matanya turun melihat
paha Nini yang terbuka serta
belahan dadanya yang
menantang.
Musik bergema dengan
kerasnya. Beberapa gelas telah
kami habiskan sehingga semua
yang berada di meja itu jadi
typsy, terkadang bicara agak
ngelantur dan saling menggoda
sudah menjadi hal biasa. Kadang
kupeluk Nini atau sesekali
kucium pipi dan bibirnya.
Demikian pula Rara bersikap
mesra pada suaminya. Tapi
sering kutangkap pandangan
mata Rara sehingga kami sering
saling menatap penuh arti.
"Ada pandangan lain dari mata
Rara buat kamu, apa itu?" bisik
Nini di telingaku sambil
tangannya meraba pahaku.
"Ternyata mata dan perasaan
kamu tajam juga ya. Rara
pernah sama aku 8 tahun yang
lalu, di sini juga pertama kali
aku bertemu dengan dia,
hubungan kami cuma sekitar 6
bulan saat aku sering kemari
untuk mengerjakan proyek
kantorku" jawabku berterus
terang.
Ternyata jawabanku cukup
memuaskannya sehingga Nini
tidak bertanya lebih lanjut.
Selang beberapa lagu, Nini
menarik Rara untuk
menggoyangkan tubuhnya di
lantai dansa. Terlihat mereka
berdua bergoyang dengan
santainya sambil sesekali
mengobrol. Tak lama kemudian
terlihat Nini melambaikan
tangannya padaku. Aku
mendekat sehingga kami
bertiga ada di lantai dansa
dengan dan bergoyang
seadanya.
"Vir.. Rara kangen sama kamu,
katanya" Nini berkata hingga
terdengar pula oleh Rara. Rara
hanya tersenyum simpul malu
malu.
"Kalau nggak ada suamimu, aku
cium kamu di sini lho" aku
menggodanya.
"Kalau nggak ada Nini, aku yang
cium kamu di sini" tantang Rara.
"Tuh suamimu sedang nggak
ada di meja, kita cium Virano
sama-sama aja Ra" ajak Nini.
Rara dan Nini serentak mencium
pipi kiri dan kananku, dan Rara
mengecup bibirku dilanjutkan
dengan Nini juga mencium
bibirku agak lama sambil
mengalungkan tangannya ke
leherku.
"Itu yang aku mau" protes
Rara.
"Vir, aku mau undang Rara
makan siang besok, boleh
nggak?" tanya Nini.
"My pleasure, Ni" aku
menyetujui.
"Kamu dengar sendiri kan? Jadi
nggak usah nolak lagi ya Say?"
ujar Nini pada Rara.
Rupanya Nini sudah mengundang
Rara sebelumnya namun Rara
ragu dan ingin meminta
konfirmasi dariku lebih dulu.
Kami meninggalkan club
tersebut pada jam 2:30 dan
kembali ke hotel di Nusa Dua.
Sepanjang jalan, Nini bercerita
bahwa beberapa orang teman
Arif termasuk suami Rara
berusaha menarik perhatian Nini
dan bahkan ada yang berterus
terang menngajak Nini kencan
malam ini.
"Aku tahu kok, malah mata
suami Rara nggak bisa lepas
dari dada dan paha kamu. Dan
aku juga tahu, kamu malah
dengan sengaja, kadang-
kadang kamu buka paha kamu
sehingga dia bisa lihat CD kamu
kan?" aku berkata.
"Kok kamu nggak ngelarang
aku sih?" rajuknya.
"Aku juga menikmati sensasi
tersebut sayangku, semakin
banyak lelaki yang mabuk
kepayang sama kamu, semakin
bangga aku jalan bersama
kamu. Tapi tidak demikian
dengan suami Rara, dari cara
Rara berpakaian, aku dapat
menilai sifat suaminya. Padahal
dulu Rara termasuk berani
dalam berpakaian, yah seperti
kamu sekarang ini deh"
ceritaku.
Setibanya di hotel, kami kembali
mengarungi lautan nafsu birahi,
berusaha untuk saling
memuaskan satu sama lain. Nini
memang seorang yang sangat
piawai dalam memuaskan lelaki,
namun dia juga sangat
membutuhkan kepuasan untuk
dirinya sendiri dan aku pun
berusaha untuk memuaskan dia.
Kami bercinta sampai jam 5 pagi
lalu tertidur. Lalu ada jam 11
terbangun oleh telepon dari
Rara yang dijawab oleh Nini.
Saat mereka mengobrol di
telepon, aku putar badanku lalu
aku jilat vagina Nini dengan
penuh nafsu hingga Nini
mengerang keenakan dan Rara
menanyakannya.
"Virano sedang breakfast,
oohh.. Viir.. Aku lagi telepon nih.."
desahnya.
"OK deh, lu ke sini aja cepat,
gua butuh bantuan nih, Virano
lagi ganas" katanya pada Rara.
Seketika Nini menutup telepon,
aku pun berhenti menjilati
vagina Nini. Dia protes, tapi aku
meninggalkannya ke kamar
mandi untuk mandi. Nini merajuk
hingga mengatakan aku curang.
Selesai berendam sekitar 15
menit, aku kenakan jas kamar
mandi warna putih tebal dengan
CD di dalamnya dan baru
kemudian Nini menyusul masuk
kamar mandi. Aku pesan
makanan dari Room Service
dengan tak melupakan 2 telur
setengah matang pesanan Nini.
Saat menunggu makanan, bel
berbunyi. Aku kira Room
service, ternyata Rara muncul
dengan tank top kuning dan
jeans, serasi sekali dengan
kulitnya yang putih.
"Vir..,.. Baru mandi ya.., Mana
Nini?" tanyanya sambil
memajukan wajahnya dan aku
kecup pipinya.
"Oh ada.. Tapi lagi mandi.. Masuk
aja" ujarku sambil
mempersilakannya masuk.
"Sudah selesaikah?" tanyanya
penuh selidik.
"Apanya yang selesai, cuma
appetizer kok" jawabku.
"Kok cepet, emangnya rumah
kamu dekat sini?" tanyaku.
"Bukit Jimbaran, 20 menit saja
sudah sampai ke sini" jawabnya.
"Mana suamimu?" tanyaku.
"Sedang di kantor, nanti sore
mau ke Jakarta. Orang tuanya
sakit, aku sudah bilang mau
ajak kalian jalan jalan, dan dia
OK. Malah dia titip salam buat
Nini" kata Rara.
"Sst, jangan sampai dia dapat
Nini, bahaya" bisikku.
"Emangnya kenapa? Nini hebat
ya?" bisiknya lagi takut
terdengar Nini dari kamar
mandi.
"Buat aku, sheEs the best.
Selama ini, aku agak kewalahan
mengimbanginya"
"Masa kamu kewalahan,
mungkin aku bisa belajar dari
dia ya?" ujarnya penuh arti.
"Kalau kamu sehebat Nini, aku
yakin suami kamu nggak akan
cari cewek lain, kalau cari pun
pasti balik lagi hehe.." godaku.
Lalu Nini selesai mandi, juga
mengenakan jas handuk seperti
punyaku. Aku yakin tidak ada
apa-apa lagi di baliknya. Aku
duduk di belakang sofa mereka
dengan menarik kursi rias. Aku
memperhatikan mereka
mengobrol dan sesekali
menimpali obrolan mereka. Rara
memintaku menuang minuman
yang dia bawa, sebotol
Cointreau kesukaanku.. Aku
menuangkannya 3 gelas.
Aku membawanya beserta es
batu. Aku menuangkan minuman
ke gelas mereka. Setelah minum
beberapa gelas sambil
mengobrol, tangan Nini masuk
ke balik kimonoku dan mengelus
EadikEku sehingga tegang dan
keras. Nini melirik dan
tersenyum sambil terus
mengobrol dengan Rara.
Rara tidak memperhatikan yang
dilakukan oleh Nini terhadapku.
Nini menarik sedikit CD-ku dan
mengelus batangku dengan
lembut. Tampak Rara melihat
apa yang dilakukan Nini tanpa
Nini menyadari bahwa Rara tahu
apa yang dilakukannya
terhadapku. Aku duduk
menyandar dan membiarkannya.
Tangan Nini mengisyaratkan
agar aku membuka CD-ku dan
matanya melirik. Aku ke kamar
mandi membuka CD-ku. Lalu aku
kembali dan Nini melanjutkan
mengocok halus batangku
sementara Rara mencuri
pandang ke arah
selangkanganku. Rara
tersenyum melihatku pasrah
dan aku juga tersenyum ke
arahnya.
Sementara mereka melanjutkan
mengobrol sambil minum
beberapa gelas lagi, tangan Nini
terus aktif mengocok halus
batangku. Aku hanya bisa
menahan nafas atau berkejap-
kejap menikmati pijatan dan
kocokan tangan Nini. Rara terus
saja mencuri pandang dan
kimonoku tersingkap sehingga
terlihat jelas tangan Nini yang
sedang mengocok batangku. Nini
tidak menyadari hal itu karena
sudah sedikit mabuk. Mereka
berdua terus mengobrol. Tapi
mata Rara lebih sering lagi
melirik ke belakang. Aku berdiri
tapi Nini tidak juga melepas
kocokan tangannya. Aku
membiarkan kimonoku terbuka
sehingga Rara dapat melihat
dengan jelas apa yang
dilakukan Nini. Aku elus rambut
Nini dan Nini secara tidak sadar
menolehkan kepalanya hingga
menyentuh kepala EadikEku dan
melanjutkan dengan
menjilatnya.
"Sshh.. Mm" desahku.
Nini terus saja menjilat dan
mulai menghisap EhelmEku. Rara
melihat dengan jelas apa yang
Nini lakukan dan aku menarik
tangan Rara. Rara menggeser
duduknya. Aku berjalan ke
depan Nini tanpa Nini melepas
tangannya dari batangku. Aku
sudah berdiri di depan Nini dan
Rara sementara Nini kembali
menjilat, mengocok, serta
menghisap batang
kejantananku.
"Ra, kontol ini masih sama
nggak rasanya sama dulu
waktu masih lu pakai?" tanya
Nini.
Aku menarik Rara sehingga
berlutut di depanku dan Nini
duduk di belakangnya. Aku
menunduk dan mencium bibir
Rara dan Rara tidak menolak.
Kami berciuman cukup lama,
sementara tangan Rara ikut
mengelus batangku dan
mengocoknya pelan. Sementara
itu Nini tampak meremas buah
dada Rara sambil mencium
telinganya.
"Ini buat kamu Rara.. "sep
kontolnya.. Aku mau liat cara
oral lu" bisik Nini.
"Kata Virano, you are the best
for him, ajari aku ya?" pinta
Rara. Lalu Rara mulai menjilat
seluruh batang penisku dari
ujung kepala sampai pangkalnya
lalu memasukkannya ke dalam
mulutnya.
"Sshh.. Mmhh.. Yyeess.. Hhmm.."
desah Rara.
Lalu aku meminta Rara untuk
berdiri. Tank top Rara sudah
dibuka oleh Nini sehingga hanya
tersisa bra warna merah tua.
Aku berlutut di depannya dan
berciuman dengan Nini. Nini
berlutut di sampingku lalu
membuka kancing celana Rara
dan aku membuka BH-nya. Lalu
Nini melepas celana Rara dan
melemparnya entah kemana
hingga Rara hanya tinggal
mengenakan G-String. Aku
berdiri dan meminta Nini untuk
duduk di sofa lalu kucium
telinganya.
"Sshh.. Mm.. Mm" desahnya
sementara tanganku meremas
buah dadanya.
"Yyaa.. Mmpphh.. Tterruuss Vii"
desahnya sambil tangannya
mengocok batangku.
"Kontol kamu gede ya.. Aku
suka Vir.. Rara juga mau tuh"
katanya sementara tangan
kirinya memeluk leherku.
Kami terus berciuman lalu Rara
berlutut dan mencium batangku.
Aku melirik Nini dan dia hanya
tersenyum melihatku. Aku pun
balas tersenyum. Rara menjilat
dan menghisap batangku serta
lidahnya tidak kalah lincah
menari menjilati serta melumuri
batangku dengan ludahnya.
Aku duduk di sebelah Nini dan
Rara terus menghisap batangku
tanpa menghiraukan
keberadaan Nini. Tangan
kanannya terus mengocok
batangku sementara mulutnya
menghisap EhelmEku dan lidahnya
menari menjilatinya juga. Kepala
Rara terus naik turun
menghisap, menjilat dan
mengulum batang
kejantananku..
"Sshh.. Ohh.. Yyeess.. Ra.."
desahku sambil mengelus
rambut Rara dan tangan
kananku meremas payudara Nini
yang duduk menghadap ke arah
kami.
"Sshh.. Ohh" desahku sambil
menarik Nini dan berciuman.
Sementara aku berciuman
dengan Nini, Rara masih sibuk
mengoralku hingga birahiku
memuncak dan cairanku sudah
mencapai ujung.
"Mmhh.. Mmhh.. Mphh" jeritku
tertahan oleh Nini yang
memeluk dan terus mencium
bibirku.
"Aahh.. Yyeeaa.. Ohh.. Aacchh"
jeritku setelah Nini melepas
ciumannya. Rara terus menelan
dan menghisap penisku. Rara
menelan semua spermaku lalu
tersenyum dan mencium
telingaku.
"Kontol kamu enak Vi.. Aku
suka.. Aku pingin nih" bisiknya
meminta.
Aku tersenyum dan
mengangguk, kucium bibir Rara
yang masih ada sisa spermaku.
Aku duduk di antara Rara dan
Nini sementara Nini mengelus
batangku lagi dan aku mencium
bibir Rara.
"Mm.. Mm.. Makasih ya.. "sepan
kamu enak lho, beda sama dulu..
Kalah dikit ama Nini" ujarku
sedikit memuji Rara.
"Mm.. Bisa aja kamu Vir"
balasnya.
Nini terus mengelus batang
penisku hingga kejantananku
mulai tegang dan Nini menjilat
dan mengocoknya pelan. Aku
meremas dan menghisap kedua
payudaranya
"Sshh.. Trus.. Vir.. "isseepp yaa..
Sshh.." desahnya nikmat.
Sementara aku menghisap
payudara Rara, Nini menghisap
penisku.
"Ra, perhatikan cara Nini ngisep
kontolku" kataku.
Rara melihat Nini yang sedang
menjilati dan mengisap penisku
sambil mengerang-ngerang
karena buah dadanya aku
hisap. Aku menarik turun CD
Rara dan meraba vaginanya
"Shh.. Yyeess" desisnya sambil
kumainkan clitorisnya dengan
jariku.
"Oohh.. Viir.. Eehhmm.. Mmpphh..
Jilat.. Vii.. Jilat..!" desahnya
nikmat. Rara berdiri dan
mengangkangi kepalaku
"Jilat Vir.. Jilat vaginaku.. Oohh..
Mhh" jeritnya tertahan saat
aku menjilat dan mengulum
clitorisnya sementara Nini masih
mengoralku dan tangan kirinya
menggosok vaginanya sendiri.
Aku meminta Nini berhenti
mengocok penisku dengan
mulutnya, lalu kuminta Nini
memperagakan gerakan
mulutnya seperti di kamarnya,
dan dia mulai dengan gerakan-
gerakan itu. Rara melotot
melihatnya terkagum kagum.
"Nini, gantian gua mau coba,
ajarin gua ya" pinta Rara.
Lalu Rara mulai memasukkan
penisku ke dalam mulutnya.
Baru sampai setengahnya, Rara
sudah tersedak. Nini mengajari
Rara bagaimana cara
mengendalikan otot lehernya
agar penisku bisa masuk ke
tenggorokannya, lalu Rara
mencoba dengan gerakan
menelannya. Lumayan, Rara bisa
sedikit walaupun masih diiringi
dengan batuk berkali kali. Rara
kelelahan, lalu melepaskan
penisku dari mulutnya. Aku
berdiri, lalu meminta Rara
berlutut di atas karpet dan
menghadap sofa. Aku berlutut
di belakangnya dan
menggesekkan penisku ke
vaginanya.
"Sshh.. Vir.. Masuukkiinn Ssaayy..
Sshh.. Yyeess..!" jeritnya saat
penisku memasuki vaginanya
yang sudah basah karena
jilatanku ditambah penisku yang
juga sudah basah karena ludah
Nini yang sejak tadi mengoralku.
"Sshh.. Ach.. Ach.. Aacchh..
Teruss.. Aacchh.. Teruss say..
Fucckk.. Mmee.. Aacchh..
Yyeeaah.. Thatss.. Goodd..
Ffuuckk.. Mee" desahnya sambil
kedua tangannya meremas
sandaran sofa. Aku menggenjot
Rara dengan ritme teratur.
Nini tidak tinggal diam,
badannya disusupkan telentang
di bawah badan Rara. Kepalanya
sekarang berada tepat di
bawah vagina Rara sehingga
dapat melihat dengan jelas
penisku yang keluar masuk
vagina Rara. Ditariknya bantal
dan ditempatkan di bawah
kepalanya. Nini mulai menjilati
klitoris Rara dan penisku setiap
kali penisku keluar dari vagina
Rara. Rara tampak sangat
menikmati tusukan penisku dan
jilatan Nini.
"Aahh.. Aakkuu.. Kkeelluuaarr..
Ohh.. Ohh.. Aacchh.. Yyeess.. iEm
cumming!" jeritnya menikmati
saat mencapai klimaks
sementara penisku terasa
dipijat dan diremas-remas oleh
vaginanya yang mengeluarkan
cairan hangat dan menyiram
batang penisku.
Kucabut penisku, ganti Nini
menghisap vagina Rara dan
menjilati seluruh cairan yang
keluar dari vagina Rara. Aku
mulai mengarahkan lidahku ke
anus Rara, kudorong lidahku
dalam-dalam lalu kusedot kuat-
kuat. Rara berkelojotan
diserang oleh kami berdua
hingga Rara ambruk menindih
Nini yang berada di bawahnya.
Lalu aku berciuman dengan Nini
sambil sesekali menjilat vagina
dan anus Rara yang berada
tepat di hadapan kami berdua.
Sekarang Nini duduk menghadap
kami berdua sambil meraba dan
melakukan masturbasi. Keadaan
ini membuatku semakin
bersemangat, lalu kuminta Rara
untuk mengubah posisi dan
menggenjotnya. Aku
mendudukkan Rara di meja dan
aku berada di depannya. Rara
telentang di atas meja. Aku
mengangkat kedua kakinya dan
aku letakkan di pundakku
hingga membuat penisku
langsung menghadap vagina
Rara.
Kumasukkan batang
kejantananku dan aku
menggenjot Rara lagi. Nini naik
ke atas meja dan menduduki
wajah Rara hingga mau tak mau
Rara mengeluarkan lidahnya
dan mengaduk-aduk vagina Nini.
Sesekali Nini juga menyodorkan
anusnya untuk dijilat Rara
hingga tak ada jalan lain bagi
Rara untuk juga menjilati dan
menyedotnya.
"Shh.. Aahh.. Yyeess.. Keluarin..
Ach. Ach.. Yyeeahh" desahnya
nikmat. Sementara tanganku
masih meremas kedua
payudaranya, kedua tangan
Rara mencengkeram pinggir
meja makan dan..
"Oohh.. Vir.. Aammppuunn..
Aakkuu.. Gaakk.. Kuuatt..!"
jeritnya menikmati klimaks
untuk kedua kalinya. Lalu Rara
berdiri dan menciumku.
"Makasih ya Viir.. Kontol kamu
enak banget" bisiknya.
Sementara Nini yang masih
mengusap dan memasukkan
jarinya ke vaginanya
mendorongku hingga telentang
dan memasukkan penisku yang
masih tegang agar masuk ke
vaginanya. Nini mulai
menggenjot. Kuraih kepala Rara,
kucium lalu kuminta dia agar
menghisap anus Nini dari
belakang. Rara segera
melakukan yang kuminta,
jarinya didorong memasuki anus
Nini dan mengocoknya dari
pelan menjadi semakin cepat.
"Oohh.. Ra.. Kamu nakal.." jerit
Nini nikmat ketika aku
menyodok vaginanya dengan
penisku serta Rara mengorek
anusnya.
"Cepet Say.. Cepet Say.. Aku..
Keluar.. Aakkuu.. Aahh.. Aahh..!"
jerit Nini, badannya bergetar
mencapai klimaks. Aku terus
menggenjot Nini dan..
"Aahh.. Nini..!" jeritku.
Nini buru-buru mencabut dan
menghisap penisku. Aku klimaks
lagi. Nini menelan sebagian
spermaku dan Rara
menghampiri untuk minta
bagian. Lalu mereka saling
berciuman dengan hangat dan
bermain-main dengan spermaku.
Kemudian Rara terduduk
memandangiku sambil
tersenyum. Setelah itu aku
mandi dan mengganti baju di
kamar. Dari kamar mandi yang
pintunya tidak kututup, aku
dapat mendengar pembicaraan
mereka.
"Wah.. Ni, gila bener lu..
Permainan lu menakjubkan,
pantas saja kata Virano, lu is
the best, kalian seimbang ya?"
kata Rara.
"He is the best for me too Ra..,
waktu pertama kali main sama
dia, agak kewalahan juga gua,
kalo sekarang gua dan dia udah
biasa dan memang gua rasa,
kami seimbang dan cocok. Gua
bisa sangat terbuka, demikian
juga dia dalam soal sex. Padalah
gua juga baru kenal 3 hari yang
lalu, tapi rasanya sudah kenal
berbulan-bulan" kata Nini.
"Gua baru kali ini main bertiga
gini lho" kata Rara.
"Gak pa-pa lah. Buat sekali-kali
cari sensasi. Dari pada ama
suami sendiri terus. Bosen.
Gayanya gitu-gitu aja kan?" Nini
membalas.
"Tapi jujur lho. Baru kali ini gue
ngesex dengan sepenuh hati
kaya tadi. Nafsu birahi benar
benar membakar tubuhku, gua
nggak sadar kenapa bisa gua
lakukan hal-hal seperti tadi"
kata Rara lagi.
Aku keluar dari kamar mandi
lalu berbaring kecapaian di
ranjang. Sementara Nini dan
Rara terus mengobrol, aku
tertidur. Pada jam 5 aku
terbangun, kulihat mereka
telah tertidur di sampingku.
Kujilat puting susu Nini lalu
beralih ke vaginanya. Nini
terbangun lalu tangannya
bergerak mencari penisku,
dielus elus dan dikocoknya. Aku
mendekat ke telinga Nini.
"Mau sensasi lebih?" bisikku.
"Siapa lagi?" rupanya Nini
mengerti maksudku.
"Arif" sahutku pelan.
"Lebih baik jangan, karena
tampaknya dia tahu siapa aku"
sahutnya, aku
membenarkannya.
"OK, kita keluar malam ini
bertiga, kamu boleh
menentukan cowok yang kamu
sukai, nanti biar aku yang atur"
kataku.
"Deal" sambutnya.
Setelah makan malam, kami
bertiga mengunjungi sebuah
club yang berada di tepi pantai
kawasan Legian. Nini memakai
rok terusan ketat mini warna
kulit berbahan kaus tipis agak
transparan mencetak
tubuhnya, tanpa lengan dengan
belahan V yang rendah hingga
memperlihatkan sebagian buah
dadanya yang tidak
mengenakan BH. Rara
mengejutkanku, dia memakai
rok terusan hitam yang dia
pakai saat pertama kali ngesex
denganku 7 tahun silam, namun
kali ini dia tidak mengenakan BH.
"Hey, Ra.. Aku masih ingat baju
itu, kamu masih
menyimpannya?" aku bertanya.
"Sejak saat itu aku simpan dan
tidak pernah kupakai, baru kali
ini kupakai lagi" jawabnya.
Saat beberapa gelas minuman
telah habis, Nini mulai tampak
liar, berdansa meliuk-liukan
badannya sambil tangannya
terkadang diangkat ke atas
membuat rangsangan pada
kaum lelaki. Karena club ini open
air dan tidak ada AC, sebentar
saja tubuh Nini telah
berkeringat hingga membuat
bajunya basah dan
memperlihatkan bentuk
tubuhnya dengan jelas. Bagian
dadanya sangat jelas tampak
dengan puting yang tercetak di
dadanya.
Sedangkan Rara pun telah
bergelayut di leherku sambil
menggoyang-goyangkan
tubuhnya hingga kembali
membuat penisku menegang
sementara Nini di sampingku.
Kulihat seorang pria mencoba
mendekati Nini dan bergoyang
di depannya. Nini dengan
demonstratif menari semakin
erotis di hadapan pria itu.
Kulihat pria tersebut, lumayan
keren.. Akhirnya kulihat Nini
sudah memegang pinggang
cowok tersebut sambil
menggesekkan bagian bawah
perutnya ke penis cowok
tersebut hingga keenakan
cowok tersebut dibuatnya.
Terlihat cowok tersebut
memegang erat pantat Nini dan
meremasnya.
"Vir.. Kenapa kamu biarkan Nini
seperti itu? Kamu nggak
marah..?" Rara bertanya.
"I am an easy going person,
Sayang, kalau dia senang
melakukan itu, biarlah dia
melakukannya" jawabku.
"Kalian sangat moderat ya"
bisiknya.
Sambil masih berpelukan dengan
cowok tersebut, Nini melangkah
mundur mendekatiku lalu
menyandar di badanku sehingga
tangan cowok tersebut terjepit
di antara Nini dan aku, tapi
cepat cepat ditariknya
tangannya. Nini menarik tangan
kiriku dan dibawanya ke
pantatnya kemudian aku raba
pantatnya sampai ke
pinggangnya. Kubisikan sambil
kujilat telinganya di depan muka
sang cowok..
"Kamu nggak pakai CD ya?" Nini
membalikkan wajahnya sambil
tersenyum padaku.
"Katanya disuruh cari sensasi
baru?" jawabnya manja sambil
diraihnya kepalaku dengan
tangan kanannya, lalu kami
berciuman.
Sementara tangan kananku
masih memeluk Rara, jari kiriku
kumasukan ke mulut Nini agar
basah, lalu menjalar ke balik
roknya mencari lubang anusnya.
Setelah kutemukan, kukorek
dan kumasukkan jariku ke
dalam anusnya. Nini
menggelinjang lalu diraihnya
tangan kiriku dan dibawanya ke
arah dadanya melewati
pinggangnya lalu kuremas
dadanya. Tak hanya sampai di
situ, tangan kiri Nini menjalar ke
belakang menggapai penisku
yang telah mengeras lalu
diremas-remasnya dengan
penuh nafsu.
Nini melakukan semua itu
dengan liarnya di depan hidung
sang cowok itu hingga cowok
tersebut memandang sampai
terbengong-bengong tak dapat
berkata apa pun melihat
kelakuan Nini. Akhirnya Nini
melepaskan ciumannya padaku
dan kembali menghadap ke
depan lalu menarik leher cowok
tersebut. Kudengar Nini
berkata..
"Tadi lu ngajak gua ngewe
kan?" Cowok tersebut masih
bengong.
"Dia ini cowokku, tapi gua
malam ini mau cowok satu lagi,
kalau lu bisa penuhi dua syarat
gua, mungkin lu bisa ikut kami
bertiga sekarang" Nini berkata
lagi.
"Syaratnya apa?" tanya cowok
tersebut.
"Pertama gua mau coba lidah lu
di vagina gua sekarang" Wah,
Nini sangat liar malam ini,
pikirku.
"Kedua, kontol lu musti
setidaknya sama besar dan
panjang seperti cowok gua"
tantang Nini. Aku setengah
terkejut mendengar syarat Nini
tapi aku juga tersenyum
mendengar persyaratan yang
kedua itu.
Mungkin cowo tersebut sudah
sedemikian bernafsunya
sehingga mengiyakan saja
syarat yang diminta Nini.
Kebetulan meja kami berada di
pojok dekat pinggir laut dan
berada di kegelapan. Nini yang
duduk di kursi tinggi lalu
menarik roknya ke atas serta
membuka kakinya. Cowok
tersebut menunduk dan mulai
menjilat vagina Nini sementara
Nini tetap menggoyangkan
badannya. Sekitar semenit cowo
tersebut menjilat vagina Nini
lalu Nini menghentikannya.
"Sudah, sudah, not bad.." kata
Nini akhirnya.
"Sekarang lu kan sudah
terangsang jilatin vagina gua,
coba gua pegang kontol lu",
dengan enteng Nini meraih
celana cowok tersebut lalu
membuka ritsletingnya dan
mengeluarkan penis cowok
tersebut. Berukuran kira-kira
13 cm, tapi lingkarannya kecil,
mungkin 3 cm saja. Hmm.. Aku
tersenyum melihatnya.
"Nggak lulus, punya cowok gua
lebih panjang dan besar, perlu
bukti??", Nini meraih celanaku
dan mengeluarkan penisku yang
masih lemas. Nini menundukkan
kepalanya lalu mulai menjilat
dan menghisap penisku.
Seketika itu pula penisku
mengeras namun belum
sempurna. Nini melepaskan
kulumannya dan meminta cowok
tersebut untuk melihatnya.
"Percaya?" kata Nini sambil
dengan kurang ajar sedikit
mendorong kepala cowok
tersebut ke bawah untuk
dapat melihat dengan jelas
penisku.
Cowok tersebut pergi
meninggalkan kami dengan
kecewa dan Nini hanya tertawa
sambil meneruskan
goyangannya. Untung saja kami
berada di pojok kegelapan dan
yakin bahwa tidak ada orang
yang mengetahui perbuatan Nini
tadi.
"Huuh.. Apakah sensasiku cukup
menarik buat kamu, Sayang?"
kata Nini.
"Lu gila Ni.. Gimana kalau cowok
tadi marah lu permainkan gitu?"
kata Rara.
"Kalau dia marah, paling-paling
gua kasih blow job, bereslah"
jawab Nini seenaknya.
"Mau di sini terus atau mau
pindah?" ajak Nini.
"Pindah aja" tegas Rara.
"Pusing gua liat Nini, lama-lama
jadi horny lagi gua" lanjutnya.
"Bukannya memang udah horny
lu, tuh ada Virano bisa bantuin
lu, atau mau sama gua lagi?
Tapi Virano juga musti ikut,
soalnya gua kan bukan lesbi
asli" kata Nini seenaknya.
"Mumpung di Bali, jarang ada
yang kenal, kalau di Jakarta
nggak mungkin lah gua kaya
begitu" katanya pula.
Lalu kami meninggalkan tempat
itu menuju hotel. Aku dan Nini
berdua mengeroyok Rara habis-
habisan sampai Rara berteriak
menyerah setelah orgasmenya
yang ke-5, sedangkan aku dan
Nini masing masing orgasme
sekali. Lalu kami mengantar
Rara pulang ke rumahnya dan
kami kembali ke hotel
melanjutkan nafsu yang
tertahan karena aku masih
ingin memberi kenikmatan lebih
pada Nini.
Jam sudah menunjukkan pukul 5
pagi. Sore harinya Rara akan
datang kembali ke hotel. Aku
dan Nini kembali ke Jakarta
pada hari Senin dengan
pesawat yang berbeda
tentunya. Hubungan sex-ku
dengan Nini terus berlanjut 3-4
kali dalam sebulan dan
berlangsung kurang lebih
selama 3 tahun. Kalau di
Jakarta pasti dilakukan di
rumahnya, tapi kadang kami
juga pergi ke luar kota atau
luar negeri.
Variasi dan teknik permainan
Nini yang begitu beragam
seakan tidak pernah ada
habisnya, selalu saja ada
kejutan-kejutan baru yang
sampai dengan saat tulisan ini
dibuat, menurutku she is the
best amongst all up to now.
Saat itu pernah aku berpikir,
tidak heran bahwa Nini dapat
memperoleh kehidupan yang
sedemikian mapan serta teknik
permainan sex yang luar biasa
seperti itu karena mungkin hal
ini memang sangat berhubungan
erat dengan pekerjaan dan
karier yang dibinanya selama ini.
Profesinya itulah yang
kubiarkan tetap menjadi misteri
dalam cerita ini, barangkali saja
ada pembaca yang bisa
mengungkap. Atau mungkin saja
ada di antara pembaca yang
juga pernah berhubungan
dengan Nini sehingga tentunya
akan dengan mudah menebak
siapa dia sebenarnya.
Tamat
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net