Koleksi Gambar Bokep Import @ ramon84.org
ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Yuni.. Customerku

Saat ini aku hampir menjadi
seorang insinyur elektro,
sekarang sedang menunggu
wisuda. Sambil menunggu
wisuda, aku dan beberapa
temanku membuka toko
komputer. Kejadian ini terjadi
pada bulan Agustus 2000.
Pagi itu sekitar jam 10 pagi,
aku sedang membuat proposal
penawaran untuk pemda
Wonogiri. Sebuah Vitara putih
tiba-tiba masuk di halaman
kantorku, seorang cewek WN"
keturunan berumur sekitar 20
tahun, tinggi sekitar 165 cm
mengenakan kaos ketat warna
biru muda keluar dari dalam
mobil.
"Selamat pagi Mas", katanya.
"Selamat pagi, silakan duduk..,
Ada yang dapat saya bantu?",
sahutku sambil bersalaman dan
menyiapkan sebuah kursi yang
masih berada di pojok ruangan.
Terasa dingin dan sangat
lembut ketika aku meremas
tangannya.
Singkat cerita dia setuju
membeli seperangkat komputer
pentium "I/550 multimedia dan
sebuah bjc-2000 yang saat itu
seharga 6,6 juta.
"Ini saya baru bawa 5 juta,
sisanya besok bisa Mas?",
tanya dia.
"Oh.., nggak apa-apa", jawabku,
sebenarnya dengan uang muka
seratus ribu pun aku juga
bersedia.
"Maaf, Mbak namanya siapa, ini
untuk mengisi kwitansinya",
tanyaku.
"Yuni, lengkapnya Yuni *****",
sahutnya. Dia juga memberikan
alamat dan nomor HP-nya.
Saat itu juga setelah
kuselesaikan pembuatan
penawaran, aku langsung
merakit komputer yang dia
pesan. Dalam tiga jam aku
selesai merakit plus menginstall
program yang diperlukan. Satu
jam kemudian setelah aku
selesai makan siang yang sudah
agak sore, aku iseng-iseng
telepon Yuni.
"Mbak.. ini komputer yang Mbak
pesan udah selesai, sewaktu-
waktu dapat diambil", kataku
membuka pembicaraan.
"Aduh cepat sekali Mas, ini saya
juga baru ngambil uang di bank,
oh ya Mas.. sekalian modemnya
ya.. nambah berapa?",
tanyanya.
"Kalau internal Motorola 140
ribu Mbak", jawabku.
"Ya udah yang itu saja, tetapi
tolong Mas yang pasangkan ke
rumah saya, masalahnya saya
nggak bisa masang sediri..",
pintanya.
"Ya.. kalo begitu nanti jam 7
malam saya akan datang ke
rumah Mbak", Sahutku.
Selesai mandi aku
membayangkan wajah Yuni,
mirip dengan salah satu bintang
film mandarin tapi siapa aku
tidak tahu namanya. Berwajah
oval, rambut sebahu berhigh
light merah, kulitnya yang putih
bersih benar-benar sangat
manis. Selesai berdandan dan
sedikit minyak wangi, aku
menyalakan Suzuki Carretaku
dan meluncur ke perumahan
Solo Baru, sebuah kompleks
perumahan yang cukup elite di
kota Solo.
Setelah sepuluh menit
berkeliling kompleks, akhirnya
aku menemukan alamatnya.
Terlihat Vitara putih di dalam
garasi yang tidak tertutup,
setelah yakin alamatnya benar
maka aku pencet bel yang
berada di balik pagar besi yang
terkunci. Seorang perempuan
setengah baya keluar dan
membuka pintu pagar sambil
berkata, "Mas yang mau
ngantar komputer ya, silakan
masuk dulu Mas, Mbak Yuni
baru mandi". Aku tidak langsung
masuk tetapi mengambil
barang-barang pesanan Yuni
dan aku letakkan di teras
depan. "Barang-barangnya
disuruh langsung dipasang ke
kamar Mbak Yuni Mas",
perempuan itu menyusulku ke
mobil saat aku mengambil
barang terakhir, yaitu
keyboard, mouse dan nota
penjualan. "Ini kamar Mbak
Yuni", kata perempuan itu
sambil mengantarkanku menuju
ke suatu ruangan berukuran 4
x 4 meter. Tidak terlalu luas
tetapi cukup tertata rapi dan
barang-barang yang lumayan
mewah menghiasi kamar. Bau
parfum ruangan berjenis apple
samar-samar tercium hidungku.
Tanpa membuang waktu aku
merakit komputer di meja yang
telah dia siapkan sebelumnya.
Saat merakit instalasi printer,
Yuni masuk kamar, tercium
harum bau sabun mandi.
Terlihat Yuni hanya
mengenakan daster warna
kuning tanpa ritsluiting dan
tanpa lengan baju (model you
can see). Lengannya yang putih
mulus dan bentuk badannya
yang ramping mengigatkanku
pada Novi (cinta pertama)
tetapi badannya lebih gedean
Novi sedikit. Sesaat aku terdiam
memandangnya, dia hanya
tersenyum saja memperlihatkan
giginya yang putih dan berjajar
rapi.
"Udah selesai Mas?", tanyanya
membuatku sedikit kaget.
"Oh.. sebentar lagi Mbak, ini
baru pasang printer", jawabku.
"Mas, jangan panggil aku Mbak,
panggil saja Yuni", katanya.
"Kamu kuliah di mana?",
tanyaku.
"Di Akademi **** (edited),
semester 3a, jawabnya.
"Stop kontaknya mana Yun?",
tanyaku.
"Itu di bawah meja", jawabnya.
"Kok sepi, di mana ortumu?",
tanyaku.
"Aku di sini tinggal bersama
kakakku, Papi sama Mami
tinggal di Surabaya, kakakku
sudah tiga hari di Semarang
ikut seminar untuk syarat
mengambil dokter spesialis",
jelasnya.
"O.. kakakmu dokter ya.., terus
perempuan itu pembantumu?",
aku terus bertanya.
"Iya, dia membantu dari pagi
sampai jam 7 malem setelah itu
pulang ke rumahnya kira-kira
300 meter dari sini", jelasnya.
"Nah.. udah siap silakan kalo
mau coba", kataku setelah
layar monitor memperlihatkan
logo W"N 98.
"Oh ya.. Mas mau minum apa?",
tanyanya setelah menunggu
logo W"N 98 berubah menjadi
gambar Titanic.
"Ah.. apa aja mau kok", kataku
sambil tersenyum.
Dia berjalan keluar kamar, saat
dia berjalan itu samar-samar
kulihat pantatnya yang tidak
terlalu besar tetapi terlihat
padat dan kenyal. Dia kembali
dengan membawa segelas es
jeruk dan meletakkan di
samping ranjangnya yang
memang terdapat meja kecil
dan sebuah telpon.
"Wah sayang aku belum
ngedaftar ke ****net ",
katanya.
"Oh.. kamu mau nyoba pakai
internet, kalo gitu untuk
sementara kamu boleh pakai
punyaku", kataku sambil aku
mulai mengisi user name dan
password.
"Eh.. Mas.. kalo mau lihat
gambar-gambar artis "ndonesia
yang telanjang alamatnya di
mana sich", katanya tanpa
malu-malu.
Selanjutnya kuberi tahu
alamat-alamat situs porno
sambil aku memperlihatkannya.
Terlihat Yuni Shara sedang
bercinta dengan seseorang,
melihat adegan tersebut
matanya yang agak sipit dan
bening terus melotot sambil
menelan ludah, aku hanya
tersenyum menyaksikan
ekspresi wajahnya yang lucu
sangat manis terpaku
memandangi adegan itu.
"Kalo kamu mau baca cerita-
cerita erotis, ada di sini..",
kataku sambil mengetik
www.17tahun.com (sekarang
sudah pindah ke alamat
17tahun2.com) dan mulai masuk
ke salah satu cerita erotis,
dengan seksama dia
membacanya dan aku juga
membaca tentunya. Saat dia
tengah membaca, dia
mendekatkan kursinya di
sampingku sambil sesekali dia
meletakkan salah satu kakinya
di atas kakinya yang lain. Dan
batang kemaluanku pun mulai
bereaksi dan.. aduh, kelihatan
sekali kalau batang kemaluanku
sedang tegang. Dia melirik ke
bawah, aku berusaha
menyembunyikannya, dan dia
hanya menarik nafas dalam-
dalam sambil tersenyum kecil.
Setelah beberapa saat
berselancar keliling dunia,
kuputuskan hubungan ke
internet.
"Mas.. ini udah bisa dipakai
nonton film?", tanyanya.
"Iya, kamu punya CD (compact
disk) film nggak", tanyaku
sambil aku berusaha
menempatkan batang
kemaluanku agar berada pada
posisi vertikal setelah
terangsang dengan cerita tadi.
"Sebentar, aku carikan dulu ke
kamar kakak", jawabnya sambil
keluar kamar.
"Ada sich, tapi.. adanya ini
punya kakak", dia berkata
sambil memperlihatkan VCD semi
porno dengan judul Kama Sutra
versi Barat.
"Ya.. nggak apa-apa kan cuma
nyoba, tapi pembantumu tadi di
mana?", tanyaku sambil
melongok ke arah pintu.
"Oo.. dia udah pulang tadi waktu
aku selesai mandi dan masuk ke
sini", jawabnya.
Terlihat adegan yang sangat
romantis pada layar monitor,
tidak seperti film-film porno lain,
adegan dalam film ini sangat
lembut dan romantis.
Sebenarnya aku sudah terbiasa
menonton film-film seperti ini,
tetapi jika ditemani makhluk
manis seperti ini jantungku
berdebar sangat kencang.
Sesekali kulirik dia yang sedang
menyaksikan adegan tersebut.
Terlihat sesekali dia membasahi
bibirnya yang berwarna merah
delima dengan lidahnya. "ngin
sekali sebenarnya aku mencium
bibirnya. Baru sekali aku
merasakan bersetubuh dengan
pacar pertamaku, dan keinginan
itu saat ini sangat menggebu.
Kulihat Yuni mulai sering
menggerakkan kakinya naik
turun. Aku hanya menarik nafas
panjang dan kumundurkan
kursiku sehingga berada sedikit
di belakang Yuni. Karena aku
sudah tidak tahan lagi, dengan
agak takut kusenggolkan
kakiku dengan kakinya.
Tidak kuduga sama sekali dia
hanya diam, tanpa menungu
lebih lama lagi kakiku mulai naik
turun di betisnya. Karena dia
sepertinya tidak keberatan
kuperlakukan seperti itu,
kuberanikan tanganku untuk
memegang tangannya dan dia
juga menyambutnya dengan
meremas tanganku. Akupun
mulai lebih berani, kuraba
dadanya yang tidak begitu
besar tetapi sangat kencang
dan padat terasa cukup keras.
Saat kuraba payudaranya
terlihat dia terpejam sepertinya
sedang menikmati apa yang
sedang kulakukan. Tangannya
yang putih bersih mulai
merayap menuju pahaku, aku
semakin terangsang hebat.
Sementara tanganku masih
rajin meraba payudaranya, dan
dia terpejam, perlahan kucium
bibirnya, kuhisap dengan lembut
dan lidahku pun mulai masuk di
antara gigi-giginya yang putih
berjarar rapi. Masih berasa
pasta gigi saat lidahku melumat
bibirnya. Selanjutnya dia pun
membalas dengan memainkan
lidahnya ke dalam mulutku.
Lembut sekali bibir dan lidahnya.
Setelah beberapa saat aku
menikmati bibirnya yang mungil,
ciumanku mulai berjalan menuju
ke telinganya. Saat aku
mungulum telinganya, dia
mendesah dan mengangkat
kepalanya, sepertinya dia
kegelian. Kulepaskan ciumanku
dan aku mulai mencumbu
lehernya yang putih dan berbau
harum sabun mandi, sementara
tanganku masih terus meraba
payudaranya dengan lembut.
Perlahan ciumanku aku
turunkan di dada bagian atas
dan tanganku mulai melepaskan
tali yang mengantung pada
lengannya. Setelah aku berhasil
melepaskan tali dari dasternya,
maka daster bagian atasnya
mulai menurun dengan
sendirinya. Terlihat bukit yang
masih tertutup BH berwarna
krem. Saat aku mulai mencium
payudaranya bagian atas,
perlahan-lahan dia berdiri dan
spontan aku menarik ciumanku,
agak takut aku waktu itu,
kupikir dia akan marah. Tetapi
setelah dia berdiri tegak, semua
dasternya merosot ke bawah
dan tampak dia berdiri
setengah telanjang hanya
menggenakan BH dan celana
dalam berwarna putih.
Sepertinya dia tidak marah
malah dia tersenyum kecil, saat
itu aku berpikir mungkin dia
penganut aliran seks bebas. Ah
masa bodoh, yang penting
keinginanku dapat kesampaian
dan aku tidak memaksanya.
Perlahan aku mulai berdiri di
hadapannya, kupandangi
tubuhnya yang setengah
telanjang dengan seksama.
"ndah sekali tubuhnya, dari
wajah sampai ujung kaki
semuanya berbalut kulit
berwarna putih bersih khas
kulit WN" keturunan. Perlahan
kudekati dia dan kucium
bibirnya untuk yang kesekian
kalinya. Senang sekali aku
menikmati bibirnya yang mungil
dan berwarna merah delima.
Sambil aku melumat bibirnya
kupeluk dia sampai tubuh kami
saling menyentuh. Tanganku
yang berada di punggungnya
mulai berusaha melepaskan BH,
tapi sulit bagiku, aku tidak
berhasil karena BH yang dia
pakai lain dengan yang pernah
dipakai Novi. Sepertinya dia
tahu kalau aku kesulitan
membuka BH-nya, dan akhirnya
dia sendiri yang membuka.
Setelah BH-nya terlepas
terlihat dua buah bukit yang
berwarna putih dengan puting
berwarna coklat muda
menggantung dengan kencang.
Kubopong dia ke tempat tidur
dan kurebahkan dia ke sisi
tempat tidur. Saat itu dia
berada di atas tempat tidur
dan aku berada di lantai.
Perlahan kuraba payudara
bagian kiri dengan tangan
kananku, sementara lidahku
mulai memainkan puting susunya
yang sebelah kanan sambil
sesekali kuhisap putingnya.
Kulihat dia terpejam dan
menggigit bibir bagian bawah
sementara kedua tangannya
menarik-narik rambutnya
sendiri, sepertinya dia sangat
menikmati permainan ini.
Saat kedua tangannya
memegang rambutnya, terlihat
ketiaknya yang sangat bersih
tanpa ditumbuhi bulu karena
mungkin sering dicukur.
Selanjutnya hisapanku mulai
bergeser sedikit demi sedikit ke
sisi payudaranya, dan
kulanjutkan jilatan dan
hisapanku ke atas menuju
ketiaknya dan tangan kananku
berganti memainkan payudara
bagian kanan. Saat lidahku
menyapu ketiaknya dia sedikit
berteriak, "Akhh..". Aku
lanjutkan dengan menghisapnya
dan dia semakin mendesah
keras dan kedua kakinya
merapat saling menindih.
Terlihat dia menegang untuk
beberapa saat, kemudian mulai
melemas sepertinya dia telah
mencapai orgasme untuk yang
pertama.
Terlihat titik-titik keringat
muncul di dahinya, aku
melepaskan gigitanku dan dia
duduk sambil tangannya
menyentuh rambutku dan dia
meraba wajahku dengan tangan
kanannya sementara tangan
kirinya membersihkan keringat
yang ada di dahinya. Setelah dia
meraba bagian wajahku, jari-
jarinya menyentuh bibirku dan
dengan ibu jarinya dia
mengusap-usap bibirku dan
berusaha memasukkan ibu
jarinya ke dalam mulutku. Aku
tidak menolak, kukulum ibu
jarinya dengan lembut, dan
jarinya yang lain mulai menyusul
masuk ke dalam mulutku,
kukulum satu persatu jari-
jarinya yang putih.
Perlahan dia menarik tangannya
dan mulai membuka kacing-
kancing kemejaku. Perlu
pembaca ketahui jika aku
berada di tempat customer aku
selalu mengenakan kemeja dan
sepatu, tetapi sepatu dan kaus
kakiku telah kulepas di depan
rumahnya. Setelah semua
kancing kemejaku terlepas, aku
berdiri dan membuka kemejaku.
Selajutnya kubuka sendiri ikat
pinggang dan celana panjangku
sampai aku hanya memakai CD
yang telah menjadi ketat
karena terdesak oleh batang
kemaluanku yang menegang
keras. Selanjutnya kubuka CD-
ku sendiri sehingga kini aku
telah telanjang bulat.
Terlihat batang kemaluanku
tegak berdiri dengan arah agak
vertikal, perlahan kudekatkan
batang kemaluanku ke
wajahnya dengan harapan dia
akan menghisapnya, tapi
sepertinya dia tidak mengerti
maksudku, karena dia hanya
memandang saja. Selanjutnya
dengan tangan kananku
memegang batang kemaluan
dan tangan kiriku membelai
rambutnya, aku usap-usapkan
batang kemaluanku ke
wajahnya, lagi-lagi dia belum
mengerti keinginanku, dia hanya
memejamkan mata. Karena
sudah tidak sabar kuusapkan
kepala batang kemaluanku ke
bibirnya dan aku berusaha
memasukkan batang
kemaluanku dan akhirnya dia
mau membuka mulutnya.
Perlahan kudorong batang
kemaluanku agar masuk lebih
dalam lagi, terasa lidahnya yang
lembut menyentuh kepala
batang kemaluanku. Sepertinya
dia mulai mengerti apa yang
kuinginkan, selanjutnya lidahnya
mulai menyapu kulit batang
kemaluanku dari pangkal sampai
ujung berulang-ulang sambil
sesekali mengulumnya, terasa
sangat lembut, hangat dan
sangat nikmat sampai-sampai
merinding seluruh tubuhku.
Sepertinya dia menyukai batang
kemaluanku karena lebih dari
lima menit dia menikmati batang
kemaluanku sampai kakiku
kelelahan berdiri, akhirnya aku
mengambil posisi 69 dengan
posisi miring.
Sementara dia mengulum dan
menjilati batang kemaluanku,
aku mulai membuka CD-nya
yang sedikit basah. Terlihat
rambut-rambut halus menutupi
kemaluannya sebelah atas. Aku
terus menurunkan CD-nya
sampai terlepas, selanjutnya
kucium dan jilati paha bagian
dalamnya sampai mendekati
liang kewanitaannya. Lain
dengan Novi, bibir liang
kewanitaan Yuni berwarna
cenderung merah hati. Aku
sapukan lidahku ke lubang
kenikmatannya yang telah
mengeluarkan cairan bening,
terasa agak gurih.
Saat kubuka liang
kewanitaannya dengan tangan
kiriku, terlihat liang
kewanitaannya sangat sempit
dan sepertinya dia masih
perawan karena bentuk bagian
dalamnya persis seperti
kepunyaan Novi. Mengetahui dia
masih perawan, aku semakin
semangat menikmati liang
kewanitaannya. Kurenggangkan
kedua pahanya, kusapukan
lidahku dari anusnya dan sedikit
demi sedikit naik menuju lubang
kemaluannya dan akhirnya
sampai pada klitorisnya. Kujilati
dan kuhisap klitorisnya
berulang-ulang, kuturunkan
lidahku ke lubang senggamanya
dan cairan bening mulai mengalir
dari liang kewanitaannya.
Kemudian kuhisap dalam-dalam
cairan yang keluar tersebut
dan kukeluarkan di daerah
klitorisnya sambil terus kujilati
dan kuhisap klitorisnya.
Setelah puas menikmati
klitorisnya, kini lidahku mulai
menyapu liang kewanitaannya,
dan lidahku kumasukkan ke
dalam liang kewanitaannya yang
sempit tersebut. Sampai
akhirnya dia melepaskan
hisapan pada batang
kemaluanku dan untuk yang
kedua kalinya dia menegang
dan perlahan keluar cairan
bening dari dalam liang
kewanitaannya yang
selanjutnya kuhisap dan kutelan
sampai habis.
Aku melihat Yuni yang
kelelahan, aku bangkit dan
duduk di samping tubuhnya
yang telah lemas dan karena
aku belum mencapai orgasme,
kuambil posisi di atasnya dan
dengan tangan kananku,
kubimbing batang kemaluanku
agar dapat masuk ke dalam
liang kewanitaannya. Saat
kugesek-gesekkan batang
kemaluanku pada liang
kewanitaannya, tangan
kanannya menahan agar
batang kemaluanku berhenti.
"Tolong Mas jangan dimasukin,
aku takut, aku belum pernah
melakukannya", ucapnya
dengan lirih. Mendengar itu aku
jadi iba juga, kutarik batang
kemaluanku dari permukaan
liang kewanitaannya, dan aku
kembali duduk di sampingnya
dengan tanganku mengocok
batang kemaluanku yang masih
tegang. "Aku kulum saja ya
Mas, boleh nggak?", tanyanya
sambil tangan kanannya meraih
batang kemaluanku. Aku hanya
mengangguk, selanjutnya dia
bangkit dari tidurnya dan
duduk berhadapan denganku,
dia tersenyum dan mencium
bibirku sejenak.
Kemudian dia menunduk dan
mulai mendekati batang
kemaluanku, dia sapukan
lidahnya dari kepala batang
kemaluan sampai pada
pangkalnya berulang ulang. Aku
hanya merintih menahan
nikmat, aku heran juga kenapa
dia nggak capek ya.. Yuni terus
memainkan lidahnya sambil
sesekali mengulum kepala
batang kemaluanku. Kuakui
kulumannya sangat nikmat
karena batang kemaluanku
masuk cukup jauh ke dalam
mulutnya.
Setelah beberapa saat aku
menahannya, akhirnya "Akhh..
aku mau keluar", ucapku sambil
meremas payudaranya dan
maniku keluar memenuhi
mulutnya dan sebagian
membasahi wajahnya yang
manis. Setelah menelan maniku
yang ada di dalam mulutnya, dia
melanjutkan mengulum dan
membersihkan batang
kemaluanku yang basah dengan
lidahnya. Sampai batang
kemaluanku melemas pun dia
masih terus mengulumnya
sampai batang kemaluanku
terasa geli. Karena kegelian,
kusuruh dia melepaskan
kulumannya. Kemudian kuangkat
dagunya hingga wajahnya
berhadapan denganku, masih
terlihat sisa-sisa maniku di sisi
kiri bibirnya yang mungil
menetes ke dagunya. Kuusap
maniku yang membasahi hidung
dan pipinya dengan jariku dan
akan kuusapkan pada CD-nya,
tetapi dia ingin menelannya,
sehingga jari-jariku dilumatnya
hingga mani yang kupegang
habis. Sepertinya dia sangat
menyukai maniku, enak kali ya..
Sepertinya dia kelelahan, dia
berbaring telentang menatapku
dengan tanpa selembar kainpun
menutupi tubuhnya. Kupandangi
lagi tubuhnya yang telanjang
dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Terlihat titik-titik keringat
keluar dari sekujur tubuhnya,
terlihat semakin indah. Aku
menarik nafas panjang dan
kucium bibirnya yang mungil,
masih terasa sisa-sisa maniku di
bibirnya, terasa gurih tetapi
lebih kental dari maninya.
Saat kulihat sudah pukul 10.30
malam, aku segera berpakaian,
mematikan komputer dan pamit
pulang. Dengan malas diapun
bangkit dan mengenakan
dasternya tanpa memakai CD
dan BH.
"Mas uang kekurangannya
belum aku siapkan, mau tunggu
sebentar?", katanya.
"Ah.. besok saja udah malam nih
takut ditanya macam-macam
sama satpam", kataku.
Sebenarnya maksudku adalah
agar aku dapat datang lagi dan
main dengannya seperti yang
baru saja kami lakukan. Untuk
yang terakhir kalinya pada
malam itu kucium bibirnya. Aku
start mobilku dan meninggalkan
rumahnya. Dalam perjalanan aku
heran juga, bagaimana dia bisa
mempertahankan
keperawanannya jika dia sudah
bermain sejauh itu. Dalam hati
aku yakin jika suatu saat nanti
dia akan mennyerahkan
keperawanannya padaku.
Semenjak kejadian malam itu
aku selalu teringat dengannya.
Hampir aku tidak percaya jika
aku pernah bercumbu dengan
seorang WN" keturunan yang
berwajah sangat manis. Tetapi
karena kesibukanku ikut
tender, aku jadi belum sempat
menghubungi Yuni. Kejadian ini
berlangsung empat hari setelah
malam yang indah itu.
Sore itu sekitar jam 15.30 aku
baru datang dari luar kota. Aku
ke kantor dan menyerahkan
berkas-berkas dan revisi
penawaran kepada dua orang
temanku, sedangkan aku
langsung masuk ke ruang
service dan tidur. Seperempat
jam kemudian aku mendengar
seorang temanku berkata,
"Wah Doel, ada makhluk cakep
datang.. ck.. ck.. ck.. indah bener
nih cewek". Karena aku sangat
capek, aku tidak begitu
menggubrisnya dan aku tetap
tidur sampai salah seorang
temanku membangunkanku. "Hai
Doel.. bangun.. dicari makhluk
indah tuh.." kata temanku
sambil menendang pelan kakiku.
Oh ya, aku mendirikan toko
komputer bersama dua orang
temanku, dan kami sama-sama
memanggil dengan julukan Doel.
"Siapa sih.. aku capek banget
nih.." kataku sambil bangkit
untuk duduk.
"He.. Doel, Yuni itu WN"
keturunan ya.. mana cakepnya
selangit lagi, kok kamu diam aja
sih", umpat temanku.
Tahu kalau yang datang Yuni,
hilang semua rasa capekku,
segera aku keluar untuk
menemuinya.
"Hai Yun pa kabar.. sorry nih
beberapa hari ini aku sibuk
banget", sapaku.
"Ah.. aku yang sorry nih baru
ngelunasi sekarang", katanya.
"Iya.. iya.. udah selesai udah aku
urusin, mendingan sekarang
kamu tidur lagi aja", sahut
temanku sambil ketawa.
"Bagaimana, ada masalah
dengan komputernya, kamu
udah daftar belum?" tanyaku.
"Nggak ada masalah dengan
komputernya, tapi aku belum
daftar", jawabnya.
"Sekarang kamu mau ke mana,
aku anterin daftar mau nggak",
ajakku.
Dia mengangguk, kedua
temanku cuma bengong melihat
aku sudah sangat akrab
dengannya.
"Pakai mobilku aja nggak apa-
apa Mas", katanya.
"Sebentar, aku cuci muka dulu
ya", sahutku sambil berjalan ke
belakang.
Selesai cuci muka aku titipkan
mobilku pada salah seorang
temanku.
"Heh.. Doel, mau pergi ke mana
kamu?" tanya temanku setelah
aku menyerahkan kunci mobilku
padanya.
"Alah.. udah kamu jalan-jalan
yang jauh sana pake mobilku, ini
urusan orang dewasa, kamu
nggak boleh ikut-ikut", kataku
sambil mengajak Yuni keluar.
Permisi Mas.." kata Yuni sambil
keluar menuju pintu.
"Sekarang kamu mau ke
mana?" tanyaku setelah selesai
daftar.
"Nggak tahu, terserah Mas
aja", katanya.
"Kakak kamu ada di rumah
nggak?" tanyaku.
"Ada, emangnya kenapa?" dia
balik bertanya.
"Nggak, aku cuma kangen ama
kamu", kataku sambil
tersenyum.
"Aku juga kangen ama Mas.. eh
nama Mas siapa sih, aku malah
belum tahu nama Mas",
katanya.
"Iya ya.. kita udah sangat akrab
tapi kamu belum tahu namaku,
namaku Fafa", jawabku sambil
aku memegang tangan kirinya.
"Kita ke mana nih.. Mas?"
tanyanya sambil melambatkan
laju mobilnya.
"Kalo misalnya kita nginap boleh
nggak sama kakakmu?" kataku
agak ragu.
"Ya.. coba aku telpon dulu
mungkin boleh asal Mas diam,
jangan sampai suara Mas
kedengeran sama kakakku, eh
memangnya kita mau nginap di
mana sih Mas", tanyanya sambil
menepi dan menghentikan
mobilnya.
"Kita sewa villa saja di Tawang
Mangu", jawabku.
Yuni mengeluarkan HP dari
tasnya dan meghubungi
kakaknya. Setelah aku tahu
kalau kakaknya mengijinkan,
aku sangat senang sekali dan
mulai dari jalan itu gantian aku
yang pegang setir karena
jalannya sempit dan berliku-liku.
Satu jam kemudian aku sampai
di lereng Gunung Lawu
tersebut.
"Mas pernah sewa villa di sini
ya?" tanya Yuni.
"Belum tuh, mungkin kita bisa
tanya di rumah makan itu
sambil kita makan, aku udah
lapar nih", kataku sambil
menghentikan mobil ke sebuah
rumah makan. Untungnya
pemilik rumah makan tersebut
juga menyewakan villa yang
jaraknya sekitar 500 meter
dari rumah makan tersebut.
Keinginanku untuk bercumbu
dengannya mengalahkan ongkos
sewa villa yang lumayan tinggi
yaitu 200 ribu per malam.
Sebuah rumah mungil dengan
dua kamar tidur yang masing-
masing terdapat sebuah kamar
mandi. Saat kami masuk ke villa
yang berada di tepi sebuah
bukit tersebut, matahari hampir
terbenam. Kami memilih satu
kamar yang meghadap langsung
ke tebing. "Aku mandi dulu ya.."
kataku sambil melepaskan
semua pakaianku dan masuk ke
dalam kamar mandi. Saat aku
membersihkan badanku dengan
sabun, kulihat pintu kamar
mandi yang memang tidak
kukunci telah terbuka. Kulihat
Yuni telah telanjang menyusulku
masuk ke dalam kamar mandi.
"Ikutan mandi ya Mas", katanya
sambil mendekatiku. Kulihat
tubuhnya yang sintal dan padat
terbalut kulit putih bersih
dengan dua buah bukit yang
menggantung sangat indah.
Dia mendekatiku dan mengusap
wajahku dengan jari-jarinya
yang lentik, tampak air telah
membasahi rambutnya. Setelah
semua tubuhnya basah oleh air,
dia mematikan kran shower.
Selanjutnya dia meraih sabun
yang masih kupegang. Aku diam
ingin tahu apa yang ingin dia
lakukan, dengan sabun di
tangannya dia mulai menelusuri
lekuk-lekuk tubuhku. Dari leher,
dada, punggung, perut, batang
kemaluan sampai ujung kakiku
dia gosok lembut dengan sabun.
Kulihat batang kemaluanku
telah tegang, saat Yuni masih
menggosok betisku, kutarik
tangannya perlahan agar dia
berdiri. Setelah wajahnya
berhadapan dengan wajahku,
kudekati bibirnya, kucium
dengan hidungku, dan lidahku
aku sapukan di kulit bibirnya
yang mungil. Dia hanya
terpejam, selanjutnya lidahku
mulai kupermainkan di dalam
mulutnya, dia membalas dengan
menghisap lidahku.
Aku melepaskan ciumanku,
kuraih sabun yang masih di
pegangnya. Sekarang gantian
aku yang menggosok seluruh
tubuhnya. Mulai dari leher dan
ketika sampai pada
payudaranya, kuputar-
putarkan sabun di sekitar
payudaranya sambil sesekali
kuremas dengan lembut.
Selanjutnya usapanku mulai
mendekati sekitar liang
kewanitaannya, aku sapukan
sabun di sekitar paha bagian
dalam dan juga ke rambut
kemaluannya yang masih
lembut.
Setelah selesai aku meratakan
sabun di seluruh tubuhnya, kini
kuraih kran shower dan
kuputar perlahan. Dengan
guyuran air, kulumat bibirnya
dan kemudian ciumanku aku
turunkan di payudaranya.
Kuhisap lembut kedua
payudaranya secara
bergantian, terlihat dia
merapatkan pelukannya sambil
mendesis keenakan. Perlahan
ciumanku berjalan menuju ke
liang kewanitaannya, kuhisap-
hisap liang kewanitaannya
sambil lidahku masuk menerobos
lubang yang sangat sempit itu.
Karena aku risih dengan air
yang mengalir pada liang
kewanitaannya, kuputar kran
sehingga air berhenti
mengguyur tubuhnya. Setelah
air berhenti mengalir,
kulanjutkan mempermainkan
liang kewanitaannya. Kujilati
pahanya bagian dalam dan di
sekitar liang kewanitaannya.
Kudengar Yuni merintih dan dia
naikkan kaki kirinya di atas
pundakku. Kini aku dapat
melihat dengan jelas lubang
kenikmatannya yang terlihat
sangat kecil dengan bibir
berwarna merah hati.
Kemudian kudekatkan mulutku
di liang kewanitaannya dan
kusapukan lidahku di sekitar
klitorisnya sambil sesekali
kuhisap klitorisnya. Kupindah
sapuan lidahku dari klitoris
menuju ke liang kewanitaannya,
kini pada lubang kemaluannya
telah terasa agak asin. Aku
terus memasukkan ujung
lidahku ke dalam lubang
kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku ke
atas dan ke bawah. Yuni mulai
terangsang hebat, dia
menggerak-gerakkan
pinggulnya sambil menekannya
ke bawah sehingga lidahku
masuk lebih dalam lagi di liang
kewanitaannya. Sambil
kupermainkan lidahku, kuhisap
cairan bening yang keluar dari
liang kewanitaannya. Dia
semakin cepat menggoyangkan
pinggulnya sambil tangannya
menekan kepalaku, hingga aku
hampir tidak dapat bernafas.
Aku tahu kalau dia hampir
mencapai orgasme, hingga
kutarik lidahku dari liang
kewanitaannya. Aku ingin kami
mencapai organsme untuk yang
pertama secara bersama-sama.
Saat kutarik lidahku dari liang
kewanitaannya, kulihat Yuni
terkejut dan sepertinya dia
agak kecewa. "Nanti kita sama-
sama saja Yun biar tambah
asyik", kataku sambil
tersenyum dan Yuni hanya
tersenyum kecut, sepertinya
dia sangat kesal sekali.
Kemudian aku berdiri dan
kucium bibirnya, dia hanya diam
tidak memberikan respon.
Kurasa dia sedikit marah aku
menggagalkan orgasmenya.
Kasihan juga aku melihatnya,
selanjutnya kubopong dia ke
tempat tidur dan kurebahkan
dia telentang, terlihat titik-titik
air masih memenuhi tubuhnya
yang sangat indah.
Selanjutnya kucium bibirnya
dengan lembut, dan kulanjutkan
dengan menyapukan lidahku di
sekitar lehernya sambil
kupermainkan payudaranya
dengan tangan kananku,
sedangkan tanganku yang kiri
mengangkat tangan kanannya.
Aku masih ingat ketika aku
mencumbu di sekitar ketiaknya
yang mulus itu, dia sangat
menikmatinya. Kemudian sapuan
lidahku kugeser menuju
payudaranya sebelah kanan,
sedangkan payudara sebelah
kiri masih kupermainkan dan
sesekali aku meremasnya
dengan tangan kananku. Sambil
kuhisap puting susunya,
tanganku yang kiri membelai
dan mengelus ketiaknya.
Selanjutnya sapuan lidahku
kugeser menuju ketiaknya yang
sangat putih dan terlihat
bersih. Aku jilati dan sesekali
kuhisap ketiaknya, kulihat dia
mendesah keras, sepertinya dia
sangat menikmatinya. Tangan
kananku kuturunkan menuju
pahanya, kuraba pahanya
dengan lembut dan belaianku
kulanjutkan ke liang
kewanitaannya. Kubelai-belai
liang kewanitaannya dengan
lembut sambil sesekali
kutusukkan ujung jariku ke
dalam liang kewanitaannya,
terasa basah. Yuni semakin
mengeliat dan menggerak-
gerakkan kedua kakinya.
Setelah aku tahu dia telah
terangsang hebat, kutindih dia
dan kulumat lagi bibirnya.
Kupegang kedua tangannya dan
aku berusaha menusukkan
batang kemaluanku ke dalam
liang kewanitaannya. Yuni
meronta sambil merapatkan
kedua pahanya sehingga
batang kemaluanku tidak
berhasil menembusnya. "Kita
main seperti dahulu saja Mas",
bisiknya. Dengan terpaksa
kulepaskan kedua tangannya
dan aku mengambil gaya seperti
dahulu yaitu gaya 69, tetapi
kali ini aku meminta dia berada
di atasku.
Saat dia berada di atasku,
kulihat daerah liang
kewanitaannya merekah
dengan bibir berwarna merah
hati dan lubang kemaluannya
berwarna merah muda. Tanpa
pikir panjang kusapukan lidahku
ke arah klitorisnya sambil
kuhisap dengan pelan. Aku
merasakan dia mulai mengulum
batang kemaluanku dengan
lembut, saat batang
kemaluanku masuk ke dalam
mulutnya, terasa sangat
hangat dan nikmat sekali. Aku
terus menghisap klitorisnya dan
kemudian sapuan lidahku
kugeser ke liang
kewanitaannya, kuhisap cairan
bening yang keluar dari liang
kewanitaannya. Kusapukan
lidahku dari liang senggamanya
menuju ke duburnya, terus
kusapukan lidahku maju mundur.
Selanjutnya kumasukkan ujung
lidahku pada lubang
kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku.
Yuni menggeliat dan dia
menggoyangkan pinggulnya
maju mundur dengan sedikit
tekanan ke bawah. Dia
mempercepat kulumannya pada
batang kemaluanku, sepertinya
Yuni akan mencapai orgasme.
Aku semakin mempercepat
gerakan ujung lidahku untuk
menari di dalam liang
kewanitaannya. Beberapa saat
kemudian kedua kakinya
menegang dan dia menghisap
batang kemaluanku dengan
cukup keras, kemudian aku
merasakan cairan gurih telah
menetes menuju lidahku, aku
terus melanjutkan gerakan
lidahku sampai kedua pahanya
berhenti menegang. Yuni
melepaskan hisapan batang
kemaluanku dan dia terkulai di
paha kiriku, sementara lidahku
terus menyapu bagian dalam
liang kewanitaannya hingga
cairan yang keluar dari liang
kewanitaannya habis.
Beberapa saat kemudian aku
bangun dan duduk bersandar
pada papan tempat tidur. Saat
itu kulihat Yuni kelelahan
dengan posisi tidur tengkurap
dan titik-titik air yang tadinya
ada pada tubuh Yuni kini
berganti dengan titik-titik
keringat sehingga terlihat pada
pantatnya yang putih dan
kencang. Kemudian Yuni duduk
di sampingku sambil tersenyum
dan tangan kirinya mengusap
batang kemaluanku yang telah
berdiri tegak. Selanjutnya dia
mencium bibirku dan dilanjutkan
dengan mencium leherku sambil
tangan kirinya terus
mempermainkan batang
kemaluanku.
Setelah selesai mencium
leherku, kemudian mulutnya
mulai mendekati batang
kemaluanku dan dia memulai
sapuan lidahnya pada prostat-
ku, kemudian secara sangat
perlahan dia naikkan menuju
ujung batang kemaluanku, agak
geli tetapi sungguh sangat
nikmat sekali. Gerakan itu dia
lakukan berulang-ulang hingga
sekitar lima menit.
Selanjutnya dia mulai dengan
mengulum ujung batang
kemaluanku dan melepaskannya
untuk menyapukan lidahnya di
sekitar kulit batang
kemaluanku. Gerakan itu juga
dia lakukan berulang-ulang
hingga beberapa menit
kemudian kutekan kepalanya
agar batang kemaluanku dapat
masuk lebih dalam lagi ke dalam
mulutnya, kemudian kuangkat
dan kubenamkan lagi sampai
pada akhirnya ujung batang
kemaluanku mengeluarkan
cairan kental berwarna putih.
Tanpa kusuruh, dia masih terus
mengulum batang kemaluanku
dan menggerakkan mulutnya ke
atas dan ke bawah, hingga
kulihat spermaku menetes
menuju prostat-ku, mungkin
dengan gerakan seperti itu Yuni
tidak dapat menghisap
spermaku. Setelah sperma yang
keluar telah banyak, dia
melepaskan kulumannya dan dia
sapukan lidahnya untuk
membersihkan spermaku yang
tercecer di sekitar prostat-ku
dan ada juga yang mengalir ke
anus. Yuni terus mencari-cari
ceceran spermaku dengan
lidahnya dan kemudian dia telan.
Setelah selesai dia
membersihkan spermaku yang
tercecer, dia melanjutkan
dengan mengulum batang
kemaluanku yang masih
setengah tegang. Aku biarkan
dia terus mengulum batang
kemaluanku meskipun batang
kemaluanku telah lunglai. Kulihat
kepalanya disandarkan pada
perutku sambil mulutnya terus
mengulum batang kemaluankku,
aku tetap mendiamkannya
sampai akhirnya aku tahu dia
telah tertidur dengan mulutnya
masih mengulum batang
kemaluanku. Karena aku capek
duduk, perlahan kulepaskan
batang kemaluanku dari
mulutnya, dia menggeliat tetapi
matanya masih tertutup,
sepertinya dia sangat capek
sekali. Aku pindah tidurnya ke
tengah tempat tidur, kurubah
posisi tidurnya dari tengkurap
menjadi telentang. Karena aku
juga sangat capek, akhirnya
aku juga tertidur di sisinya
sambil memeluknya.
Beberapa jam kemudian aku
merasakan kerongkonganku
sangat kering, aku terbangun
dan langsung menuju ke
dispenser yang berada di sudut
ruangan. Setelah aku meminum
beberapa teguk air dingin, aku
kembali menuju tempat tidur.
Saat aku akan kembali ke
tempat tidur, aku melihat tubuh
Yuni yang telanjang tidur
dengan telentang. Dengan
rambut yang sedikit acak-
acakan, wajahnya yang sangat
manis masih terlelap tidur. Aku
terus memandangi tubuhnya
yang indah, payudaranya yang
tidak terlalu besar tetapi
terlihat sangat kencang dengan
puting susu yang berwarna
coklat muda sangat enak
dipandang. Perut dan
pinggulnya yang terlihat sangat
serasi dibalut kulit putih mulus
sangat indah. Kaki kanannya
lurus sedangkan kaki kirinya
ditekuk sehingga liang
kewanitaannya yang ditutupi
bulu-bulu halus terlihat dengan
jelas. Sungguh suatu
pemandangan yang
menakjubkan, begitu sempurna
tubuhnya. Aku tak bosan-bosan
memandang tubuhnya, hampir
15 menit aku terpana
memandang tubuhnya. Tanpa
terasa adik kecilku mulai
bergerak, dia mulai bangun dan
ingin dibelai.
Kudekati Yuni yang masih
terlelap, kusapukan lidahku
pada bibirnya yang mungil
dengan sangat perlahan. Yuni
membuka matanya yang masih
memerah, "Ah.. kenapa Mas, aku
capek sekali, besok pagi aja
Mas", kata Yuni pelan. "Maaf
Yun kalo aku ganggu kamu,
kamu tidur lagi aja, aku bisa
sendiri kok tapi boleh kan aku
sentuh kamu?" kataku. Kulihat
Yuni mengangguk sambil
tersenyum kecil, dia membuka
lebar kedua pahanya hingga
liang kewanitaannya tampak
lebih jelas terlihat. Begitu
melihat liang kewanitaannya
yang merekah, aku langsung
menyapukan ujung lidahku pada
klitorisnya dan kulanjutkan
pada liang kewanitaannya. Yuni
sama sekali tidak bereaksi,
tampaknya dia sangat capek
hingga tertidur lagi. Aku terus
mempermainkan liang
kewanitaannya dengan lidahku.
Sepuluh menit kemudian aku
bangun dan kucium bibirnya,
Yuni menarik nafas panjang.
Kupegang kedua tangannya
dengan kedua tanganku dengan
posisi tangan di atas kepala,
selanjutnya aku langsung
menindih tubuh Yuni dan karena
kedua pahanya masih terbuka
lebar, aku merhasil menyelipkan
pinggulku di antara kedua
pahanya. Saat itu kulihat Yuni
terkejut dan membuka kedua
matanya. "Mas.. Mas mau apa..?"
katanya sedikit keras namun
tertahan. Aku tidak
memperdulikannya, aku
berusaha mencium bibirnya
tetapi dia meronta, sehingga
ciumanku kutujukan ke
lehernya yang putih. Dia
semakin meronta, dan tanganku
semakin erat memegang kedua
tangannya. Yuni terus meronta
dengan mengerak-gerakkan
pingulnya ke kanan dan ke kiri,
tetapi percuma, aku jauh lebih
kuat darinya. Tapi dia terus
meronta sampai akhirnya dia
pasrah, begitu gerakannya
melemah aku berusaha
memasukkan batang
kemaluanku pada liang
kewanitaannya, cukup sulit aku
memasukkan batang
kemaluanku pada liang
kewanitaannya, sampai sekitar
5 menit kemudian aku berhasil
menemukan lubang
kenikmatannya.
Kumasukkan batang
kemaluanku secara perlahan,
saat aku memasukkan batang
kemaluanku ke dalam liang
kewanitaannya dia meronta lagi
dengan menggerakkan
pinggulnya ke kanan dan ke
kiri, tetapi ujung batang
kemaluanku telah masuk cukup
dalam ke dalam liang
kewanitaannya hingga aku
merasakan batang kemaluanku
telah menembus sesuatu yang
sangat kecil. Aku terus
memasukkan batang
kemaluanku lebih dalam lagi
sampai semua batang
kemaluanku tenggelam. Saat itu
aku melihat Yuni memejamkan
mata dan dia menggigit bibirnya
yang bawah dengan giginya
yang tampak putih berjajar
rapi. Aku terus menggerakkan
batang kemaluanku maju
mundur keluar masuk liang
kewanitaannya, sedangkan
mulutku menghisap
payudaranya bergantian. Aku
merasakan seluruh batang
kemaluanku seperti ditekan-
tekan tetapi rasanya sangat
hangat.
Sekitar 10 menit aku
memasukkan batang
kemaluanku ke dalam liang
kewanitaannya, sampai
akhirnya kukeluarkan sperma
yang sejak dari tadi kutahan.
Kulihat spermaku keluar dari
liang kewanitaannya tetapi
warnanya telah bercampur
dengan bercak-bercak darah,
tidak terlalu banyak memang
darah yang keluar, lain dengan
Novi (pacarku red) yang saat
itu sangat banyak darahnya.
Setelah itu aku lunglai di atas
tubuh Yuni yang telah diam
tidak bergerak dengan
kepalaku berada di sisi
kepalanya. Beberapa menit
kemudian aku merasakan setitik
air membasahi telingaku, aku
terbangun dan kulihat setitik
air keluar dari sisi kedua
matanya yang masih terpejam.
Saat itu baru aku sadar jika
Yuni telah menangis, ya Tuhan..
Yuni menangis dengan menggigit
bibirnya. Saat itu aku langsung
merengkuh dan merangkul
tubuhnya dengan erat,
beberapa kali aku ucapkan kata
maaf. "Kenapa.. kenapa kamu
melakukan ini..?" Yuni berkata
sambil menangis. Aku terus
merangkul tubuhnya yang masih
telanjang dengan erat sambil
aku terus memohon maaf, tapi
Yuni tidak memperdulikannya
dia terus menagis dan berusaha
melepaskan pelukanku.
Setelah aku melepaskan
pelukanku, dia langsung tidur
dengan tengkurap tetapi masih
sesekali kudengar isakan
tangisnya. Kudekati dia dan
kubelai rambutnya, "Maaf Yun,
aku lepas kontrol, sungguh aku
tidak menduga kamu begitu
terpukul dengan apa yang
sudah aku lakukan. Kamu boleh
memaki aku, kamu boleh
memukul aku, tapi aku mohon
kamu jangan menagis, aku
sayang kamu, aku akan
bertanggung jawab jika kamu
menginginkannya, apa saja yang
kamu inginkan aku akan penuhi,
tapi tolong kamu mau maafin
aku" Tak terasa air mataku
juga telah mengalir saat aku
mengucapkan kalimat itu. Aku
merasa sangat menyesal telah
melakukan hal itu kepada Yuni.
Beberapa saat setelah aku
mengucapkan kalimat itu,
kepala Yuni menoleh ke arahku.
"Baik Mas, aku akan meminta
satu permintaan untuk kamu,
tapi tolong untuk saat ini kamu
jangan ganggu aku, aku ingin
tidur, aku akan katakan
permintaanku besok jika kita
udah pulang", dia berkata
dengan suara serak dan sedikit
berat. Aku hanya mengangguk
dan aku tidak mendengar lagi
isakan tangisnya.
Malam itu aku sama sekali tidak
dapat tidur, kupandangi tubuh
Yuni yang tengkurap dan
terlihat sedang tidur. Aku tidak
berani menyentuhnya, saat
kuperhatikan pada pantatnya
terlihat bercak darah
bercampur dengan spermaku.
Aku beranikan diri untuk
membersihkannya dengan sapu
tanganku yang telah terlebih
dahulu kubasahi dengan air
hangat yang kuambil dari
dispenser. Dengan sangat
perlahan aku membersihkan
pantat dan pahanya dari
spermaku, kulihat Yuni masih
tertidur. Tetapi tiba-tiba dia
menggerakkan tubuhnya dan
dia berganti posisi untuk
telentang, untung dia masih
tertidur. Selanjutnya aku
kembali membersihkan
spermaku yang membasahi
rambut dan liang
kewanitaannya juga dengan
sangat hati-hati agar Yuni tidak
terbangun, tetapi tanpa
kusadari Yuni telah membuka
matanya dan dia memandangiku
dan memperhatikan apa yang
sedang kuperbuat. Aku
langsung menghentikan
tanganku yang masih
membersihkan rambut di liang
kewanitaannya.
"Kamu nggak perlu melakukan
itu Mas, udahlah aku juga salah
kok, aku maafin kamu" Yuni
berkata sambil menatap
wajahku yang sejak tadi
menunduk. Saat aku mendengar
kalimat itu rasanya telah hilang
semua perasaanku yang sejak
tadi kutahan.
"Terima kasih Yun, terima kasih
kamu udah mau maafin aku",
kataku terpatah-patah.
"Sudahlah, sekarang Mas tidur
saja, besok Mas harus setir
mobil, pinggangku sakit sekali",
Yuni berkata sambil menarik
lenganku.
Beberapa jam kemudian aku
terbangun, kulihat Yuni masih
tertidur. Dengan hati-hati aku
bangun dan kukecup keningnya
dan aku berjalan menuju kamar
mandi untuk mandi. Selesai
mandi kuambil pakaianku yang
kulepas di sisi tempat tidur.
Saat aku akan mengambil
pakaianku, kulihat Yuni
terbangun dan dengan susah
payah dia bangkit. Aku langsung
menghampirinya dan kubantu
dia untuk berdiri.
"Kamu mau mandi Yun, ayo aku
antar", kataku.
"Iya.. tapi aduh.. pinggangku
sakit sekali Mas.." katanya.
"Kalau begitu aku mandiin ya..
aku janji nggak akan ngapa-
ngapain kamu lagi", kataku.
Dia mengangguk, kemudian
kubopong dia menuju kamar
mandi dan kududukkan di atas
kloset duduk lalu kubersihkan
seluruh tubuhnya. Karena saat
itu aku belum berpakaian, maka
aku juga ikut mandi lagi.
Setelah kami pulang, dalam
perjalanan aku bertanya
tentang permintaannya yang
dikatakannya tadi malam.
Seperti disambar petir rasanya
saat dia berkata "Aku punya
satu permintaan yang
sebenarnya untukku juga
sangat berat, tetapi itu harus
kamu lakukan karena itu
janjimu kemarin. Aku minta Mas
tidak lagi menghubungi aku lagi,
aku nggak bisa ngasih alasan
dan tolong jangan tanya
mengapa, itulah permintaanku".
Aku hanya bengong tidak dapat
berkata apa-apa.
Kuantarkan dia sampai ujung
gang, karena itu permintaannya
dan setelah Vitara putih itu
masuk ke dalam gang, aku
kembali menuju jalan besar dan
pulang naik taksi. Empat hari
kemudian kuberanikan diri
untuk menghubunginya, siapa
tahu dia berubah pikiran. Saat
aku hubungi melalui HP-nya,
tidak pernah aktif dan kucoba
menghubungi rumahnya
ternyata yang menerima
kakaknya dan mengatakan
kalau Yuni pulang ke Surabaya
dan katanya tidak mau
diganggu oleh siapapun.
Sepuluh hari kemudian aku
mendapat email dan
mengatakan kalau saat itu ia
berada di Melbourne dan akan
kuliah di sana. Selain itu dia juga
menceritakan panjang lebar
tentang alasannya tidak mau
bertemu aku lagi. Akhirnya
kusadari dan kumaklumi
alasannya. Dalam hati aku
sering berpikir, seandainya aku
tidak memperkosanya, aku
pasti masih sering bercumbu
dengannya. Sampai jumpa Yuni.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net