ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Wawancara Tragis

Kita semua mengetahui di
daerah Papua sekarang sedang
terjadi suatu kegitan yang ingin
memisahkan diri dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Untuk itulah maka
sebuah stasiun televisi swasta
mengirim seorang presenternya
untuk meliput dari dekat
kegiatan dari organisasi Papua
Merdeka yang dipimpin oleh
seorang Papua yang bernama
Weweko. Untuk itu sebagai
reporter ditunjuk Ariana
Herawati yang dikenal bagus
dalam wawancara ditambah
telah berpengalaman. Karena
ditugaskan oleh Dewan
Redakturnya maka Ariana yang
saat itu sedang menikmati bulan
madunya yang baru 1 bulan
tidak dapat mengelak, sedang
suaminya memang agak
keberatan karena Arie harus
bertugas di pedalaman Papua
selama 1 minggu. Ia khawatir
akan keselamatan istrinya yang
baru 1 bulan dinikahinya, namun
karena tidak ingin menghambat
karir istrinya dengan terpaksa
Dono mengijinkannya.
Setibanya di bandara Timika
Papua, Ari dijemput oleh rekan
krunya. Dari bandara mereka
langsung menuju hotel dan
mempersiapkan peralatan yang
akan mereka bawa. Dari hotel,
keesokan harinya rekan Ariana
dijemput dengan sebuah mobil
dan langsung berangkat ke
tempat yang telah mereka
rencanakan. Rombongan
tersebut terdiri dari 1 orang
kru kantor, dan satu orang lagi
penunjuk jalan ditambah dengan
Ariana sendiri.
Setibanya di tempat tujuan, kru
tersebut harus menyeberangi
sungai yang amat deras dan
dalam mempergunakan sebuah
perahu. Ketika sampai di
seberang sungai mereka harus
berjalan kaki lagi selama 5 jam
dari tempat itu, perjalanan itu
melewati hutan pedalaman yang
amat besar. Di tempat yang
telah disepakati dengan OPM
tersebut mereka menunggu
dengan sangat khawatir sebab
mereka telah terlebih dahulu
tiba. Kurang lebih 1 jam
menunggu, para OPM tersebut
datang dengan pasukannya
lengkap. Di dalam gubuk yang
telah disediakan, Ariana
diperkenalkan dengan Weweko
yang memimpin pasukan
pemberontak tersebut, namun
mereka terlebih dahulu
digeledah peralatannya tidak
terkecuali pakaian Ariana
mereka geledah. Ini adalah
tahap pertama Ariana
mengalami pelecehan sexual
dengan nakal. Para tentara
OPM menggerayangi pakaian
dan anggota tubuhnya dengan
kasar. Hal ini membuat Ariana
agak sedikit takut dan
menyalahkan dirinya sendiri
yang ia akui hanya ia sendiri
yang wanita dalam rombonggan
itu. Ariana agak bergidik
ketakutan jika melihat sorot
mata Weweko, sebab saat
bersalaman tadi mata Weweko
tidak jauh dari memandang
daerah sensitif tubuhnya,
ditambah para pengawal yang
sangat sadis kelihatannya.
setelah wawancara dilalukan
selama 1 jam, teman-teman
Ariana disuruh pulang ke
tempat semula dengan mata
ditutup tidak terkecuali Ariana.
Sambil senjata ditodongkan ke
arahnya para teman Ariana
bergerak keluar daerah
pertemuan. Ariana dibawa ke
dalam hutan tanpa
sepengetahuannya karena
matanya ditutup. Di dalam
hutan belantara itu Weweko
menggiring Ariana sampai di
tendanya yang dikawal ratusan
pasukan OPM. Sebagai pimpinan
ia amat berkuasa dan ditakuti
anak buahnya. Setibanya di
tenda, Weweko memerintahkan
anak buahnya untuk membuka
penutup mata Ariana. Dengan
kaget bercampur takut Ariana
bertanya mengenai teman-
temannya namun dengan santai
Weweko mengatakan bahwa
Ariana akan mereka tawan
sebagai sandera, Ariana sadar
bahwa ia telah masuk ke dalam
jebakan Weweko dengan
terpisahnya ia dari temannya.
"Mau diapakan saya!" tanya
Ariana galak. Ariana berteriak
keras.Dengan senyum
menakutkan, Weweko berkata,
"Sebaiknya nona diam dan
menuruti kemauan saya...
sekarang kamu adalah milik
saya dan saya berkuasa atas
diri nona. Tidak seorangpun
mampu membebaskan nona dari
hutan papua ini.""Sudah lama
saya tidak mencicipi tubuh
wanita apalagi secantik nona...
Apakah nona mau jadi istri
saya?" kata Weweko
kemudian.Ariana bergidik ngeri.
Ia tidak bisa membayangkan
kebuasan pria Papua ini dalam
bercinta. Jika ia diperkosa
sudah pasti ia tidak dapat
melepaskan diri. Ia hanya diam
dan memandang sosok Weweko
yang tinggi, hitam, bau dan
menjijikan nalurinya. Ia
terbayang bagaimana buasnya
Weweko menggagahinya jika itu
terjadi. Ia masih ingat pesan
suaminya, namun nasi telah
menjadi bubur, ia telah jatuh ke
tangan OPM. Ariana hanya diam
duduk dalam keremangan malam
yang dingin di dalam tenda yang
hanya beralaskan bulu
hariamau. Sementara di luar
tenda ia melihat para pengawal
Weweko dan Weweko sedang
berpesta pora dengan
menikmati daging babi panggang
dan meminum arak. Mereka
bernyanyi sepuasnya. Berbeda
dengan Ariana, di dalam tenda
ia hanya diam dan merasakan
dinginnya malam di hutan Papua
yang terkenal ganas dan dingin
itu. Sesaat kemudian datanglah
Weweko membawa makanan
untuk Ariana juga minuman
untuk menghangatkan badan,
namun Ariana hanya memakan
sedikit daging ikan. Ia tidak
menyukai daging babi, ia tidak
terbiasa makan babi, namun
atas paksaan Weweko ia
akhirnya memakannya juga. Ia
juga meminum arak sedikit
supaya badannya hangat.
Sedang ia dari tadi merasakan
dinginnya hutan Papua sampai
ketulangnya dan membuat
Ariana menggigil.
Dengan mata berbinar, Weweko
mendekati Ariana dan berusaha
memegang dagunya, namun
dikibaskan oleh Ariana. Saat itu,
Weweko hanya memakai Koteka
dan muka dicat seperti pakaian
tradisional Papua, sedang di
bagian vitalnya yang panjang
hanya ditutupi penutup
seadanya, seakan ia akan
mengadakan hubungan
sexual."Jangan marah manis?"
Weweko berujar."Alangkah
asyiknya jika malam yang dingin
ini kita berbagi kehangatan dan
saling memberi kemesraan."
katanya."Cis!" Ariana
meludah."Tidak sudi aku
bermesraan dengan kamu,
biadap!" katanya.Dengan
senyum simpul sambil menjilat
ludah yang dibuang Ariana tadi,
Weweko berusaha memeluk dan
menaklukan Ariana. Bau tubuh
Weweko membuat Ariana ingin
muntah, namun ia tidak bisa
berbuat apa-apa untuk
melawan.
Di dalam tenda itu hanya ada ia
dan Weweko. Dengan paksa
Weweko membuka baju kemeja
Ariana dengan robekan di
dadanya sehingga tersembul
dada montok yang putih
tertutup BH. Ini membuat
Weweko semakin berusaha
untuk menaklukan Ariana.
Dengan tangannya Ariana
memalangkan tangannya pada
dada yang terbuka itu.
Payudara yang montok itu
tidak bisa ditutupi seluruhnya.
Sambil memegang tangan dan
memeluknya, Ariana akhirnya
menyerah dalam pelukan
Weweko. Tidak ada yang
terucap dari bibirnya, ia hanya
diam, pasrah menanti apa yang
akan terjadi. Dengan sekali
sentak Ariana ditelentangkan di
atas bulu alas tenda itu.
Kesempatan ini tidak disia-
siakan Weweko ia terus
menjelajahi dada dan bibir
Ariana dengan buas. Inchi demi
inchi tidak luput dari perhatian
Weweko ia terus memburu
setiap sudut di tubuh Ariana.
Saat itu BH Ariana telah tanggal
dari tempatnya. Dengan
tangannya, Weweko berusaha
memilin dan menggigit ujung dari
susu Ariana, membuat Ariana
hanya menutup matanya, ia
tidak sanggup melihat apa yang
dikerjakan Weweko atas
tubuhnya. Secara naluri seks,
birahinya mulai bangkit
ditambah udara malam yang
begitu dingin.
Sejurus kemudian, celana jeans
Ariana dibuka Weweko dan
terpampanglah batang paha
mulus yang di tengahnya
ditutupi segitiga pengaman
berwarna merah. Langsung saja
tangan Weweko menggusur CD
Ariana itu dan dengan jari-
jarinya yang besar dan kasar,
ia masukkan ke dalam lubang
kewanitaan Ariana. Sementara
itu mulut Weweko tidak
beranjak dari dada Ariana.
Dengan naluri binatangnya
Weweko melebarkan kaki Ariana
dan terkuaklah belahan
kewanitaan Ariana yang
ditumbuhi bulu dengan daging
kecil di belahan itu. Goa itu mulai
basah oleh tingkah laku jari
tangan Weweko, dan tidak lama
kemudian dengan lidahnya
Weweko mejilat daging kecil itu
selama 15 menit. Secara tiba-
tiba mulut Weweko disemprot
oleh air mani Ariana dan
tertelan oleh Weweko. Inilah
saat bagi pria Papua yang
ditunggu-tunggu. Apabila sampai
menelan air mani wanita maka
ia akan menambah
keperkasaannya. Dengan
merubah posisi, Weweko
membuka penutup batang
kemaluannya yang terbuat dari
tumbuhan itu maka terlihatlah
kelaminnya yang panjang dan
besar tersebut. Ia bersiap-siap
untuk memasukkan batang
kemaluannya ke dalam mulut
Ariana, namun Ariana yang
sudah orgasme harus ia
ransang dulu dengan memilin
payudara dan mengorek-
ngorek isi lubang kemaluannya
dulu.Tidak lama kemudian,
Ariana telah teransang, barulah
Weweko memasukan batang
kemaluannya ke dalam lubang
kemaluan sempit itu."Nona harus
mencoba punya saya, jangan
coba curang, ya?" kata Weweko
dengan kasar.Ariana yang
sudah tidak mengerti dengan
keadaan dirinya hanya menurut
dan seluruh batang kemaluan
Weweko telah masuk kedalam
mulutnya dan mencoca
menjilatnya dengan gerakan
maju mundur. Tidak kurang dari
14 menit, barulah Weweko
menyemprotkan maninya ke
mulut Ariana. Ariana diharuskan
menelannya karena sesuai
kepercayaan Papua, apabila
seorang wanita telah menelan
mani prianya, maka wanita itu
akan sulit melepaskan diri dari
pria Papua yang
menyenggamainya. Beberapa
saat setelah Weweko berusaha
kembali merubah arah dan
posisi mereka, yang saat itu
telah berhadap-hadapan
dengan tubuh penuh keringat,
kedua insan dua ras tersebut
berusaha menyudahi perjalanan
kenikmatan ragawinya pada
tahap akhir.
Dengan terlebih dahulu Weweko
memegang kendali, Weweko
memancing birahi Ariana. Ariana
teransang dan penetrasi tahap
akhir akan dilakukan. Dengan
menelentangkan tubuh Ariana di
atas bulu itu, kedua paha
Ariana ia buka dan di pinggulnya
Weweko meletakan buntalannya
sehingga terlihat isi kemaluan
Ariana. Kedua kaki Ariana
diangkat ke bahu Weweko yang
bidang. Saat itu batang
kemaluan Weweko tegak
menghadap ke lubang kemaluan
Ariana yang dengan supernya
ingin mengaduk-aduk isi lubang
kemaluan Ariana. Beberapa saat
kemudian, dengan sedikit paksa,
batang kemaluan Weweko
masuk sebagian ke dalam
lubang kemaluan itu. Beberapa
saat kemudian, ia tembakkan
langsung dengan ganas,
memaju-mundurkan batang
kemaluannya di dalam lubang
kemaluan itu. Ariana sempat
kesakitan dan air matanya
keluar, namun mulutnya telah
ditutupi oleh bibir Weweko.
Sementara itu tangan Weweko
memegang pantat Ariana
supaya selama ia bergerak
tidak terlepas. Ia khawatir
Ariana akan mengeluarkan
batang kemaluannya dari
lubang kemaluannya saat Ariana
kesakitan. Ariana hanya dapat
memegang tangan dan bahu
Weweko hingga berdarah
tercakar sebab Ariana amat
kesakitan akibat gerakan dan
gesekan batang kemaluan
Weweko mengaduk-aduk lubang
kemaluannya. Akhirnya Ariana
pingsan beberapa saat dan
pada saat ia mulai sadar
kembali, Weweko melakukan
aktifitasnya yang tertunda
tadi, kurang lebih 20 menit, ia
menggenjot batang
kemaluannya keluar masuk
lubang kemaluan sempit itu.
Akhirnya ia melepaskan air
maninya di dalam lubang
kemaluan Ariana sebanyak-
banyaknya. Ia tidak
memperdulikan kesakitan bagi
Ariana. Yang ada pada dirinya
adalah agar kepuasanya
terpenuhi karena ia sudah
berbulan bulan tidak merasakan
tubuh wanita.
Sampai pada pagi harinya,
Weweko terus berusaha
memuaskan nafsunya kepada
tubuh Ariana yang tidak
berdaya itu beberapa kali.
Sampai pada akhirnya, pada
saat pelariannya, Weweko selalu
mengikut-sertakan Ariana di
dalam hutan Papua itu, ia
menganggap Ariana adalah
istrinya dan Ariana harus mau
mengikuti kemauannya baik itu
dalam hubungan seksual
maupun dalam masalah
pelariannya.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net